Anggaran Perpustakaan Menyusut, Semangat Gerakan Literasi AI Tak Surut

2026-08-12 10:15:37 | Diperbaharui: 2026-08-12 10:20:58
Anggaran Perpustakaan Menyusut, Semangat Gerakan Literasi AI Tak Surut
Sumber: dokumentasi pribadi 

 

 

Di tengah berita tentang penyesuaian anggaran perpustakaan dan pembongkaran Perpustakaan Gasibu di Bandung, gerakan untuk menjaga budaya membaca justru tidak boleh ikut berhenti.

Perpustakaan Nasional menghadapi penyesuaian anggaran pada 2026. Alokasi DAK Nonfisik untuk pengembangan perpustakaan daerah juga turun dari Rp150 miliar pada 2025 menjadi Rp125 miliar pada 2026. Pada saat yang sama, Perpustakaan Gasibu dibongkar sebagai bagian dari penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.

Kedua persoalan tersebut menunjukkan bahwa dunia literasi sedang menghadapi banyak tantangan. Namun, di tengah situasi itu, Gerakan Literasi AI memilih untuk tidak berhenti berjuang.

Menariknya, komunitas yang diinisiasi Ririe Aiko ini bukanlah gerakan dengan dukungan dana besar. Komunitas ini tumbuh dengan keterbatasan dan berjalan dengan semangat para penggeraknya. Tidak ada anggaran besar yang menjadi penopang utama, tetapi ada keyakinan bahwa budaya membaca tetap harus diperjuangkan.

Gerakan Literasi AI terus mengajak generasi Alpha untuk kembali dekat dengan buku, belajar menulis, menghasilkan karya, sekaligus mengenal teknologi dan AI secara lebih bijak.

Mengajak anak-anak membaca di era digital memang bukan pekerjaan mudah. Mereka tumbuh bersama gawai, media sosial, dan arus informasi yang begitu cepat. Karena itu, literasi tidak cukup hanya mengajak mereka membaca, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Konsistensi itu salah satunya terlihat dari kegiatan rutin setiap Jumat. Di tengah keterbatasan yang ada, komunitas ini terus berusaha menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk membaca, belajar, berdiskusi, dan berkarya. Langkahnya mungkin sederhana, tetapi justru dari hal-hal sederhana itulah budaya literasi bisa terus dijaga.

Bagi Ririe Aiko, bertahan sebagai komunitas tanpa dukungan dana yang besar tentu bukan perkara mudah. Namun, selama masih ada kemauan untuk bergerak, berkolaborasi, dan mengajak lebih banyak anak mencintai buku, selalu ada alasan untuk terus melanjutkan perjuangan.

Karena bagi komunitas ini, yang tidak boleh ikut dipangkas adalah semangat untuk menjaga budaya membaca tetap ada.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar