Oleh: A. Rusdiana
PBB Ke-221 | Didukung oleh 2.672 Anggota
Perubahan wajah Kompasiana tidak hanya terlihat pada tampilan halaman, tetapi juga terasa pada ruang kerja penulis. Salah satu perubahan penting terdapat pada dashboard menulis. Kompasiana menghadirkan ceklis kelengkapan konten serta rekomendasi tag atau label yang dapat membantu penulis mempersiapkan artikel sebelum ditayangkan. Bagi pengguna yang telah lama terbiasa dengan sistem sebelumnya, perubahan tersebut tentu membutuhkan proses pengenalan kembali. Kebiasaan yang telah terbentuk bertahun-tahun harus berhadapan dengan tata letak, alur, dan pengalaman penggunaan yang berbeda.
Menariknya, perubahan teknologi ternyata tidak berdiri sendiri. Di tengah proses saya mengenali wajah baru Kompasiana, muncul sebuah percakapan sederhana yang justru mengingatkan pada persoalan lain dalam dunia menulis: bagaimana menjaga semangat untuk tetap produktif ketika rasa malas datang? Pada 9 Agustus 2026 pukul 10.42 WIB, Teh Dewi K. Mus menyampaikan curhat melalui WhatsApp: “Guru Prof. Punten, teras produktif teu aya malasna nyerat.” Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan: “Abdi malas wae nyeratna, rahasiahna naon?” Kurang lebih maknanya: “Prof., kok terus produktif, seperti tidak pernah malas menulis. Saya malah sering malas menulis, apa rahasianya?”
Curhatan sederhana tersebut menarik untuk ditempatkan sebagai sebuah fenomena literasi. Persoalan seorang penulis ternyata bukan hanya apakah ia mampu menggunakan teknologi, melainkan juga apakah ia mampu menjaga kemauan untuk terus belajar dan berkarya. Dashboard boleh berubah, menu boleh berpindah, bahkan alur publikasi mungkin terasa asing. Namun, tantangan yang sesungguhnya berada pada diri penulis: mau berhenti karena perubahan, atau menjadikan perubahan sebagai kesempatan untuk belajar kembali?
Saya pun tidak merasa bahwa produktivitas berarti seseorang sama sekali tidak pernah mengalami rasa malas. Rasa jenuh, bingung, atau kehilangan momentum merupakan pengalaman yang manusiawi dalam proses menulis. Yang perlu dibangun adalah kebiasaan untuk tidak membiarkan rasa malas menentukan berhentinya sebuah karya. Salah satu caranya justru dengan terus mencoba: membuka dashboard, mengenali menu, menulis beberapa paragraf, memperbaiki naskah, lalu belajar dari pengalaman publikasi berikutnya. Produktivitas pada akhirnya bukan sekadar persoalan inspirasi, tetapi juga tentang kebiasaan, disiplin, dan kemauan beradaptasi.
Di sinilah persoalan adaptasi menjadi penting. Menu yang sebelumnya mudah ditemukan belum tentu berada pada posisi yang sama. Alur yang dahulu dikerjakan secara spontan mungkin sekarang membutuhkan beberapa langkah berbeda. Ketika suatu fungsi belum terlihat, penulis tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa fitur tersebut telah dihilangkan. Terlebih, sebuah platform digital dapat terus mengalami penyempurnaan dan penambahan fitur berdasarkan perkembangan kebutuhan penggunanya.
Sikap adaptif mengajarkan kita untuk tidak langsung menolak sesuatu hanya karena belum terbiasa. Everett M. Rogers melalui teori Diffusion of Innovations menjelaskan bahwa penerimaan terhadap suatu inovasi berlangsung melalui proses pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, hingga konfirmasi. Dalam konteks sederhana, seorang pengguna perlu terlebih dahulu mengenali perubahan sebelum menentukan penilaiannya terhadap perubahan tersebut.
