0926 | 01 - Yang Kau Anggap Benar dan Baik, Belum Tentu Benar dan Baik

2026-09-06 05:58:03 | Diperbaharui: 2026-09-06 05:58:03
0926 | 01 - Yang Kau Anggap Benar dan Baik, Belum Tentu Benar dan Baik
Caption

EMBUH PAGI 0926 | 01

YANG KAU ANGGAP BENAR DAN BAIK, BELUM TENTU BENAR DAN BAIK

Sebuah Refleksi tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari Sudut Pandang EMBUH dengan Konsep Berpikir Out of The Box

Kadang saya berpikir, ternyata kita sering menjalani hidup berdasarkan apa yang kita anggap benar, bukan berdasarkan apa yang benar-benar benar. Kita juga sering merasa sudah melakukan yang terbaik, hanya karena menurut kita itulah yang baik.

Padahal, pandangan saya belum tentu sama dengan kenyataan.

Apa yang menurut saya benar, bisa jadi ternyata keliru. Apa yang menurut saya baik, bisa jadi justru tidak baik bagi orang lain. Bahkan sesuatu yang hari ini saya yakini sebagai pilihan terbaik, suatu saat mungkin saya sadari sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki.

Saya pun pernah berada di posisi itu.

Merasa sudah benar. Merasa sudah berbuat baik. Merasa sudah mengambil keputusan yang tepat. Sampai kemudian waktu, pengalaman, dan keadaan membuat saya melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.

Di situlah saya belajar untuk tidak terlalu cepat mengatakan, “Saya benar.”

Karena manusia melihat dengan pengetahuan yang terbatas. Kita hanya melihat apa yang ada di depan mata, sementara Allah mengetahui sesuatu yang tidak mampu kita lihat.

Kadang kita menilai seseorang hanya dari perilakunya, tanpa mengetahui apa yang sedang ia perjuangkan. Kita menilai sebuah keadaan dari hasil yang terlihat, tanpa mengetahui proses panjang yang ada di baliknya. Kita menganggap sesuatu buruk karena tidak sesuai dengan keinginan kita, padahal bisa jadi justru di situlah ada kebaikan yang belum mampu kita pahami.

Mungkin karena itu, saya ingin belajar untuk sedikit lebih “mbuh”.

Bukan berarti tidak punya pendirian. Bukan berarti tidak boleh mengatakan benar dan salah. Tetapi memberi ruang dalam diri untuk berkata, “Bisa jadi saya belum tahu semuanya.”

Sebab semakin banyak belajar, saya justru semakin sadar bahwa pengetahuan saya terbatas.

Maka ketika merasa paling benar, saya ingin berhenti sebentar dan bertanya: Benarkah ini benar, atau hanya karena saya terbiasa melihatnya seperti itu?

Ketika merasa sudah berbuat baik, saya juga ingin bertanya: Benarkah ini kebaikan, atau hanya sesuatu yang terlihat baik dari sudut pandang saya?

Di sinilah saya belajar tentang rendah hati.

Tetap berusaha melakukan yang benar. Tetap memilih yang baik. Tetap menggunakan akal, ilmu, hati, dan pengalaman. Tetapi setelah itu, saya tidak perlu merasa menjadi pemilik kebenaran secara mutlak.

“Mbuh priben carane... kersane Gusti Allah.”

Bagi saya, kalimat ini bukan berarti tidak peduli dengan benar dan salah. Justru menjadi pengingat bahwa ikhtiar manusia terbatas, sedangkan pengetahuan Allah tidak terbatas.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya apa yang kita pikirkan, tetapi juga cara kita menyikapi pikiran kita sendiri.

Tidak semua yang kita yakini harus dipertahankan mati-matian.

Ada kalanya kita perlu belajar.

Ada kalanya kita perlu mengoreksi diri.

Ada kalanya kita perlu berkata, “Ternyata saya keliru.”

Dan menurut saya, mampu mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan.

Itu tanda bahwa kita masih mau bertumbuh.

Karena bisa jadi, yang paling berbahaya bukan ketika kita salah...

Tetapi ketika kita salah dan merasa paling benar.

Salam EMBUH,
{{{ Positif, Sehat dan Bahagia }}}


CATATAN

EMBUH adalah akronim dari Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing.

EMBUHISME adalah konsep pemikiran Out of The Box tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari sudut pandang yang EMBUH (Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing).

Buku “Aku Wong Embuh”
Untuk pemesanan, hubungi 0858-6767-9796.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar