EMBUH PAGI 0826 | 03
TERNYATA, TIDAK ADA SATU PUN KEBAIKAN YANG BENAR-BENAR AKU LAKUKAN
Sebuah Refleksi tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari Sudut Pandang EMBUH dengan Konsep Berpikir Out of The Box
Belakangan ini saya sering berpikir, sebenarnya pernahkah saya benar-benar melakukan kebaikan?
Saya yang menolong. Saya yang memberi. Saya yang bersedekah. Saya yang memaafkan. Saya yang membantu. Saya yang datang ketika seseorang membutuhkan. Lalu saya merasa, “Saya sudah berbuat baik.”
Tetapi ketika saya berhenti sebentar dan melihatnya lebih dalam, saya mulai bertanya: Benarkah semua itu karena saya?
Kalau Allah tidak memberi saya rezeki, dengan apa saya memberi? Kalau Allah tidak memberi kesehatan dan tenaga, bagaimana saya menolong? Kalau Allah tidak menggerakkan hati, apakah saya akan tergerak untuk peduli? Bahkan orang yang saya tolong pun, bukankah Allah yang mempertemukan kami pada waktu dan keadaan yang tepat?
Semakin saya pikirkan, semakin saya sadar bahwa terlalu banyak hal yang terjadi sebelum sebuah kebaikan itu bisa saya lakukan. Ada kesempatan yang datang, ada orang yang dipertemukan, ada waktu yang tersedia, ada kemampuan yang diberikan, bahkan ada dorongan dalam hati yang membuat saya akhirnya bergerak.
Maka mungkin saya ini bukanlah sumber kebaikan itu. Saya hanya sedang diberi kesempatan untuk menjadi jalan bagi sebuah kebaikan.
Di situlah saya merasa perlu berhati-hati dengan ego. Karena setelah berbuat baik, kadang saya masih ingin dianggap baik. Senang ketika dipuji. Bangga ketika disebut membantu. Seolah-olah semua itu sepenuhnya hasil kemampuan saya.
Padahal kalau mau jujur, apa yang benar-benar saya miliki tanpa pemberian Allah?
Kemampuan untuk memberi adalah pemberian-Nya. Kesempatan untuk menolong adalah pemberian-Nya. Hati yang tergerak adalah rahmat-Nya. Bahkan orang yang hadir dan membutuhkan pertolongan saya pun bisa jadi bagian dari cara Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Maka saya ingin belajar mengubah kalimat “Saya telah melakukan kebaikan” menjadi “Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan untuk menjadi jalan bagi kebaikan.”
Rasanya sederhana, tetapi maknanya berbeda. Yang pertama mudah membuat saya merasa hebat. Yang kedua membuat saya lebih banyak bersyukur dan lebih sedikit membanggakan diri.
Bukan berarti saya kemudian tidak perlu berbuat baik. Justru sebaliknya. Saya tetap harus berikhtiar, tetap menolong ketika mampu, tetap memberi ketika punya, tetap memaafkan ketika hati diberi kelapangan. Hanya saja, saya tidak ingin terlalu sibuk merasa bahwa semua kebaikan itu adalah milik saya.
“Mbuh priben carane... kersane Gusti Allah.”
Bagi saya, kalimat itu bukan berarti pasrah tanpa usaha. Saya tetap berjalan, tetap memilih, tetap berbuat. Tetapi saya belajar menyadari bahwa di balik ikhtiar saya ada kehendak, rahmat, pertolongan, dan taufik Allah yang membuat semuanya mungkin terjadi.
Mungkin karena itu, semakin banyak belajar tentang hidup, saya justru semakin merasa tidak pantas untuk membanggakan diri. Saya hanya ingin tetap menjadi jalan, tanpa merasa sebagai sumbernya.
Dan kalau suatu hari Allah kembali memberi saya kesempatan untuk melakukan kebaikan, semoga saya tidak sibuk menghitung berapa banyak kebaikan yang sudah saya lakukan.
Semoga saya justru bisa berkata dalam hati:
“Alhamdulillah, Allah masih berkenan menjadikan saya jalan untuk kebaikan.”
Karena pada akhirnya, mungkin bukan tentang seberapa banyak kebaikan yang bisa saya klaim sebagai milik saya, tetapi seberapa sering saya bersedia membuka diri ketika Allah memberi kesempatan untuk menghadirkan kebaikan.
Salam EMBUH,
{{{ Positif, Sehat dan Bahagia }}}
CATATAN
EMBUH adalah akronim dari Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing.
EMBUHISME adalah konsep pemikiran Out of The Box tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari sudut pandang yang EMBUH (Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing).
Buku “Aku Wong Embuh”
Untuk pemesanan, hubungi 0858-6767-9796.