Obrolan Pagi Bersama Omjay: Kalau AI Bisa Menulis Kita Belajar Apa?

2026-08-15 10:33:22 | Diperbaharui: 2026-08-15 10:33:22
Obrolan Pagi Bersama Omjay: Kalau AI Bisa Menulis Kita Belajar Apa?
Sumber: dokumentasi acara

‎“Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh, lekas berdiri, jangan mengeluh.”

‎Kalimat yang disampaikan Omjay itu menjadi salah satu pelajaran paling berharga yang saya dapatkan dalam obrolan pagi ini.

‎Sebagai founder Gerakan Literasi AI Gen Alpha, saya menginisiasi sebuah obrolan ringan di Instagram bertema “Kalau AI Bisa Menulis, Kita Harus Belajar Apa?” bersama Omjay, sosok yang namanya sudah tidak asing lagi sebagai Guru Blogger Indonesia.

‎Kehadiran Omjay bukan sekadar untuk mengajak Gen Alpha kembali mencintai literasi, menulis, dan dunia buku. Lebih dari itu, beliau membawa pesan penting bahwa di tengah perkembangan AI yang semakin mampu menghasilkan tulisan, manusia perlu memiliki daya juang, ketekunan, dan keberanian untuk terus belajar serta tidak mudah menyerah.

‎Omjay adalah contoh nyata dari proses tersebut.

‎Selama puluhan tahun, beliau konsisten menulis, membangun blog, mengikuti berbagai kompetisi, hingga meraih kemenangan dalam lomba-lomba menulis dengan hadiah mencapai puluhan juta rupiah. Konsistensi itu pula yang membuka berbagai kesempatan baginya untuk berkeliling ke lebih dari 10 negara tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan sendiri.

‎Tentu, semua pencapaian itu tidak hadir dalam semalam. Ada perjalanan panjang yang dilalui. Ada tulisan yang mungkin tidak dibaca, usaha yang belum membuahkan hasil, dan kegagalan yang datang berulang kali.

‎Namun, Omjay memilih untuk terus menulis, terus mencoba, dan terus mencari jalan.

‎Dari sanalah kita belajar bahwa keberhasilan bukan semata-mata tentang seberapa hebat kemampuan seseorang, tetapi tentang seberapa konsisten ia bertahan, belajar dari kegagalan, dan terus bergerak maju.

‎“Terus mencoba. Terus mencari jalan.”

‎Sikap itulah yang menurut saya justru semakin penting di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

‎Hari ini, AI dapat membantu manusia menulis dalam hitungan detik. Ia dapat merangkai kalimat, membuat cerita, menyusun artikel, bahkan membantu menghasilkan berbagai bentuk konten.

‎Namun, AI tidak menjalani proses panjang yang membentuk karakter seseorang.

‎AI tidak mengalami kegagalan lalu memilih untuk bangkit. AI tidak memiliki pengalaman hidup yang menjadi sumber gagasan. Dan AI tidak bisa menggantikan keberanian manusia untuk mengambil keputusan, mencoba sesuatu yang baru, lalu bertanggung jawab atas pilihannya.

‎Karena itu, ketika AI semakin pintar menulis, Gen Alpha justru harus belajar lebih banyak tentang menjadi manusia.

‎Belajar berpikir kritis.

‎Belajar menemukan ide.

‎Belajar bertanya.

‎Belajar membaca realitas di sekitarnya.

‎Belajar membuat karya.

‎Dan yang tidak kalah penting, belajar untuk tetap konsisten ketika hasil yang diharapkan belum datang.

‎Di sinilah menurut saya gerakan literasi perlu bergerak lebih jauh. Literasi tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Anak-anak juga perlu diperkenalkan pada dunia digital, kreativitas, pembuatan konten, dan pemanfaatan AI secara bijak.

‎Sebab mungkin, tantangan generasi ini bukan lagi “bisakah kamu menulis?”, tetapi “apa yang ingin kamu sampaikan dan karya apa yang ingin kamu ciptakan?”

‎Dan dari obrolan pagi bersama Omjay, saya semakin percaya bahwa teknologi boleh berubah secepat apa pun, tetapi nilai-nilai seperti konsistensi, kerja keras, kreativitas, dan sikap pantang menyerah akan selalu memiliki tempat.

‎Pada akhirnya, AI mungkin bisa membantu kita menemukan kata-kata.

‎Tetapi manusialah yang harus menemukan makna.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar