EMBUH PAGI 0826 | 05
MUDAH BICARA TENTANG KEBAIKAN, SULIT MELAKUKANNYA
Sebuah Refleksi tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari Sudut Pandang EMBUH dengan Konsep Berpikir Out of The Box
Bicara tentang kebaikan ternyata mudah. Kita bisa dengan lancar menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang bersikap, bagaimana seharusnya orang lain memaafkan, bersabar, bersyukur, ikhlas, menolong, dan berbuat baik.
Tapi ketika giliran kita yang harus melakukannya, ceritanya bisa berbeda.
Saya pun begitu.
Mudah sekali mengatakan, “Harus sabar.” Tetapi ketika saya yang dibuat kecewa, ternyata sabar tidak semudah mengucapkannya.
Mudah mengatakan, “Harus ikhlas.” Tetapi ketika sesuatu yang saya inginkan tidak terjadi, hati ternyata masih suka bertanya, “Kenapa harus begini?”
Mudah menyuruh orang lain memaafkan. Tetapi ketika saya sendiri yang disakiti, ternyata memaafkan membutuhkan proses yang tidak sederhana.
Dari situ saya belajar untuk lebih berhati-hati ketika berbicara tentang kebaikan.
Karena mengetahui kebaikan tidak otomatis membuat saya menjadi orang baik.
Saya bisa tahu mana yang benar, tetapi belum tentu selalu mampu melakukannya. Saya bisa menjelaskan panjang lebar tentang kesabaran, tetapi mungkin masih sering kehilangan kesabaran. Saya bisa berbicara tentang keikhlasan, tetapi masih bisa kecewa ketika harapan tidak sesuai kenyataan.
Dan mungkin justru di situlah saya sedang belajar.
Kebaikan bukan sekadar sesuatu yang enak dibicarakan. Kebaikan adalah sesuatu yang harus dilatih, dijalani, dan dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari—terutama ketika tidak ada yang melihat dan tidak ada yang memberikan pujian.
Berpikir Out of The Box, mungkin ukuran seseorang bukan seberapa pintar ia berbicara tentang kebaikan, tetapi seberapa jauh ia mampu menjalankan apa yang ia bicarakan.
Sebab kadang kita terlalu sibuk menjadi penasihat bagi orang lain, sampai lupa bahwa nasihat yang paling sulit adalah nasihat untuk diri sendiri.
Saya pun masih belajar.
Belajar sabar ketika tidak sesuai keinginan.
Belajar diam ketika sebenarnya ingin membalas.
Belajar memaafkan ketika ego ingin mempertahankan kesalahan orang lain.
Belajar berbuat baik tanpa harus diketahui.
Dan belajar menerima bahwa menjadi baik bukanlah sebuah status, melainkan proses yang harus diulang setiap hari.
Mungkin karena itu saya tidak ingin terlalu cepat mengatakan, “Saya orang baik.”
Cukup berusaha menjadi lebih baik dari diri saya yang kemarin.
Kalau hari ini masih gagal, belajar lagi.
Kalau hari ini masih marah, belajar mengelola lagi.
Kalau hari ini masih sulit ikhlas, belajar menerima lagi.
Karena saya mulai memahami, kebaikan bukan tentang seberapa indah kita membicarakannya, tetapi seberapa nyata kita menjalaninya.
Dan kalau akhirnya saya mampu melakukan satu kebaikan, saya pun teringat pada refleksi sebelumnya:
Saya tetap tidak punya banyak alasan untuk menyombongkannya.
Saya hanya sedang diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar dan menjadi jalan bagi sebuah kebaikan.
“Mbuh priben carane... kersane Gusti Allah.”
Maka hari ini saya ingin lebih sedikit berbicara tentang bagaimana orang lain seharusnya menjadi baik, dan lebih banyak bertanya kepada diri sendiri:
“Sudahkah saya melakukan apa yang selama ini saya bicarakan?”
Karena mungkin, perubahan tidak dimulai dari nasihat yang paling panjang.
Perubahan dimulai ketika apa yang kita ucapkan mulai kita lakukan.
Salam EMBUH,
{{{ Positif, Sehat dan Bahagia }}}
CATATAN
EMBUH adalah akronim dari Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing.
EMBUHISME adalah konsep pemikiran Out of The Box tentang Hidup, Kehidupan, dan Penghidupan dari sudut pandang yang EMBUH (Empowerment, Mindfulness, Behavior, Unconscious, Healing).
Buku “Aku Wong Embuh”
Untuk pemesanan, hubungi 0858-6767-9796.