Tebak Buku, Salah Jawab Kena Bedak: Cara Seru Gerakan Literasi AI Menumbuhkan Minat Baca

2026-08-05 11:18:49 | Diperbaharui: 2026-08-05 11:18:49
Tebak Buku, Salah Jawab Kena Bedak: Cara Seru Gerakan Literasi AI Menumbuhkan Minat Baca
Sumber: dokumentasi kegiatan

Tawa riuh memenuhi ruangan ketika seorang peserta salah menjawab tantangan. Hukuman yang menanti bukan push-up atau berdiri di depan kelas, melainkan wajahnya dipoles bedak putih oleh teman-temannya. Bukannya malu, anak-anak justru tertawa lepas. Suasana hangat itu menjadi warna tersendiri dalam kegiatan rutin Gerakan Literasi AI yang digelar setiap Jumat.

Kali ini, komunitas menghadirkan permainan sederhana bertajuk Tebak Judul Buku dan Nama Penulis. Satu per satu sampul novel ditampilkan, lalu peserta berlomba menyebutkan judul maupun nama pengarangnya. Siapa yang berhasil mendapat poin, sementara yang keliru harus rela wajahnya "dihias" bedak sebagai hukuman yang mengundang gelak tawa.

Di balik keseruannya, permainan tersebut menyimpan tujuan yang jauh lebih besar. Anak-anak didorong untuk mengenal lebih banyak karya sastra Indonesia maupun dunia melalui cara yang menyenangkan dan akrab dengan generasi alpha.

Menariknya, sebelum permainan dimulai, beberapa peserta bahkan terlihat sibuk membuka kembali koleksi buku dan mencari referensi nama-nama penulis yang belum mereka kenal. Rasa penasaran itulah yang ingin dibangun oleh Gerakan Literasi AI: membuat anak mencari buku karena ingin menang, lalu tanpa sadar mereka mulai mengenal lebih jauh tentang dunia literasi.

Kegiatan sederhana ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antaranggota komunitas. Canda tawa, saling memberi semangat, hingga hukuman bedak yang menghibur membuat suasana terasa akrab tanpa ada tekanan. Pendekatan seperti ini dinilai lebih efektif bagi Generasi Alpha yang tumbuh di tengah budaya digital dan membutuhkan pengalaman belajar yang interaktif, menyenangkan, serta melibatkan emosi positif.

Bagi Gerakan Literasi AI, literasi tidak selalu harus dimulai dari membaca dalam suasana sunyi. Literasi juga bisa tumbuh melalui permainan, tawa, tantangan, dan kebersamaan. Ketika anak-anak pulang sambil mengingat judul novel, nama penulis, sekaligus mengenang momen wajah temannya penuh bedak, saat itulah benih kecintaan terhadap buku mulai ditanamkan.

Sebab tujuan terbesar Gerakan Literasi AI bukan sekadar membuat anak mampu membaca lebih banyak buku, melainkan menjadikan buku sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk didekati. Dari permainan yang sederhana, lahirlah rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan ikatan persahabatan yang menjadi fondasi penting dalam membangun budaya literasi sejak usia dini.

Simak video konten kegiatan:

Video Kegiatan Tebak Buku

 

 

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar