Bulan ini bukan hanya piala dunia saja yang digelar. Pulpen Kompasiana juga siap mengadakan agenda besarnya yaitu Pesta Pena. Pesta Pena (Perjamuan Sastra Cerpen Kompasiana) resmi telah dimulai Jumat, 12 Juni kemarin. Beberapa hari dibuka saja, kolom pendaftaran diserbu peserta. Saat tulisan ini dibuat, tercatat sudah 291 peserta yang mendaftar. Jika merunut pada Pesta Pena tahun lalu, ada 600-an yang terdaftar sebagai peserta. Mungkin bisa dibilang jumlah peserta paling banyak selama ada event di Kompasiana nggak, sih?
Untuk lebih terarahnya dan menjawab pertanyaan dari peserta yang ingin dan sudah mendaftar, Pulpen memberikan ruang dengan mengadakan zoominar pengarahan lomba Pesta Pena. Pembicaranya siapa saja? Tentu saja ada Bang Horas sebagai pendiri Pulpen, Bang Iqbal (Best in Fiction, Kompasiana Awards 2025), Mas Dali Budaya (Juara I Pesta Pena 2025), dan Mbak Tia Sulaksono (Cerpenis Terbaik Pulpen Kompasiana 2025). Empat orang ini yang akan menjadi juri lomba Pesta Pena 2026.
Bang Horas menjelaskan seputar penjurian dan teknis pelaksanaan Pesta Pena dan membahas tentang cerpen itu sendiri. Cerita pendek adalah penulisan kreatif. Setiap cerpenis boleh saja mengikuti cara penulisan cerpen favoritnya atau siapa pun cerpenis lain ataupun menggabungkannya dengan gaya penulisan cerpenis lain. Hal ini diperbolehkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan.
Ada satu hal yang ditekankan sekali oleh Bang Horas terhadap cerpen yang akan dikirim oleh peserta. Hal itu adalah yaitu jangan sampai cerpen yang dibuat memberikan ceramah/khotbah kepada peserta. Biarkan saja pembaca yang mengambil hikmah atau kenikmatan sendiri dari cerpen yang dibuat.
Struktur cerpen:
. pengenalan situasi cerita;
. pengungkapan peristiwa;
. menuju pada adanya konflik;
. puncak konflik; dan
. penyelesaian.
Mas Dali budaya membahas seputar tip menulis cerpen dan rumus sederhana menulis. Mas Dali ini merupakan seorang pelajar yang duduk di kelas XII. Jangan salah, pada usia yang masih semuda ini, Mas Dali sudah banyak memenangkan lomba penulisan cerpen terutama lomba-lomba yang diadakan oleh Pulpen Kompasiana.
Dimulai dari belajar dari tahun 2022 ketika kelas 9 sekolah menengah pertama, Mas Dali mendapat tugas dari Bu Nana untuk menulis cerpen. Mas Dali menulis sepenuh hati walaupun tanda baca dan penulisannya masih belum sempurna. Tapi Bu Nana malah memberikan semangat kepada Mas Dali kalau Bu Nana yakin, suatu hari Dali akan menjadi pengarang. Itu menjadi pecutan bagi Dali.
Tahun 2023, Mas Dali mulai membaca buku Eka Kurniawan untuk pertama kali (pada saat itu usianya baru 17 tahun), belum masuk kriteria bagi pembaca buku Eka Kurniawan. Itu menjadi mind blowing bagi dirinya, tapi itu juga yang mengubah cara pandang Mas Dali tentang karya. Mas Dali juga akhirnya membaca buku penulis hebat lainnya.
Rumus 3M
Membaca yaitu untuk memperkaya diri. Dengan membaca, kita bisa memperkaya isi kepala dengan hal baru, terlepas yang dibaca itu berguna atau tidak.
Mengamati untuk memahami. Ketika kita membaca, kita bukan hanya sebagai pengamat, tapi juga penikmat. Ini akan mengasah kita untuk melahirkan tulisan dan cerpen.
Menerapkan agar menjadi berkembang. Mau sebanyak apa pun bacaan yang kita nikmati dan sebanyak apa pun yang diamati, akan menjadi sia-sia jika tidak dituliskan.
Mas Dali menjelaskan bahwa cerpennya yang menang Pesta Pena tahun lalu yaitu Pesta Pena tahun 2025, berasal dan terinspirasi dari cerpenis Seno Gumira Ajidarma, yaitu cerpen Macan.
Dengan diadakannya zoominar tentang Pesta Pena 2026 ini, diharapkan peserta tidak lagi tersesat dan hanya fokus kepada cerpen yang akan diikutkan saja di Kompasiana. Rekaman zoominar juga bisa dilihat tayangan ulangnya di Youtube Pulpen Kompasiana
Jadi, jangan hanya menjagokan siapa yang menang piala dunia saja, ya. Yuk, jadi pemenang Lomba Pesta Pena 2026 seperti Mas Dali Budaya. Selamat berlomba!
Salam.