MENULIS DI KOMPASIANA BUKAN SEKEDAR TUGAS: DOSEN PERLU MEMAHAMI MEDAN SEBELUM MENGIRIM MAHASISWA

2026-09-08 10:05:05 | Diperbaharui: 2026-09-08 10:18:54
MENULIS DI KOMPASIANA BUKAN SEKEDAR TUGAS: DOSEN PERLU MEMAHAMI MEDAN SEBELUM MENGIRIM MAHASISWA
Ilustrasi Menulis Menulis Di Kompasiana Bukan Sekadar Tugas..... Dibuat oleh penulis dengan bantuan  (DALL•E/ChatGPT, 8 Sept. 2026)

 

Il

Oleh: A. Rusdiana

PBB Ke-128 | Didukung 2.681 Anggota

 

Hampir 17 hari saya tidak menulis di kolom Pena Berkarya Bersama (PBB) Kompasiana. Tulisan terakhir, 21 Agustus 2026, berjudul “Menulis Menjaga Akhlak di Tengah Riuh Senayan dan Linimasa Digital”. Senin, 7 September 2026 pukul 10.20, sebuah pesan masuk justru membawa saya kembali pada kegelisahan literasi.

 

Assalamu’alaikum wr. wb Kang, hapunten pisan ngaganggu waktos istirahatna.

Abdi Yugi ti KMC Galuh Taruna komisariat UIN semester 5 jurusan KPI, bade naroskeun perkawis tempat kanggo praktek tugas kuliah manawi tiasa di Kompasiana? Janten tugas abdi teh tiap minggona kedah ngadamel artikel, warta (berita), sareng feature.

Upami tiasa, kumaha cara sareng lengkah-lengkahna? Lajeng, peryogi ngontek ka saha deui supados jelas?

Hatur nuhun pisan sateuacanna kana waktos sareng bantosan ti akang🙏 Wassalamu’alaikum wr. Wb, (Senin 7 September 2026 jam  10.20)

Saat itu saya sedang mengajar mahasiswa kelas III/B S2 Pascasarjana pada Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (SIMP). Pembahasan kebetulan bersinggungan dengan adab bekerja bersama AI dalam menghasilkan gambar oposial sebagai produk informasi pembelajaran. Saya menekankan bahwa teknologi bukan sekadar alat mempercepat pekerjaan. Dalam sistem informasi pendidikan, teknologi perlu digunakan dengan tujuan yang jelas, data dan informasi harus dikelola secara bertanggung jawab, sedangkan produk digital yang dihasilkan tetap memerlukan sentuhan manusia: diperiksa, diperbaiki, dan dipertanggungjawabkan. AI boleh membantu proses, tetapi manusia tetap menentukan arah, nilai, dan kualitas hasilnya. Di tengah penjelasan itulah telepon genggam saya berdering. Sebuah pesan dari mahasiswa lintas fakultas masuk—dan tanpa saya duga, isinya justru mempertemukan pembicaraan di kelas tentang informasi, teknologi, adab digital, dan tanggung jawab akademik dengan persoalan nyata di luar kelas.

Seorang mahasiswa semester lima Program Studi KPI menghubungi saya. Ia memperkenalkan diri sebagai bagian dari KMC Galuh Taruna Komisariat UIN Bandung, komunitas yang juga mempertemukan kami dalam satu jejaring. Dengan bahasa Sunda yang santun, ia meminta izin bertanya mengenai tugas kuliahnya. Setiap minggu ia harus membuat artikel, berita, dan feature. Pertanyaannya cukup konkret: apakah praktik tersebut dapat dilakukan di Kompasiana? Bagaimana cara dan langkah-langkahnya? Bahkan ia bertanya, perlu menghubungi siapa lagi agar memperoleh penjelasan yang lebih jelas?

Pesan itu membuat saya berhenti sejenak. Ada irisan yang menarik dengan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan yang sedang saya ajarkan. Informasi tidak cukup hanya tersedia; ia perlu dicari dari sumber yang tepat, diverifikasi, dikelola, digunakan, dan dikomunikasikan untuk mendukung pengambilan keputusan. Apa yang dilakukan mahasiswa tersebut sebenarnya menunjukkan proses itu dalam bentuk sederhana: ia memiliki kebutuhan informasi, menemukan jejaring yang dianggap relevan, kemudian mencari informasi untuk menentukan tindakan. Pada saat yang sama, peristiwa tersebut mengingatkan saya pada pembelajaran inkuiri (inquiry learning): mahasiswa menjadi subjek aktif yang bertanya, mencari, menyelidiki, dan membangun pengetahuan melalui pengalaman.

Namun, di sinilah kegelisahan pedagogis saya muncul. Pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa tidak berarti mahasiswa dilepas tanpa peta. Dalam inquiry learning, dosen memang bukan satu-satunya sumber informasi, tetapi tetap berfungsi sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, dan pengarah proses belajar. Apalagi ketika mahasiswa ditugaskan memasuki ruang publik digital seperti Kompasiana. Ia bukan hanya memerlukan keberanian mencari, tetapi juga membutuhkan rambu mengenai karakter platform, jenis tulisan, etika publikasi, validitas informasi, dan tanggung jawab atas karya yang diterbitkan. Mahasiswa aktif bukan berarti dosen pasif; student-centered bukan teacher-absent. Dari sinilah pertanyaan tulisan ini berangkat: seberapa jauh dosen perlu memahami medan praktik sebelum mengirim mahasiswa belajar di dalamnya?

