Tahukah Kamu: Makna Lambang Segitiga Biru di Atas Oranye

2026-07-30 16:56:14 | Diperbaharui: 2026-07-30 16:58:40
Tahukah Kamu: Makna Lambang Segitiga Biru di Atas Oranye
Seminar Pentahelix

Saat melihat logo BNPB maupun BPBD, kebanyakan orang mungkin hanya melihat sebuah segitiga biru di atas latar oranye. Sebagian menganggapnya sebagai simbol gunung, sebagian lagi mengira sekadar elemen desain. Padahal, simbol tersebut menyimpan sejarah panjang hukum humaniter internasional dan filosofi perlindungan masyarakat yang sangat mendalam.

Hal inilah yang menarik perhatian saya ketika mengikuti Seminar Pentahelix Penanggulangan Bencana yang diselenggarakan BPBD Kota Bekasi bersama Universitas Muhammadiyah Cileungsi. Dalam paparannya, Dr. Puji Pujiono, M.S.W., RSW., Unsur Pengarah BNPB, mengingatkan bahwa simbol tersebut bukanlah simbol gunung. Ia adalah International Civil Defence Distinctive Sign—lambang perlindungan sipil internasional.

Mungkin terdengar sederhana. Namun, memahami makna sebuah simbol dapat mengubah cara kita memandang penanggulangan bencana.

Bukan Simbol Gunung

Selama ini narasi yang berkembang di masyarakat sering mengaitkan segitiga biru dengan gunung, mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak gunung api. Interpretasi tersebut memang mudah dipahami secara visual.

Namun secara resmi, segitiga biru di atas latar oranye merupakan lambang perlindungan sipil internasional yang diatur dalam Pasal 66 Protokol Tambahan I Tahun 1977 terhadap Konvensi Jenewa 1949.

Lambang ini digunakan untuk mengidentifikasi organisasi, personel, bangunan, dan fasilitas yang menjalankan fungsi perlindungan sipil, terutama pada situasi konflik bersenjata. Tujuannya sederhana tetapi sangat mulia: masyarakat sipil harus dilindungi.

Dengan demikian, ketika BNPB mengadopsi simbol tersebut sebagai identitas kelembagaannya, yang diangkat bukan sekadar aspek kebencanaan, melainkan sebuah filosofi universal bahwa negara hadir untuk melindungi kehidupan warganya.

Dari Emergency Response Menuju Civil Protection

Pemahaman ini penting karena selama bertahun-tahun penanggulangan bencana di Indonesia sering dipersepsikan identik dengan kegiatan tanggap darurat: evakuasi, distribusi logistik, dan bantuan kemanusiaan.

Padahal paradigma modern jauh lebih luas.

Civil protection berarti melindungi masyarakat sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. Di dalamnya terdapat mitigasi, pendidikan kebencanaan, pengurangan risiko, penguatan kapasitas masyarakat, tata ruang yang aman, hingga pemulihan yang lebih baik (build back better).

Artinya, simbol segitiga biru bukan berbicara tentang bencana semata. Ia berbicara tentang perlindungan kehidupan.

Narasumber

Sebuah Filosofi Kolaborasi

Seminar yang mengangkat tema Pentahelix Penanggulangan Bencana juga menunjukkan bahwa perlindungan masyarakat bukanlah tugas satu lembaga.

Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri.

Perguruan tinggi menghasilkan ilmu pengetahuan dan inovasi. Dunia usaha memiliki sumber daya. Media membangun kesadaran publik. Komunitas menjadi aktor pertama di lapangan. Masyarakat sendiri adalah subjek utama yang harus memiliki kapasitas menghadapi risiko.

Inilah esensi pentahelix.

Jika segitiga biru melambangkan perlindungan sipil, maka pentahelix adalah cara mewujudkan perlindungan tersebut dalam praktik.

Mengubah Cara Pandang

Mengetahui sejarah di balik sebuah logo mungkin tampak sebagai pengetahuan kecil. Namun justru dari simbol-simbol seperti inilah budaya organisasi dibangun.

Logo BNPB bukan hanya identitas visual.

Ia adalah pengingat bahwa tujuan akhir penanggulangan bencana bukan sekadar mengurangi jumlah korban, melainkan menjaga martabat manusia.

Dalam dunia yang semakin rentan terhadap bencana akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan berbagai ancaman nonalam, filosofi perlindungan sipil menjadi semakin relevan. Penanggulangan bencana tidak lagi cukup dipahami sebagai urusan reaksi ketika musibah datang, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk melindungi kehidupan.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar