Omjay Berbagi Ilmu Menulis di KBMN PGRI Gelombang 35

2026-09-08 12:46:50 | Diperbaharui: 2026-09-08 12:46:50
Omjay Berbagi Ilmu Menulis di KBMN PGRI Gelombang 35

Omjay Berbagi Ilmu Menulis di KBMN PGRI Gelombang 35: Menulis Itu Mudah, Asal Mau Memulai

Menulis itu mudah. Yang sulit adalah memulai.

Kalimat sederhana itulah yang sering saya sampaikan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI. Sebab, selama bertahun-tahun mendampingi guru menulis, saya menemukan satu persoalan yang hampir selalu sama: banyak orang sebenarnya memiliki cerita, pengalaman, gagasan, dan ilmu yang sangat berharga, tetapi tidak kunjung menuliskannya.

Pada KBMN PGRI Gelombang 35, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman menulis. Bagi saya, kegiatan seperti ini bukan sekadar mengajar bagaimana membuat tulisan yang baik. Lebih dari itu, saya ingin mengajak para guru untuk percaya bahwa mereka memiliki sesuatu yang layak untuk dibagikan kepada orang lain.

Guru setiap hari berada di tengah kehidupan peserta didik. Guru melihat berbagai persoalan, menemukan berbagai solusi, mengalami keberhasilan, menghadapi kegagalan, dan menyaksikan perubahan pendidikan dari dekat. Semua itu sesungguhnya adalah bahan tulisan yang luar biasa.

Sayangnya, sering kali guru merasa tidak pandai menulis.

Ada yang berkata, “Saya tidak punya bakat menulis.”

Ada pula yang mengatakan, “Saya tidak tahu harus menulis apa.”

Sebagian lainnya beralasan, “Saya sibuk mengajar.”

Saya biasanya tersenyum mendengar alasan-alasan tersebut.

Bukan karena saya tidak memahami kesibukan guru, tetapi karena saya pernah berada pada posisi yang sama. Saya juga bukan penulis yang tiba-tiba hebat. Saya belajar menulis dengan cara menulis. Saya membaca, mencoba, salah, memperbaiki, lalu menulis lagi.

Menulis adalah keterampilan yang tumbuh karena dilatih.

Itulah salah satu pesan yang saya bawa dalam berbagi ilmu di KBMN PGRI Gelombang 35.

Saya ingin peserta memahami bahwa tulisan yang baik tidak harus dimulai dengan kalimat yang sempurna. Tulisan yang baik justru sering lahir dari keberanian untuk menuliskan apa yang ada di dalam kepala dan hati.

Jangan menunggu tulisan menjadi sempurna baru berani menulis.

Tulislah terlebih dahulu.

Setelah itu, baca kembali. Perbaiki. Rapikan. Tambahkan data jika diperlukan. Perkuat argumen. Buat judul yang menarik. Kemudian publikasikan.

Begitulah proses belajar menulis.

Saya sendiri sudah merasakan manfaat luar biasa dari kebiasaan menulis. Sejak aktif menulis di blog dan berbagai platform digital, saya menemukan bahwa tulisan dapat menjadi jejak perjalanan hidup.

Apa yang kita tulis hari ini mungkin baru dibaca oleh beberapa orang. Namun, suatu saat tulisan itu bisa ditemukan kembali oleh orang lain. Bahkan, tulisan yang kita anggap sederhana bisa menjadi sumber inspirasi bagi seseorang yang sedang membutuhkan jawaban.

Karena itu saya sering mengatakan kepada peserta KBMN:

“Jangan takut tulisanmu tidak dibaca. Takutlah jika pengalamanmu yang berharga hilang karena tidak pernah dituliskan.”

Guru memiliki banyak pengalaman yang seharusnya tidak berhenti di ruang kelas.

Pengalaman mengajar siswa yang kesulitan belajar dapat menjadi artikel.

Pengalaman membuat media pembelajaran dapat menjadi buku.

Pengalaman menghadapi perubahan kurikulum dapat menjadi refleksi.

Pengalaman menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan dalam pembelajaran dapat menjadi bahan diskusi.

Bahkan pengalaman gagal dalam mengajar pun dapat menjadi tulisan yang sangat inspiratif.

Di sinilah saya melihat pentingnya KBMN PGRI.

KBMN bukan sekadar tempat belajar menulis. KBMN adalah ruang bertemu para guru yang memiliki semangat untuk berbagi. Guru dari berbagai daerah bertemu dalam satu ruang pembelajaran, saling membaca tulisan, memberikan komentar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

Ada yang sebelumnya tidak pernah menulis buku.

Ada yang baru mulai mengenal blog.

Ada yang baru belajar membuat artikel.

Ada pula yang sudah menerbitkan beberapa buku tetapi masih ingin terus belajar.

Semuanya memiliki satu kesamaan: ingin menjadi lebih baik melalui tulisan.

Dalam perjalanan mendampingi para peserta KBMN, saya semakin yakin bahwa budaya menulis perlu terus dibangun di kalangan guru Indonesia.

Mengapa?

Karena guru bukan hanya pengajar.

Guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Dan seorang pembelajar seharusnya memiliki kebiasaan membaca, berpikir, berefleksi, dan berbagi.

Menulis adalah salah satu bentuk berbagi yang paling kuat.

Apalagi di zaman kecerdasan buatan seperti sekarang. Teknologi dapat membantu kita mencari ide, menyusun kerangka, memperbaiki bahasa, bahkan memberikan berbagai alternatif judul. Namun, pengalaman manusia tetap tidak bisa digantikan begitu saja.

AI bisa membantu merapikan kata.

Tetapi pengalaman hidup adalah milik kita.

AI bisa membantu mencari gagasan.

Tetapi suara hati dan pengalaman seorang guru tetap memiliki keunikan.

Karena itu saya selalu mengingatkan peserta untuk menggunakan teknologi secara bijak. Jangan sampai kecerdasan buatan membuat kita malas berpikir dan kehilangan suara pribadi dalam tulisan.

Tulislah dengan pengalaman sendiri.

Gunakan AI sebagai alat bantu bila diperlukan.

Tetapi jangan serahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Tulisan yang memiliki jiwa biasanya lahir dari pengalaman yang benar-benar kita rasakan.

Itulah sebabnya saya senang ketika melihat peserta KBMN Gelombang 35 mulai berani menulis. Ada tulisan yang masih sederhana. Ada yang belum rapi. Ada yang masih banyak kesalahan ejaan.

Tidak masalah.

Tulisan pertama memang tidak harus sempurna.

Yang penting adalah tulisan pertama benar-benar lahir.

Dari tulisan pertama, akan lahir tulisan kedua.

Dari tulisan kedua, lahir tulisan ketiga.

Begitu seterusnya.

Lama-lama, tangan menjadi terbiasa. Pikiran menjadi lebih terstruktur. Ide semakin mudah muncul. Menulis tidak lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi kebutuhan.

Pada titik itulah seorang guru mulai menemukan kebahagiaan dalam menulis.

Saya pun terus belajar.

Walaupun sudah bertahun-tahun menulis, saya tidak pernah merasa sudah selesai belajar. Setiap tulisan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Setiap komentar pembaca adalah masukan. Setiap pengalaman adalah bahan pembelajaran.

Bagi saya, menjadi guru berarti terus belajar.

Berbagi ilmu menulis di KBMN PGRI Gelombang 35 juga menjadi pengingat bagi diri saya sendiri bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan.

Kita mungkin lupa kepada siapa pernah mengajar.

Tetapi tulisan yang kita bagikan bisa tinggal jauh lebih lama.

Bisa dibaca bertahun-tahun kemudian.

Bisa menjadi inspirasi bagi guru lain.

Bisa membantu seorang siswa.

Bisa menguatkan seseorang yang sedang menghadapi masalah.

Dan bisa menjadi warisan pemikiran ketika kita sudah tidak lagi berada di ruang kelas.

Itulah alasan saya terus menulis.

Bukan semata-mata mengejar jumlah pembaca.

Bukan sekadar mengejar penghargaan.

Bukan pula hanya untuk mengejar keuntungan.

Saya menulis karena saya percaya bahwa pengalaman akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan.

Kepada seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35, saya ingin berpesan sederhana.

Jangan berhenti menulis hanya karena merasa tulisan kita belum bagus.

Jangan berhenti menulis hanya karena pembaca belum banyak.

Jangan berhenti menulis hanya karena belum memiliki buku.

Teruslah menulis.

Sebab penulis yang hebat bukanlah orang yang tidak pernah menghasilkan tulisan buruk. Penulis hebat adalah orang yang terus belajar menghasilkan tulisan yang lebih baik.

Mulailah dari apa yang kita ketahui.

Tulislah apa yang kita alami.

Bagikan apa yang kita pelajari.

Dan jadikan tulisan sebagai jejak kebaikan.

Saya, Omjay, akan terus berbagi dan belajar bersama guru-guru Indonesia.

Sebab saya percaya, satu guru yang menulis dapat menginspirasi banyak guru lainnya.

Dan ketika ribuan guru Indonesia mulai menulis, sesungguhnya kita sedang membangun sebuah perpustakaan besar yang berisi pengalaman, ilmu, perjuangan, dan inspirasi pendidikan bangsa.

Mari menulis.

Mari berbagi.

Mari belajar tanpa henti.

Karena boleh jadi, tulisan sederhana yang kita buat hari ini adalah cahaya yang sedang dibutuhkan seseorang di kemudian hari.

Pendaftaran Hubungi Omjay di 08159155515

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar