Ada penelitian yang dimulai dari kuesioner. Ada pula yang justru dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya ingin kita ukur?
Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Penyusunan Konsep Penelitian untuk Penilaian Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja di Satuan Pendidikan Muhammadiyah, Rabu (19/8/2026), di Hotel Grand Savero Bogor.
Pertemuan berlangsung secara hybrid, pukul 09.00–20.30 WIB. Waktunya panjang, tetapi isu yang dibahas memang tidak sederhana. Kesehatan reproduksi remaja bukan sekadar urusan pengetahuan tentang tubuh. Di dalamnya ada nilai, perilaku, lingkungan pendidikan, relasi sosial, serta bagaimana pendidikan membentuk kemampuan remaja menjaga dirinya.
Forum ini mempertemukan Tim Inti Kesehatan Reproduksi Remaja dari PP Nasyiatul Aisyiyah bersama Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah dan UNFPA. Tim inti terdiri atas Lia Karisma Saraswati, Lesti Kaslati Siregar, Rifqi Alifa Bestari, Fatihah Nur, Shira Sahira, Fathny Rezany Zeyin, Windarti, Drs. Unang Rahmat, M.M., dan Margaretha Sitanggang.
Dari sisi akademik, hadir Tim Peneliti UGM sebagai narasumber. Sementara tim penyusun penelitian melibatkan Dr. Nurfadhilah, SKM., MKM.; Dr. Rr. Arum Ariasih, SKM., MKM.; Nur Romdhona, S.H., M.Kes.; Drs. H. Agus Soleh, M.Ed.; Prof. Dr. H. Qowaid, M.A.; dan Dr. Bagus Mustakim, S.Ag., M.Si.
Bukan Sekadar Membuat Instrumen
Hal menarik dari forum ini adalah fokusnya bukan semata-mata membuat instrumen penilaian.
Sebelum menyusun pertanyaan, harus ada kesepahaman tentang konsep apa yang hendak dinilai.
Apakah penilaian hanya mengukur pengetahuan siswa? Ataukah juga sikap dan perilaku? Bagaimana nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah masuk ke dalam kerangka tersebut? Dan bagaimana memastikan bahwa instrumen yang disusun tetap relevan dengan kehidupan remaja di satuan pendidikan Muhammadiyah?
Di sinilah penelitian menjadi lebih dari sekadar pekerjaan teknis.
Ia menjadi upaya untuk menerjemahkan pendidikan kesehatan reproduksi ke dalam sesuatu yang dapat dipahami, diterapkan, sekaligus dinilai secara akademik.
Menemukan Titik Temu Pendidikan dan Kesehatan
Kesehatan reproduksi remaja memiliki wilayah yang luas. Sementara itu, satuan pendidikan Muhammadiyah memiliki kekhasan dalam pendidikan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, akhlak, dan pembentukan karakter.
Titik temu keduanya menjadi ruang penting untuk dikaji.
Dalam konteks kurikulum ISMUBA, misalnya, materi seperti balig, haid, ihtilam, bersuci, pola hidup bersih dan sehat, akhlak terhadap diri sendiri, hingga kehidupan berkeluarga memiliki keterkaitan dengan pendidikan kesehatan reproduksi.
Artinya, pendidikan kesehatan reproduksi tidak harus hadir sebagai materi yang berdiri sendiri. Ia dapat dibaca sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang sudah tumbuh di sekolah dan madrasah Muhammadiyah.