Banyak Orang Tua Sibuk Menyekolahkan Anak, tetapi Lupa Menghadirkan Diri

2026-05-26 11:50:33 | Diperbaharui: 2026-05-26 11:50:33
Banyak Orang Tua Sibuk Menyekolahkan Anak, tetapi Lupa Menghadirkan Diri
Visual infografis dibuat dengan bantuan AI, disusun dan diolah oleh Bubid.

Banyak orang tua hari ini bekerja sangat keras demi pendidikan anak.

Mencari sekolah terbaik. Membayar kursus tambahan. Membelikan buku, gadget belajar, bahkan memastikan anak memiliki nilai yang baik agar masa depannya lebih terjamin.

Semua dilakukan karena cinta.

Namun di tengah semua usaha itu, ada satu hal penting yang kadang perlahan hilang:

kehadiran orang tua itu sendiri.

Anak akhirnya tumbuh dengan jadwal yang penuh, tetapi hati yang sering kosong.

Pagi berangkat sekolah. Siang les. Malam mengerjakan tugas. Orang tua sibuk bekerja. Ketika bertemu di rumah, percakapan sering hanya sebatas:

“PR sudah selesai?”
“Nilainya bagaimana?”
“Besok jangan lupa ujian.”

Padahal anak tidak hanya membutuhkan pendidikan akademik.

Mereka juga membutuhkan hubungan emosional dengan orang tuanya.

Ada anak yang sekolahnya mahal, tetapi jarang diajak bicara dari hati ke hati. Ada yang prestasinya bagus, tetapi tumbuh merasa kesepian. Ada pula yang setiap hari bersama gadget karena tidak tahu lagi bagaimana cara mencari perhatian orang tuanya.

Ironisnya, banyak orang tua baru menyadari jarak itu ketika anak mulai sulit diajak bicara.

Kadang anak tidak terlalu membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya ingin orang tuanya benar-benar hadir.

Hari ini banyak keluarga hidup sangat sibuk.

Orang tua bekerja demi masa depan anak. Anak belajar demi masa depannya sendiri. Tetapi tanpa sadar, semua terlalu sibuk mempersiapkan masa depan sampai lupa menikmati kebersamaan hari ini.

Padahal masa kecil tidak bisa diulang.

Ada masa ketika anak masih ingin ditemani bermain.
Masih ingin bercerita panjang.
Masih ingin dipeluk tanpa alasan.

Namun waktu itu berjalan sangat cepat.

Dan ketika anak mulai tumbuh dewasa, yang paling sering mereka ingat bukan berapa mahal sekolahnya, tetapi apakah mereka pernah merasa benar-benar didengar dan dicintai di rumahnya sendiri.

Kehadiran orang tua sebenarnya tidak selalu harus mewah.

Kadang cukup:

makan bersama tanpa sibuk dengan ponsel,
mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi,
menemani belajar dengan sabar,
atau meluangkan waktu beberapa menit untuk benar-benar hadir sepenuhnya.

Hal-hal sederhana seperti itu justru membangun rasa aman dalam diri anak.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kedekatan emosional dengan orang tua sangat memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, kemampuan sosial, bahkan cara anak menghadapi tekanan hidup ketika dewasa nanti.

Karena itu, mendidik anak bukan hanya soal sekolah dan nilai.

Anak juga belajar dari cara orang tua hadir dalam hidup mereka.

Mereka belajar tentang kasih sayang dari perhatian kecil.
Belajar tentang empati dari cara didengarkan.
Belajar tentang ketenangan dari rumah yang membuat mereka merasa aman.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan kompetitif, mungkin kita perlu mulai bertanya:

Apakah selama ini kita hanya sibuk menyiapkan masa depan anak, tetapi lupa hadir dalam masa kecilnya?

Karena pada akhirnya, anak mungkin bisa lupa isi pelajaran sekolahnya.

Tetapi mereka akan sangat mengingat bagaimana rasanya tumbuh bersama orang tua yang benar-benar hadir.

Bagaimana menurut Anda?
Apakah anak-anak hari ini mulai kehilangan kedekatan emosional dengan orang tuanya karena kesibukan hidup modern?

Kat@Bubid

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar