Banyak orang tua berpikir bahwa anak belum tentu memahami apa yang terjadi di rumah.
Padahal anak sering mengerti lebih banyak daripada yang kita kira.
Mereka mungkin tidak memahami seluruh isi pertengkaran. Tidak tahu persoalan ekonomi, tekanan pekerjaan, atau konflik orang dewasa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi anak bisa merasakan suasana.
Nada suara yang meninggi.
Wajah yang berubah tegang.
Pintu yang dibanting.
Diam yang terasa dingin.
Tangisan yang disembunyikan.
Dan semua itu diam-diam tersimpan dalam ingatan mereka.
Anak belajar tentang hidup bukan hanya dari nasihat yang didengar, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari di rumah.
Mereka belajar bagaimana cara berbicara dari cara orang tua berbicara.
Belajar tentang emosi dari cara orang dewasa mengelola kemarahan.
Belajar tentang kasih sayang dari bagaimana ayah dan ibu saling memperlakukan.
Karena itu, cara orang tua bertengkar sebenarnya juga sedang membentuk kesehatan mental anak.
“Kadang yang paling melukai anak bukan suara pertengkarannya, tetapi rasa tidak aman yang tinggal terlalu lama di dalam rumah.”
Tidak semua pertengkaran orang tua otomatis merusak anak.
Konflik adalah bagian normal dalam hubungan manusia.
Namun yang sering meninggalkan luka adalah ketika pertengkaran berubah menjadi teriakan, hinaan, ancaman, atau suasana rumah yang penuh ketegangan tanpa penyelesaian yang sehat.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu sering menjadi lebih mudah cemas.
Ada yang tumbuh terlalu pendiam.
Ada yang sulit mengekspresikan emosi.
Ada pula yang merasa harus selalu berhati-hati agar tidak membuat keadaan rumah semakin buruk.
Ironisnya, banyak orang dewasa baru menyadari dampaknya setelah anak mulai berubah:
mudah marah,
lebih tertutup,
sulit percaya diri,
atau kehilangan rasa aman di rumahnya sendiri.
Padahal rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi seorang anak untuk pulang.
Bukan tempat yang membuatnya merasa takut.
Masalahnya, banyak orang tua sebenarnya juga sedang lelah.
Tekanan ekonomi.
Masalah pekerjaan.
Kelelahan mental.
Semua bercampur menjadi emosi yang kadang sulit dikendalikan.
Namun anak tetap tidak seharusnya menjadi tempat pelampiasan luka orang dewasa.
Karena anak belum memiliki kemampuan emosional yang cukup untuk memahami semua itu.
Yang mereka tahu hanyalah:
rumah terasa aman atau tidak.
Mereka dicintai atau tidak.
Dan perasaan itu akan memengaruhi cara mereka tumbuh hingga dewasa.
Karena itu, menjaga kesehatan mental anak tidak selalu dimulai dari sekolah mahal atau fasilitas terbaik.
Kadang dimulai dari hal sederhana:
cara berbicara di rumah,
cara meminta maaf,
cara menyelesaikan konflik,
dan kemampuan orang tua untuk tetap saling menghormati meski sedang berbeda pendapat.
Anak tidak membutuhkan keluarga yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan rumah yang tetap membuat mereka merasa aman dan dicintai.
Jika memang harus bertengkar, anak juga perlu melihat bahwa konflik bisa diselesaikan tanpa saling melukai.
Bahwa marah tidak harus merendahkan.
Bahwa berbeda pendapat tidak harus menghancurkan hubungan.
Sebab suatu hari nanti, anak akan membawa cara itu ke kehidupannya sendiri.
Ke pertemanan.
Ke pasangan hidup.
Ke cara mereka membesarkan anak-anaknya kelak.
Mungkin hari ini kita perlu kembali bertanya:
Selama ini, apa yang sebenarnya sedang dipelajari anak-anak dari suasana rumah yang mereka lihat setiap hari?
Karena pada akhirnya, anak tidak hanya tumbuh dari makanan dan pendidikan.
Mereka juga tumbuh dari rasa aman yang diberikan keluarganya.
Kat@Bubid