

Ilustrasi Menulis Menulis Menjaga Akhlak ditengah Riuh Senayan dan lini Masa: Dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan bantuan (DALL•E/ChatGPT, 21 Agustus 2026)
Oleh: A. Rusdiana
PBB Ke-127 | Didukung 2.677 Anggota
“Demokrasi memberi ruang untuk menyampaikan aspirasi, media sosial memperluas gaungnya. Tabligh mengajarkan bahwa setiap pesan harus benar isinya, santun caranya, dan bermanfaat dampaknya.”
Aksi penyampaian aspirasi di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026, ramai diperbincangkan di ruang publik dan media sosial. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), misalnya, hadir membawa aspirasi yang kemudian disampaikan melalui audiensi di kompleks parlemen.
Peristiwa tersebut menarik dibaca dari perspektif pendidikan karakter komunikasi digital. Demonstrasi hari ini tidak hanya berlangsung di jalan. Foto, video, komentar, potongan pidato, dan berbagai narasi dapat berpindah dari lokasi aksi menuju jutaan layar dalam hitungan detik. Pertanyaannya, sudahkah etika menjadi karakter komunikasi kita di media sosial?
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum menghadirkan keteladanan Rasulullah. Empat sifat beliau—siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh—merupakan fondasi karakter yang relevan bagi generasi digital. Kali ini, tabligh penting dimaknai sebagai fondasi etika komunikasi digital.
Pertama: Tabligh Bukan Sekadar Berani Berbicara. Secara sederhana, tabligh berarti menyampaikan. Namun, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa menyampaikan kebenaran bukan sekadar keberanian membuka suara. Ada tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan, bagaimana menyampaikannya, dan dampak yang ditimbulkannya.
Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik...” (QS. An-Nahl [16]: 125).
Ayat tersebut menegaskan bahwa kebenaran harus berjalan bersama hikmah. Prinsip ini semakin relevan ketika media sosial membuat setiap orang memiliki “mimbar” untuk menjadi penulis, komentator, penyiar, sekaligus pembentuk opini publik.
Kedua: Dari Senayan ke Linimasa Digital. Aksi masyarakat Pati memberi pembelajaran bahwa aspirasi di ruang nyata segera memperoleh “panggung kedua” di media sosial. Persoalannya, informasi dapat menyebar lebih cepat daripada proses memeriksa kebenarannya.
Di sinilah tabligh menemukan aktualisasinya. Sebelum mengunggah atau membagikan informasi, kita perlu bertanya: Apakah informasi ini benar? Apakah cara menyampaikannya baik? Apakah memberikan manfaat atau justru menambah kegaduhan? Tabligh menggeser orientasi komunikasi dari sekadar hak berbicara menjadi tanggung jawab berbicara.
Ketiga: Kritik Tetap Kritik, Martabat Tetap Dijaga. Demokrasi membutuhkan kritik. Pendidikan etika digital bukan pendidikan untuk membungkam perbedaan. Sebaliknya, generasi digital harus mampu menyampaikan kritik yang tajam dalam substansi, tetapi tetap beradab dalam komunikasi.
Ketidaksetujuan terhadap kebijakan tidak harus berubah menjadi penghinaan pribadi. Perbedaan pendapat tidak perlu berkembang menjadi perundungan dan fitnah. Tabligh mempertemukan kebenaran dan kesantunan. Lawan argumentasi bukanlah musuh yang harus dihancurkan martabatnya.
Keempat: Tiga Ukuran Tabligh Digital. Keteladanan tabligh dapat diterjemahkan dalam tiga ukuran: (1) benar pesannya, informasi diverifikasi sebelum dibagikan; (2) baik caranya, kebenaran disampaikan tanpa penghinaan, provokasi, dan kata-kata kasar; serta (3) bermanfaat dampaknya, pesan diarahkan untuk menambah pengetahuan, membuka dialog, memperkuat kepedulian, dan membantu penyelesaian masalah.
Formulanya sederhana: Benar Pesannya — Baik Caranya — Bermanfaat Dampaknya.
Benar tanpa kesantunan dapat melukai. Kesantunan tanpa kebenaran dapat menyesatkan. Karena itu, tantangan pendidikan bukan hanya meningkatkan literasi digital, melainkan membentuk karakter digital. Peserta didik bukan sekadar diajarkan membuat konten, tetapi juga memahami mengapa sebuah konten layak atau tidak layak disebarkan.
Singkatnya, riuh Senayan hingga riuh linimasa memberi pelajaran bahwa demokrasi dan teknologi menyediakan ruang besar untuk bersuara. Namun, semakin luas ruang komunikasi, semakin besar pula tanggung jawab etiknya.
Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum menghidupkan tabligh dalam kehidupan digital. Pendidikan tidak cukup melahirkan generasi yang berani berbicara, tetapi generasi yang mengetahui apa yang benar untuk disampaikan, bagaimana menyampaikannya, dan untuk kemaslahatan apa pesan itu disebarkan. Pada titik itulah tabligh tidak lagi sekadar sifat Rasulullah yang dihafalkan. Ia menjadi karakter komunikasi digital: mengkritik tanpa menghina, berbeda tanpa merendahkan, dan bersuara tanpa kehilangan akhlak. Wallahu A'lam.