MENULIS REFLEKSI DARI RUMPAKA LAGU "SEJA NEPANGAN"

2026-09-18 22:39:49 | Diperbaharui: 2026-09-18 22:46:43
MENULIS REFLEKSI DARI RUMPAKA LAGU "SEJA NEPANGAN"
Ilustrasi Menulis menulis refleksi dari rumpaka lagu: Dibuat dan oleh penulis dengan bantuan  (DALL•E/ChatGPT, 18 Setember 2026)

 

MENULIS REFLEKSI DARI RUMPAKA LAGU “SEJA NEPANGAN”: KESETIAAN PADA JANJI MENUJU ISTIQAMAH DALAM ILMU DAN PENGABDIAN

 

Oleh: A. Rusdiana

Pena Berkarya Bersama (PBB) Ke-230
Kini didukung oleh 2.682 Anggota

Bisakah sebuah rumpaka lagu menjadi bahan untuk belajar menulis? Tentu, sebab menulis tidak selalu harus dimulai dari teori, data, atau persoalan akademik. Pengalaman, karya budaya, bahkan sebuah lagu dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan gagasan. Salah satunya adalah rumpaka lagu Sunda “Seja Nepangan” karya Nana Sukmana. Tresedia di https://youtu.be/zuNqVN1sFUs?si=4sXmw3LV9aedenNq

Di balik ungkapan puitis tentang bintang, bulan, matahari, angin malam, dedaunan, dan gunung, tersimpan perjalanan batin tentang janji, kegoyahan, kesadaran, dan keinginan untuk kembali.

Ungkapan “sangkan diri angger tigin, kana pasini bihari” menghadirkan pesan tentang keteguhan terhadap janji yang pernah diikrarkan. Sementara “ayeuna seja nepangan” menggambarkan kesadaran untuk kembali mendekat setelah hati sempat berpaling. Pesan tersebut memiliki kesinambungan dengan tema “Merawat Istiqamah, Memanjangkan Usia Manfaat Ilmu dan Pengabdian.”

Bagi kegiatan Pena Berkarya Bersama (PBB) Ke-230, rumpaka ini dapat menjadi latihan bahwa membaca karya tidak berhenti pada menikmati keindahannya. Kita dapat membaca, menangkap makna, merefleksikan nilai, menghubungkannya dengan kehidupan, kemudian mengubahnya menjadi tulisan. Dari proses itulah sekurang-kurangnya terdapat empat hikmah yang dapat dipetik:

Pertama: Menulis untuk Mengingat Kembali Janji dan Arah; Rumpaka Seja Nepangan membawa pembaca kepada pasini bihari janji masa lalu yang tetap harus dijaga. Bintang, bulan, matahari, angin malam, dedaunan, dan gunung seolah menjadi saksi perjalanan manusia. Pesannya sederhana tetapi mendalam: jangan kehilangan arah hanya karena perjalanan telah berlangsung lama.

Dalam dunia belajar, janji tersebut dapat dimaknai sebagai komitmen untuk mencari dan mengembangkan ilmu. Ketika seseorang mulai menulis, sesungguhnya ia sedang mendokumentasikan perjalanan intelektualnya. Apa yang dipelajari hari ini tidak dibiarkan berlalu, tetapi direkam menjadi gagasan yang dapat dibaca kembali dan dikembangkan.

Di sinilah menulis bertemu dengan istiqamah. Menulis membantu kita mengingat untuk apa belajar itu dimulai. Ketika niat dan arah tetap terpelihara, ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi bergerak menuju kebermanfaatan.

Kedua: Menulis sebagai Ruang Karumasaan dan Muhasabah; Ada kejujuran menarik dalam Seja Nepangan. Sang aku lirik mengakui pernah goyah: “rumaos diri téh sering nogéncang”. Bahkan ia menyadari pernah terbawa oleh sesuatu yang lain dan hanya berlangsung sesaat. Di sinilah muncul karumasaan—kesadaran terhadap keadaan diri.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa istiqamah bukan berarti manusia tidak pernah mengalami kegoyahan. Dalam belajar, menulis, bekerja, dan mengabdi, kejenuhan serta perubahan perhatian dapat terjadi. Persoalannya bukan semata-mata pernah goyah, melainkan apakah seseorang mampu menyadarinya dan memperbaiki arah.

Menulis dapat menjadi ruang muhasabah tersebut. Ketika pengalaman dituangkan dalam tulisan, seseorang belajar bertanya: Apa yang telah dilakukan? Di mana arah mulai berubah? Apa yang harus diperbaiki? Karena itu, tulisan reflektif bukan sekadar menyusun kata-kata, tetapi mengubah pengalaman menjadi kesadaran dan kesadaran menjadi pembelajaran.

Ketiga: Menulis Mengubah Kesadaran Menjadi Karya; Kesadaran dalam Seja Nepangan tidak berhenti pada penyesalan. Ungkapan “ayeuna seja nepangan” menunjukkan adanya kehendak untuk kembali. Inilah titik penting: kesadaran harus bergerak menjadi tindakan.

Demikian pula dalam pendidikan. Mengetahui sesuatu belum cukup. Ilmu harus menemukan bentuk aktualnya melalui tindakan dan karya. Membaca melahirkan bahan berpikir; berpikir melahirkan gagasan; gagasan dapat dituliskan; tulisan dapat dibagikan; dan pengetahuan yang dibagikan dapat menghadirkan manfaat.

Maka, menulis merupakan salah satu jembatan antara ilmu dan pengabdian. Catatan sederhana dapat berkembang menjadi artikel, esai, bahan ajar, buku, gagasan inovatif, bahkan inspirasi bagi orang lain. Ilmu yang semula berada dalam diri mulai memperoleh kehidupan sosial ketika diwujudkan menjadi karya.

Keempat: Istiqamah Menulis Memanjangkan Usia Manfaat; Seja Nepangan akhirnya membawa kita kepada persoalan kesetiaan. Setelah mengalami kegoyahan dan tumbuh kesadaran, yang diperlukan berikutnya bukan sekadar kembali sesaat, melainkan bertahan dalam keteguhan. Di sinilah makna istiqamah menemukan relevansinya.

Semangat dapat datang dan pergi. Inspirasi pun tidak selalu hadir setiap saat. Namun, karya tidak dibangun hanya dengan semangat sesaat. Ia membutuhkan pembiasaan, kesabaran, ketekunan, dan konsistensi. Begitu pula pengabdian.

Ketika ilmu ditulis, diamalkan, dan dibagikan secara istiqamah, manfaatnya dapat melampaui ruang dan waktu kehadiran penulisnya. Orang lain dapat membaca, mempelajari, mengembangkan, bahkan meneruskannya. Dengan demikian, usia manusia memang terbatas, tetapi usia manfaat ilmu tidak harus berhenti bersama pemiliknya. Istiqamah dalam belajar, menulis, berkarya, dan mengabdi merupakan salah satu jalan untuk memanjangkan usia manfaat tersebut. Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar