Mitos dan Fakta Seputar Kehamilan yang Masih Dipercaya

2026-06-29 10:38:44 | Diperbaharui: 2026-06-29 10:38:44
Mitos dan Fakta Seputar Kehamilan yang Masih Dipercaya
Infografis AI/Bubid

Ketika seorang perempuan hamil, nasihat biasanya datang dari berbagai arah.

Dari orang tua.

Tetangga.

Kerabat.

Teman.

Bahkan dari orang yang baru sekali bertemu.

Sebagian nasihat memang bermanfaat.

Namun tidak sedikit yang sebenarnya hanya mitos yang diwariskan turun-temurun tanpa dasar ilmiah yang jelas.

Masalahnya, banyak mitos kehamilan masih dipercaya hingga saat ini.

Padahal beberapa di antaranya justru dapat membuat ibu hamil merasa cemas atau mengambil keputusan yang kurang tepat.

Karena itu, penting bagi ibu hamil untuk memahami mana yang fakta dan mana yang sekadar kepercayaan yang berkembang di masyarakat.

Mitos 1: Ibu Hamil Harus Makan untuk Dua Orang

Ini mungkin salah satu mitos yang paling populer.

Karena sedang mengandung, ibu sering didorong untuk makan sebanyak mungkin.

Faktanya, ibu hamil memang membutuhkan tambahan energi dan nutrisi.

Namun bukan berarti harus makan dua kali lipat.

Yang lebih penting adalah kualitas makanan, bukan jumlahnya.

Tubuh membutuhkan protein, zat besi, asam folat, kalsium, buah, sayur, dan nutrisi seimbang untuk mendukung pertumbuhan janin.

"Saat hamil, yang dibutuhkan bukan makan dua kali lebih banyak, tetapi makan dua kali lebih berkualitas."

Mitos 2: Bentuk Perut Menentukan Jenis Kelamin Bayi

Masih banyak yang percaya bahwa perut yang runcing menandakan bayi laki-laki, sedangkan perut yang melebar menandakan bayi perempuan.

Faktanya, bentuk perut lebih dipengaruhi oleh:

  • Bentuk tubuh ibu
  • Posisi janin
  • Kekuatan otot perut
  • Usia kehamilan
  • Jumlah kehamilan sebelumnya

Jenis kelamin bayi tidak dapat dipastikan hanya dari bentuk perut.

Mitos 3: Ibu Hamil Tidak Boleh Berolahraga

Sebagian ibu takut bergerak terlalu banyak karena khawatir mengganggu kehamilan.

Padahal pada kehamilan normal, aktivitas fisik yang sesuai justru dianjurkan.

Olahraga ringan dapat membantu:

  • Mengurangi nyeri punggung
  • Menjaga berat badan ideal
  • Memperbaiki kualitas tidur
  • Mengurangi stres
  • Mempersiapkan tubuh menghadapi persalinan

Tentu jenis dan intensitas olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi kehamilan masing-masing.

Mitos 4: Minum Es Membuat Bayi Besar

Banyak ibu hamil menghindari es karena takut bayinya menjadi terlalu besar.

Faktanya, es hanyalah air dalam bentuk beku.

Yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan berlebih adalah kandungan gula berlebihan pada minuman manis, bukan esnya.

Jadi yang perlu diperhatikan adalah kandungan minuman tersebut, bukan suhu minumannya.

Mitos 5: Tidak Boleh Makan Ikan Saat Hamil

Ada anggapan bahwa ikan dapat menyebabkan alergi atau masalah tertentu pada janin.

Faktanya, ikan justru merupakan sumber protein dan omega-3 yang sangat baik untuk perkembangan otak janin.

Yang perlu diperhatikan adalah memilih ikan yang aman dan diolah dengan baik.

Mitos 6: Heartburn Berarti Bayi Berambut Lebat

Keluhan panas di dada (heartburn) sering dikaitkan dengan banyaknya rambut bayi.

Faktanya, heartburn terjadi karena perubahan hormon dan tekanan rahim yang membesar terhadap lambung.

Meski beberapa penelitian menemukan hubungan tertentu, heartburn bukan cara yang akurat untuk memprediksi rambut bayi.

Mitos 7: Ibu Hamil Tidak Boleh Naik Tangga

Banyak ibu hamil langsung dilarang naik tangga.

Padahal pada kehamilan normal, naik tangga masih aman dilakukan dengan hati-hati.

Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan tubuh dan kondisi kesehatan ibu.

Jika terdapat risiko tertentu seperti perdarahan, ancaman persalinan prematur, atau kondisi medis lain, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan.

Mitos 8: Mual Hanya Terjadi di Pagi Hari

Istilah morning sickness membuat banyak orang berpikir mual hanya muncul saat pagi.

Faktanya, mual pada kehamilan dapat terjadi kapan saja.

Pagi.

Siang.

Sore.

Bahkan malam hari.

Karena penyebab utamanya adalah perubahan hormon, bukan waktu tertentu.

Mengapa Mitos Kehamilan Mudah Bertahan?

Sebagian mitos muncul dari pengalaman yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada yang tidak berbahaya.

Ada pula yang sebenarnya mengandung pesan kehati-hatian.

Namun ketika informasi kesehatan semakin berkembang, penting bagi kita untuk memeriksa kembali apakah suatu kepercayaan masih relevan atau tidak.

Karena keputusan selama kehamilan sebaiknya didasarkan pada informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bijak Menyaring Informasi

Kehamilan sering menjadi masa yang penuh nasihat.

Sebagian membantu.

Sebagian membingungkan.

Karena itu, ibu hamil perlu belajar menjadi penyaring informasi yang baik.

Tidak semua yang sering diucapkan orang sekitar otomatis benar.

Dan tidak semua yang terdengar meyakinkan memiliki dasar ilmiah.

Jika ragu, jangan sungkan bertanya kepada bidan, dokter, atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Karena pada akhirnya, kehamilan yang sehat bukan dibangun oleh mitos.

Melainkan oleh pengetahuan yang tepat, pemeriksaan yang rutin, dan keputusan yang berdasarkan fakta.

Sebab setiap ibu berhak menjalani kehamilan dengan tenang, tanpa dibebani ketakutan yang sebenarnya tidak perlu.

Kat@Bubid

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar