Gerakan Literasi AI Ajak Gen Alpha Menulis di Era Digital

2026-08-09 06:57:45 | Diperbaharui: 2026-08-09 07:01:31
Gerakan Literasi AI Ajak Gen Alpha Menulis di Era Digital
Sumber: dokumentasi kegiatan

 

 

Bandung, 8 Agustus 2026 — Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi cara generasi muda belajar dan berkarya, ruang untuk menumbuhkan kemampuan berpikir dan menulis tetap menjadi kebutuhan penting. Hal itu terlihat dalam pertemuan Gerakan Literasi AI bersama anak-anak Generasi Alpha di Taman Flyover Pasupati, Bandung, Sabtu (8/8).

Pertemuan yang diinisiasi oleh Ririe Aiko tersebut menjadi ruang interaksi sekaligus pembelajaran bagi anak-anak yang memiliki ketertarikan terhadap dunia literasi. Mereka diajak mengenal cara menulis esai populer yang baik, terutama bagaimana mengolah gagasan menjadi tulisan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan mudah dipahami di era digital.

Kegiatan berlangsung selama dua jam, mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Sekitar 20 peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari kelas 7 hingga kelas 10, hadir dan mengikuti kegiatan dengan antusias.

Bagi Generasi Alpha yang tumbuh bersama teknologi digital, kemampuan menulis tidak lagi sekadar keterampilan akademis. Menulis menjadi salah satu cara untuk menyampaikan gagasan, membangun perspektif, sekaligus menyaring berbagai informasi yang mereka temui setiap hari.

Dalam pertemuan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi kepenulisan. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan sesama peserta yang memiliki ketertarikan pada literasi. Interaksi semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem belajar yang tidak selalu berlangsung di ruang kelas.

Sumber: dokumentasi kegiatan

 

Gerakan Literasi AI memandang perkembangan teknologi bukan sebagai alasan untuk meninggalkan kemampuan dasar manusia, termasuk membaca, berpikir kritis, dan menulis. Sebaliknya, kehadiran AI dapat menjadi momentum untuk mendorong generasi muda semakin mampu mengolah ide dan menggunakan teknologi secara kreatif dan bertanggung jawab.

Antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap literasi masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat. Di saat AI mampu menghasilkan teks dalam hitungan detik, kemampuan manusia untuk memiliki gagasan, sudut pandang, pengalaman, dan suara personal justru menjadi semakin penting.

Pertemuan di ruang terbuka Taman Flyover Pasupati itu bukan hanya sekadar kegiatan belajar menulis. Ia menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak muda untuk menemukan komunitas, bertukar gagasan, dan menyadari bahwa literasi tetap relevan bahkan ketika teknologi AI berkembang semakin jauh.

Sebab, teknologi mungkin dapat membantu manusia menulis lebih cepat. Namun, kemampuan untuk berpikir, merasakan, mempertanyakan, dan menemukan makna dari sebuah cerita tetap membutuhkan manusia.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar