Oleh: A. Rusdiana
Pena Berkarya Bersama (PBB) Ke-231-Bersama 2.682 Anggota
Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis dapat menjadi jalan membaca perubahan, menyampaikan gagasan, sekaligus mengajak orang lain bergerak. Kehadiran Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 memberi momentum bagi tenaga kependidikan untuk melihat kembali cara bekerja dan melayani. Standar boleh berubah melalui regulasi, tetapi perubahan sesungguhnya terjadi ketika manusia yang menjalankannya bersedia belajar dan berbenah. Karena itu, melalui Pena Berkarya Bersama (PBB) Ke-231, yang kini didukung 2.682 anggota, tulisan ini membawa satu pesan sederhana: perubahan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Ia dapat dimulai dari membaca, menulis, berbagi gagasan, lalu mengubah gagasan menjadi tindakan.
Pertama: Menulis untuk Membaca Perubahan; Setiap kebijakan pendidikan membawa pesan yang perlu dibaca secara kritis dan produktif. Permendikdasmen 23/2026 dapat menjadi momentum untuk melihat bahwa tenaga kependidikan bukan sekadar pelengkap sekolah. Mereka ikut menentukan bagaimana pelayanan pendidikan berlangsung.
Menulis membantu kita berhenti sejenak dari rutinitas, kemudian bertanya: apa yang sedang berubah, dan apa yang perlu kita ubah? Dari pertanyaan itulah refleksi profesional dimulai.
Tulisan bukan pengganti tindakan. Namun, tulisan dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya kesadaran sebelum tindakan dilakukan.
Kedua: Menulis untuk Menumbuhkan Budaya Belajar; Sekolah yang ingin maju membutuhkan manusia yang tidak berhenti belajar. Kepala sekolah, tenaga administrasi, operator, pustakawan, laboran, guru, dan unsur lainnya menghadapi perubahan teknologi, data, kebutuhan peserta didik, serta tuntutan pelayanan yang terus berkembang.
Karena itu, budaya belajar tidak cukup dibangun melalui pelatihan formal. Membaca pengalaman, menuliskan praktik baik, mendokumentasikan masalah, dan membagikan solusi juga merupakan proses belajar.
Di sinilah menulis menemukan fungsi profesionalnya: pengetahuan yang semula tersimpan sebagai pengalaman pribadi berubah menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari bersama.
Ketiga: Menulis untuk Menghidupkan Kolaborasi; Pendidikan tidak dibangun oleh satu profesi. Sekolah bermutu lahir dari orang-orang yang berbeda tugas tetapi bersedia bergerak menuju tujuan yang sama.
Tulisan dapat mempertemukan pengalaman mereka. Operator dapat berbagi praktik pengelolaan data. Pustakawan menulis inovasi literasi. Tenaga administrasi membagikan pengalaman pelayanan. Kepala sekolah menuliskan praktik kepemimpinan. Guru berbagi pengalaman pembelajaran.
Ketika pengalaman itu dipublikasikan, lahirlah ruang saling belajar, saling menguatkan, dan saling menginspirasi. PBB dengan 2.682 anggotanya mempunyai modal sosial besar untuk menghidupkan ekosistem berbagi tersebut.
Keempat: Menulis untuk Menggerakkan Budaya Mutu; Permendikdasmen 23/2026 seharusnya menjadi momentum membangun budaya baru: budaya belajar, melayani, berkolaborasi, berbasis data, digital, dan terutama budaya mutu.
Namun budaya tidak lahir hanya karena regulasi diterbitkan. Budaya tumbuh melalui pembiasaan. Di sinilah tulisan dapat mengambil peran: mendokumentasikan yang sudah baik, mengkritisi yang perlu diperbaiki, menawarkan gagasan, dan menyebarkan praktik yang dapat ditiru.
Maka, menulis perubahan berarti ikut merawat perubahan. Gagasan tidak dibiarkan berhenti dalam pikiran, tetapi dibagikan agar menemukan pembaca, mitra, bahkan penggeraknya.
Singkatnya, menulis adalah bagian kecil dari perubahan, tetapi perubahan besar sering bermula dari gagasan yang dituliskan. PBB Ke-231 bersama 2.682 anggotanya dapat menjadi ruang tempat pengalaman pendidikan tidak menguap begitu saja, melainkan berubah menjadi pengetahuan bersama.
Saatnya tenaga kependidikan naik kelas bukan hanya dalam keterampilan bekerja, tetapi juga dalam kemampuan membaca perubahan, merefleksikan pengalaman, berbagi pengetahuan, dan melahirkan karya.
Regulasi dapat menunjukkan arah. Institusi dapat menyediakan sistem. Namun manusialah yang menghidupkan perubahan.
Karena itu, mari terus membaca, bekerja, dan menulis. Sebab ketika pengalaman menjadi tulisan, tulisan menjadi gagasan, dan gagasan bergerak menjadi tindakan, di situlah pena ikut bekerja untuk pendidikan yang lebih bermutu. Wallahu A’lam.