Generasi Alpha tumbuh dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Sejak kecil, mereka sudah akrab dengan gawai, video pendek, media sosial, dan berbagai bentuk konten digital. Dalam hitungan detik, mereka dapat berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya hanya dengan menggeser layar.
Di satu sisi, perkembangan teknologi membuka akses pengetahuan yang semakin luas. Namun di sisi lain, kebiasaan scrolling juga menjadi tantangan baru bagi dunia literasi. Membaca buku yang membutuhkan waktu dan konsentrasi panjang bisa terasa kurang menarik dibandingkan video berdurasi singkat yang terus berganti di layar.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi Gerakan Literasi AI. Menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap buku tidak lagi cukup hanya dengan mengatakan bahwa membaca itu penting. Mengajak mereka dekat dengan buku membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan dunia mereka.
Karena itu, Gerakan Literasi AI mencoba menghadirkan literasi melalui berbagai metode. Anak-anak tidak hanya diajak membaca, tetapi juga menulis jurnal untuk menuangkan perasaan dan pengalaman, berdiskusi, membuat karya, berpuisi, bercerita, hingga mengenal pemanfaatan teknologi secara bijak.
Literasi juga perlu hadir melalui medium yang akrab dengan Gen Alpha. Buku dan tulisan dapat dikembangkan menjadi e-book, konten video pendek, ilustrasi, storytelling, maupun konten edukatif di media sosial. Dengan begitu, teknologi tidak selalu diposisikan sebagai lawan dari buku, tetapi dapat menjadi jembatan untuk membawa anak kembali kepada dunia bacaan.
Pendekatan tersebut penting karena tujuan literasi bukan sekadar membuat anak mampu membaca. Lebih jauh, literasi diharapkan menjadi ruang bagi mereka untuk berpikir, berimajinasi, mengenali perasaan, menyampaikan gagasan, dan berani bersuara.
Tantangan literasi di era Gen Alpha, pada akhirnya, bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang tersedia. Tantangannya adalah bagaimana membuat anak mau berhenti sejenak dari kebiasaan scrolling, membuka sebuah bacaan, menikmati cerita, lalu menemukan sesuatu dari sana.
Literasi pun perlu bergerak mengikuti zaman. Bukan meninggalkan buku, melainkan menemukan cara baru agar buku, tulisan, dan gagasan tetap dekat dengan kehidupan Gen Alpha.