“Anak-anak belum tentu kehilangan minat membaca dan menulis. Bisa jadi, kita hanya belum menemukan cara yang tepat untuk mengajak mereka mencintai dunia literasi.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu gagasan yang dibawa oleh Ririe Aiko selaku founder Gerakan Literasi AI dalam memperkenalkan literasi kepada pelajar. Salah satunya melalui kegiatan bersama pelajar SMPN 1 Salaman, sebuah sekolah di Kabupaten Magelang, yang berada di kawasan lereng Bukit Menoreh.
Sekolah tersebut memiliki perhatian terhadap pengembangan budaya literasi di kalangan pelajarnya. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, upaya mengenalkan membaca dan menulis pun membutuhkan pendekatan yang lebih relevan dengan keseharian mereka.
Pelajar SMP saat ini tumbuh bersama gawai, video pendek, media sosial, gim, dan berbagai bentuk hiburan digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi dalam hitungan detik. Sementara itu, membaca buku dan menulis membutuhkan waktu, fokus, serta kesediaan untuk menjalani sebuah proses.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan literasi.
Gerakan Literasi AI mencoba memperkenalkan literasi melalui pendekatan yang lebih dekat dengan dunia pelajar. Salah satunya dengan menjadikan tulisan fiksi sebagai pintu masuk untuk mengenal membaca dan menulis.
Fiksi sebagai Pintu Masuk Literasi
Bagi pelajar SMP, dunia fiksi cukup dekat dengan kehidupan mereka. Pengalaman sehari-hari, persahabatan, konflik dengan teman, hubungan dengan keluarga, kegelisahan, hingga berbagai peristiwa sederhana dapat menjadi bahan untuk membangun sebuah cerita.
Karena itu, proses belajar tidak langsung diarahkan pada tuntutan untuk menghasilkan cerpen yang sempurna. Pelajar terlebih dahulu diajak menemukan cerita dari pengalaman, imajinasi, dan gagasan yang mereka miliki.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan menulis tidak sekadar menjadi tugas, tetapi menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenali bahwa apa yang mereka pikirkan dan rasakan dapat diolah menjadi sebuah cerita.
Dalam proses tersebut, kecerdasan buatan atau AI diperkenalkan sebagai salah satu alat bantu kreatif.
AI digunakan bukan untuk menggantikan proses berpikir pelajar, melainkan sebagai partner brainstorming. Teknologi ini dapat membantu mengembangkan karakter, mengeksplorasi kemungkinan alur, mencari alternatif pengembangan cerita, hingga melihat sebuah gagasan dari sudut pandang yang berbeda.
Pelajar tetap diminta memulai dari gagasan mereka sendiri. Mereka dapat menentukan tokoh, pengalaman, persoalan, maupun pesan yang ingin disampaikan. Setelah itu, AI digunakan untuk membantu mengembangkan kemungkinan dari ide tersebut.
Prinsip yang ditekankan adalah ide utama tetap berasal dari manusia.
AI dapat membantu menghasilkan berbagai kemungkinan, tetapi pelajar tetap perlu berpikir, memilih, mempertanyakan, dan menentukan arah cerita. Dengan demikian, penggunaan teknologi tidak berhenti pada aktivitas menghasilkan tulisan secara instan.
Literasi Tidak Berhenti Saat AI Menghasilkan Tulisan
Perkembangan AI membuat proses menghasilkan sebuah tulisan menjadi jauh lebih cepat. Namun, kecepatan tersebut tidak seharusnya membuat proses belajar berhenti.
Literasi tetap membutuhkan kemampuan untuk mengamati, mempertanyakan, mengolah informasi, menyusun gagasan, serta memeriksa kevalidan sebuah tulisan.
Karena itu, setelah cerita dikembangkan dengan bantuan AI, masih ada tahapan penting yang perlu dilakukan, yaitu editing.
Pelajar diajak membaca kembali tulisan yang dihasilkan, memilih bagian yang sesuai dengan gagasan mereka, memperbaiki kalimat yang terasa kaku, menambahkan pengalaman dan emosi pribadi, serta memastikan pesan yang ingin disampaikan benar-benar terasa.
Tahap tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran literasi berbasis AI. Teknologi dapat membantu mempercepat proses, tetapi manusia tetap memiliki peran dalam menentukan apakah sebuah tulisan benar-benar mewakili gagasan dan pengalaman penulisnya.
Sebab, tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang tertata secara bahasa. Di dalamnya terdapat pengalaman, emosi, sudut pandang, dan kejujuran penulis. Unsur-unsur tersebut membuat sebuah cerita memiliki karakter dan terasa hidup.
Belajar Berdampingan dengan AI
Kegiatan bersama pelajar di kawasan lereng Menoreh menjadi salah satu langkah kecil dalam upaya Gerakan Literasi AI memperkenalkan budaya literasi yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Tujuannya bukan sekadar menghasilkan penulis baru dalam waktu singkat. Lebih dari itu, pelajar diajak mengenali proses menemukan ide, mengembangkan gagasan, menggunakan teknologi secara bijak, serta tetap mempertahankan kemampuan berpikir kritis.
Budaya literasi memang tidak selalu tumbuh melalui langkah besar.
Satu anak menemukan keberanian untuk menulis. Satu anak berani menceritakan pengalamannya. Satu anak mulai menyadari bahwa imajinasinya dapat menjadi sebuah cerita.
Dari langkah-langkah kecil tersebut, kecintaan terhadap literasi dapat mulai tumbuh.
Memperkenalkan literasi kepada pelajar di tengah perkembangan AI bukan berarti membawa mereka kembali ke masa ketika teknologi belum ada. Justru, tantangannya adalah bagaimana membantu generasi muda hidup berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir, berimajinasi, dan berkarya sebagai manusia.