Hal serupa dapat dibaca melalui Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan Fred D. Davis. Penerimaan seseorang terhadap teknologi antara lain dipengaruhi oleh persepsi mengenai kemanfaatan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use). Karena itu, dashboard baru tidak cukup dinilai hanya dari kesan pertama. Penulis perlu menggunakannya, mencoba berbagai fungsi, mengenali manfaatnya, dan membangun kebiasaan baru sebelum menyimpulkan apakah perubahan tersebut benar-benar membantu proses menulis.
Bagi saya, proses tersebut merupakan bagian dari perjalanan literasi digital. Penulis bukan hanya orang yang menghasilkan tulisan, melainkan juga seorang pembelajar. Ketika medium berubah, ia belajar. Ketika fitur berpindah, ia mencari. Ketika mengalami kesulitan, ia mencoba kembali. Bahkan ketika muncul rasa malas sebagaimana curhatan Teh Dewi K. Mus, jawabannya bukan menunggu datangnya inspirasi sempurna, melainkan memulai kembali dari langkah kecil yang dapat dilakukan hari ini.
Tulisan PBB Ke-221 ini melanjutkan refleksi sebelumnya mengenai perubahan sebagai bagian dari perkembangan. Jika pada PBB Ke-220 perubahan wajah Kompasiana ditempatkan sebagai momentum untuk memahami pentingnya bertumbuh bersama perubahan, kali ini perhatian diarahkan lebih khusus pada ruang kerja penulis: bagaimana mengenali dashboard baru dengan sikap adaptif tanpa kehilangan semangat berkarya? Dari proses tersebut, setidaknya ditemukan empat pembelajaran yang perlu dimaknai bersama:
Pertama, menjelajah sebelum menilai.; Perubahan perlu dikenali terlebih dahulu sebelum disimpulkan baik atau buruk. Penulis perlu memberi ruang kepada dirinya untuk mengeksplorasi menu, fungsi, dan alur kerja baru.
Kedua, belajar melalui praktik.; Dashboard baru akan lebih mudah dipahami melalui pengalaman langsung. Membuka, mencoba, keliru, memperbaiki, dan mencoba kembali merupakan bagian dari proses belajar digital.
Ketiga, memanfaatkan fitur sebagai alat bantu kualitas; Ceklis kelengkapan konten, rekomendasi tag, maupun fasilitas lain sebaiknya tidak sekadar dipandang sebagai tambahan teknis, tetapi dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan kesiapan dan kualitas artikel sebelum dipublikasikan.
Keempat, memberikan masukan secara konstruktif.; Sikap adaptif bukan berarti menerima seluruh perubahan tanpa kritik. Pengguna tetap dapat menyampaikan pengalaman, kesulitan, dan saran perbaikan secara objektif agar perkembangan platform semakin sesuai dengan kebutuhan komunitas penulis.
Empat pembelajaran tersebut membawa pada satu pemahaman bahwa adaptasi dan produktivitas sebenarnya berjalan beriringan. Penulis yang bersedia belajar akan lebih mudah menghadapi perubahan; sementara penulis yang terus berlatih akan semakin terbiasa menemukan jalan baru untuk berkarya.
Maka, pertanyaan Teh Dewi K. Mus tentang “rahasiahna naon?” memperoleh jawabannya dalam pengalaman sederhana ini: rahasianya bukan tidak pernah malas, melainkan tidak menjadikan rasa malas sebagai alasan untuk berhenti. Ketika dashboard berubah, kita belajar mengenalinya. Ketika cara lama tidak lagi sepenuhnya sesuai, kita mencari cara baru. Dan ketika semangat menurun, kita kembali mengingat tujuan awal menulis: belajar, berbagi, dan menebarkan manfaat. Sebab, wajah platform boleh berubah dan dashboard boleh diperbarui, tetapi semangat literasi harus tetap menemukan jalannya. Wallahu A’lam.