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menilai dosen yang tidak saya kenal, terlebih menyimpulkan bahwa beliau belum pernah menulis di Kompasiana. Saya tidak memiliki dasar untuk menyatakan itu. Bisa saja mahasiswa tersebut memang sedang memperluas informasi secara mandiri. Justru peristiwa kecil ini menarik dibaca dari perspektif pembelajaran: bagaimana kemandirian mahasiswa dan fasilitasi dosen seharusnya dipertemukan? Inilah Jawabannya:

Pertama: Inquiry Learning Bukan Membiarkan Mahasiswa Berjalan Sendiri; Pembelajaran inkuiri mendorong mahasiswa aktif menemukan pengetahuan. Mereka diberi ruang bertanya, mengeksplorasi sumber, menguji informasi, dan mengambil pengalaman dari dunia nyata. Keaktifan mahasiswa tersebut patut dihargai. Ia tidak menunggu semua jawaban tersedia di kelas, tetapi mencari orang yang dianggap memiliki pengalaman. Namun, prinsip student-centered learning tidak boleh dimaknai sebagai hilangnya peran dosen.

Mahasiswa aktif bukan berarti dosen pasif; student-centered bukan teacher-absent; Dosen tetap diperlukan untuk merancang tujuan, memberi rambu, menyediakan scaffolding, memantau proses, dan membantu mahasiswa merefleksikan pengalaman belajarnya. Inkuiri memberikan ruang untuk mencari; fasilitasi memastikan pencarian tersebut mempunyai arah.

Kedua: Tugas Praktik Memerlukan Peta Jalan yang Jelas; Menugaskan mahasiswa membuat artikel, berita, dan feature merupakan bentuk pembelajaran autentik yang sangat baik. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi mencoba menerapkannya dalam situasi nyata. Namun, instruksi praktik perlu dilengkapi peta jalan. Jika mahasiswa diarahkan menuju media publik, ia perlu memahami tujuan tugas, karakter media, jenis tulisan, standar karya, etika publikasi, serta indikator keberhasilannya.

Dosen tentu tidak harus menguasai setiap tombol dan fitur teknis sebuah platform. Akan tetapi, ketika suatu media dijadikan arena belajar, pengenalan terhadap medan tersebut menjadi penting. Kemandirian mahasiswa bukan berarti: “Silakan cari sendiri.” Kemandirian justru tumbuh ketika mahasiswa memperoleh arah yang cukup, kemudian diberi kesempatan menemukan jalannya sendiri.

Ketiga: Kompasiana Bukan Sekadar Tempat Mengumpulkan Tugas; Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik. Kompasiana bukan ruang kelas tertutup tempat tulisan hanya dibaca mahasiswa dan dosen. Ketika tulisan diterbitkan, mahasiswa memasuki ruang publik digital.

Tulisan dapat dibaca, dikomentari, dikritik, dan ditanggapi orang lain. Karena itu, mahasiswa perlu memahami perbedaan opini, artikel, berita, dan feature; pentingnya ketepatan informasi; penghormatan terhadap sumber; pemilihan judul; hingga tanggung jawab terhadap setiap kalimat yang dipublikasikan.

Dengan demikian, praktik menulis di Kompasiana sebenarnya mempunyai nilai pembelajaran yang lebih luas. Mahasiswa belajar bahwa menulis bukan sekadar memenuhi tugas dan memperoleh nilai. Menulis di ruang publik adalah latihan mempertanggungjawabkan gagasan di hadapan publik.

Keempat: Mahasiswa yang Bertanya Sedang Mempraktikkan Adab dan Inkuiri; Ada bagian yang justru membuat saya menghargai mahasiswa tersebut. Ia memperkenalkan diri, menjelaskan maksudnya, meminta izin, dan bertanya dengan bahasa yang santun. Keberaniannya menghubungi saya muncul karena kami berada dalam jejaring komunitas KMC Galuh Taruna Komisariat UIN Bandung.

Di sinilah saya melihat pertemuan menarik antara adab dan inkuiri. Ia aktif mencari informasi, tetapi tetap menjaga kesantunan. Ia menggunakan jejaring, tetapi tidak datang dengan tuntutan. Ia bertanya karena ingin memperoleh kejelasan sebelum bertindak. Bukankah ini salah satu hasil pembelajaran yang kita harapkan?

Mahasiswa tidak hanya mampu mencari informasi, tetapi mengetahui bagaimana mencari, kepada siapa bertanya, dan bagaimana menjaga adab ketika meminta bantuan. Kelas akhirnya meluas: dari ruang perkuliahan menuju komunitas, pengalaman praktisi, platform digital, dan kehidupan nyata.

Pesan mahasiswa pada Senin pagi itu akhirnya menjadi pelajaran bagi saya sendiri. Pembelajaran berbasis inkuiri memang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif, tetapi kemandirian belajar bukan pembiaran. Dosen tetap mempunyai peran penting sebagai fasilitator yang merancang tujuan, mengenali medan, menyediakan rambu, dan membantu mahasiswa memaknai pengalaman.

Jika Kompasiana dipilih sebagai ruang praktik, mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui cara mengunggah tulisan. Ia perlu memahami karakter ruang publik, etika, jenis tulisan, sumber informasi, dan tanggung jawab atas karya yang diterbitkan.

Sebaliknya, mahasiswa pun tidak boleh terus menunggu petunjuk. Keberanian bertanya, mencari sumber, membangun jejaring, dan belajar dari orang lain merupakan bagian dari kedewasaan akademik.

Pada akhirnya, pembelajaran terbaik bukan sekadar menghasilkan tugas yang selesai, melainkan mahasiswa yang mampu mencari dengan kritis, bertanya dengan adab, menulis dengan tanggung jawab, dan berkarya dengan manfaat.

Dosen memberi peta, mahasiswa menempuh perjalanan; inkuiri membuka pencarian, adab menjaga langkah, dan pengalaman mengubah teori menjadi kompetensi. Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar