Oleh: A. Rusdiana
Muharram merupakan momentum hijrah untuk memperbarui niat, memperbaiki diri, dan meneguhkan langkah kebaikan. Dalam dunia literasi, semangat hijrah dapat diwujudkan melalui kebiasaan menulis secara konsisten. Secara teoritis, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya rencana, melainkan oleh kemampuannya mempertahankan kebiasaan baik secara berkelanjutan. Dalam perspektif psikologi pembelajaran dan pengembangan diri, kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus akan membentuk karakter, kompetensi, dan keunggulan yang tidak dapat dicapai melalui usaha yang bersifat sesaat.
Fenomena menarik terlihat dalam perjalanan komunitas literasi PBB (Pecinta Buku dan Berbagi) yang kini didukung oleh 2.629 anggota. Komunitas ini menjadi ruang belajar bersama bagi para penulis pemula maupun penulis berpengalaman untuk terus bertumbuh melalui aktivitas membaca, menulis, dan berbagi gagasan. Pada saat yang sama, penulis sedang menapaki jenjang Penjelajah menuju Fanatik di Kompasiana. Sejak 6 Maret 2026, penulis menargetkan pencapaian status tersebut dalam waktu 400 hari dengan perolehan rata-rata 37 poin setiap hari. Target tersebut bukan sekadar angan-angan, melainkan didasarkan pada pengalaman sebelumnya ketika berhasil mengumpulkan sekitar 25.000 poin dalam 408 hari melalui konsistensi menulis dan berkarya.
Namun demikian, menjaga konsistensi bukanlah perkara mudah. Banyak orang mampu memulai aktivitas menulis dengan semangat tinggi, tetapi tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena kesibukan, kejenuhan, atau kurangnya komitmen. Akibatnya, potensi yang sebenarnya besar tidak berkembang secara optimal karena tidak ditopang oleh ketekunan yang berkelanjutan. Padahal, tidak ada maestro yang lahir secara instan. Mereka tumbuh melalui proses panjang yang dipenuhi latihan, kegagalan, evaluasi, dan perbaikan yang terus-menerus.
Tulisan ini bertujuan mengkaji bagaimana istiqamah dalam menulis dapat mengubah seorang penjelajah menjadi Fanatik literasi yang terus bertumbuh dan memberi manfaat. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan bahwa konsistensi dan istiqamah merupakan kunci utama yang mengubah penulis pemula menjadi penulis yang matang, produktif, dan berpengaruh dalam perjalanan literasi. Berikut penjelasannya:
Pertama: Istiqamah Dimulai dari Niat yang Kokoh; Setiap perjalanan besar selalu diawali oleh niat yang kuat. Dalam Islam, istiqamah merupakan kelanjutan dari hijrah, yakni kemampuan menjaga komitmen setelah memulai perubahan. Demikian pula dalam menulis. Penulis yang berhasil bukanlah yang sesekali menghasilkan karya besar, melainkan yang terus menulis meskipun sederhana. Niat yang kokoh menjadikan aktivitas menulis bukan sekadar tugas sesaat, tetapi bagian dari proses pengembangan diri yang berkelanjutan.
Kedua: Konsistensi Melahirkan Kemampuan; Kemampuan menulis tidak muncul secara instan. Ia tumbuh melalui latihan yang terus-menerus. Setiap tulisan menjadi sarana belajar memperbaiki struktur berpikir, memperkaya kosakata, dan memperdalam wawasan. Penulis yang istiqamah akan mengalami peningkatan kualitas secara bertahap. Apa yang awalnya terasa sulit akan menjadi lebih mudah karena kebiasaan yang dilakukan secara berulang akhirnya membentuk kompetensi yang kuat.
Ketiga: Ketekunan Mengubah Kegagalan Menjadi Pelajaran; Dalam perjalanan menulis, kritik, penolakan, dan kekurangan merupakan hal yang wajar. Penulis yang tidak istiqamah sering berhenti ketika menghadapi hambatan. Sebaliknya, penulis yang tekun menjadikan setiap kesalahan sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan berikutnya. Kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses pembelajaran. Ketekunan menjadikan hambatan sebagai batu pijakan menuju kematangan literasi.
Keempat: Jejak Kecil Membangun Warisan Besar; Tidak ada maestro yang lahir dalam satu malam. Mereka tumbuh dari kumpulan karya kecil yang ditulis secara konsisten selama bertahun-tahun. Setiap tulisan adalah jejak pemikiran yang kelak menjadi warisan ilmu bagi generasi berikutnya. Ketika tulisan dilakukan secara istiqamah, karya-karya tersebut akan saling terhubung membentuk kontribusi besar yang memberi manfaat luas bagi masyarakat dan dunia pendidikan.
Istiqamah merupakan buah nyata dari hijrah yang sesungguhnya. Dalam dunia literasi, istiqamah diwujudkan melalui kebiasaan menulis yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit. Konsistensi menjadikan kemampuan berkembang, ketekunan mengubah kegagalan menjadi pelajaran, dan kumpulan karya kecil membentuk warisan besar. Karena itu, keberhasilan seorang penulis tidak diukur dari seberapa cepat mencapai puncak, melainkan dari kemampuannya bertahan, bertumbuh, dan terus berkarya sepanjang hayat. Wallahu A'lam.
___________
*) Profil Penulis: Berpangkat Penjelajah di Kompasiana sejak 22 Januari 2025: