EMBUH PAGI 0926 | 02
KETIKA CINTA MEMBUATMU LUPA PADA DIRIMU SENDIRI
Sebuah Refleksi tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari Sudut Pandang EMBUH dengan Konsep Berpikir Out of The Box
Mencintai seseorang itu indah. Tetapi ketika cinta membuat kita kehilangan kesadaran, mungkin yang sedang kita cintai bukan lagi orangnya, melainkan bayangan tentang dirinya yang kita ciptakan sendiri.
Kadang kita tahu dia menyakiti, tetapi kita tetap bertahan. Kita tahu hubungan itu tidak sehat, tetapi kita mencari seribu alasan untuk membenarkannya. Kita melihat kenyataan, tetapi memilih mempercayai apa yang ingin kita percaya.
Lucunya, ketika orang lain melakukan hal yang sama, kita bisa dengan mudah berkata, “Kamu bodoh karena masih bertahan.”
Tetapi ketika kita sendiri yang mengalaminya, tiba-tiba semua menjadi berbeda.
Kita menyebutnya perjuangan.
Kita menyebutnya kesetiaan.
Kita menyebutnya pengorbanan.
Bahkan kita menyebutnya cinta.
Padahal bisa jadi, itu bukan lagi cinta.
Itu ketidakmampuan kita menerima kenyataan.
Saya pun belajar bahwa mencintai tanpa kesadaran bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya. Rela diperlakukan semaunya, terus memaafkan tanpa perubahan, mengorbankan harga diri, bahkan membenci orang lain hanya karena ingin mempertahankan seseorang yang sebenarnya sudah tidak ingin dipertahankan.
Lalu kita bertanya, “Kenapa cinta membuatku seperti ini?”
Mungkin bukan cintanya yang salah.
Kita yang berhenti menggunakan kesadaran ketika mencintai.
Cinta tetap membutuhkan akal. Membutuhkan batas. Membutuhkan keberanian untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita inginkan.
Mencintai bukan berarti harus memiliki.
Menyayangi bukan berarti harus mengorbankan diri tanpa batas.
Setia bukan berarti harus bertahan dalam sesuatu yang terus menghancurkan diri.
Dan melepaskan seseorang bukan selalu berarti berhenti mencintai. Bisa jadi justru itu bentuk cinta yang paling sadar—mencintai tanpa harus kehilangan diri sendiri.
Dalam perspektif EMBUH, mungkin kita perlu sesekali keluar dari kotak bernama “aku cinta dia.”
Lalu melihat dari luar:
Kalau ini terjadi pada orang yang saya sayangi, apa nasihat yang akan saya berikan kepadanya?
Biasanya kita jauh lebih bijaksana ketika melihat masalah orang lain.
Karena ketika bukan kita yang sedang jatuh cinta, kita bisa melihat kenyataan.
Tetapi ketika kita yang jatuh cinta, kadang-kadang mata masih melihat, tetapi kesadaran sudah memilih untuk tidak melihat.
Maka hari ini saya ingin belajar mencintai dengan tetap sadar.
Kalau dia baik, syukuri.
Kalau hubungan itu sehat, rawat.
Kalau ada masalah, bicarakan.
Kalau perlu memperbaiki, perbaiki.
Tetapi kalau pada akhirnya harus melepaskan, jangan sampai karena takut kehilangan seseorang, kita justru kehilangan diri sendiri.
Sebab cinta yang sehat seharusnya membuat kita tumbuh, bukan membuat kita semakin bodoh, semakin takut, semakin kehilangan harga diri, dan semakin jauh dari diri kita sendiri.
“Mbuh priben carane... kersane Gusti Allah.”
Berusaha mencintai sebaik mungkin, tetapi tetap sadar bahwa tidak semua yang kita cintai harus menjadi milik kita.
Karena mungkin...
Cinta yang paling dewasa bukan tentang seberapa gila kita mencintai seseorang, tetapi seberapa sadar kita mencintainya tanpa kehilangan diri sendiri.
Salam EMBUH,
{{{ Positif, Sehat dan Bahagia }}}
CATATAN
EMBUH adalah akronim dari Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing.
EMBUHISME adalah konsep pemikiran Out of The Box tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari sudut pandang yang EMBUH (Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing).
Buku “Aku Wong Embuh”
Untuk pemesanan, hubungi 0858-6767-9796.