Oleh: A. Rusdiana
PBB Ke-225 | Didukung 2.675 Anggota
InnÄ lillÄhi wa innÄ ilaihi rÄji‘Å«n.
Wafatnya Prof. Dr. H. Sanusi Uwes, M.Pd., pada Jumat, 21 Agustus 2026, menghadirkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, murid, dan dunia pendidikan. Bagi saya, kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang akademisi senior, melainkan kehilangan seorang guru, motivator, sekaligus sosok yang ikut membuka jalan perjalanan karier akademik saya.
Mengapa kenangan terhadap guru perlu ditulis? Sebab penghormatan kepada guru tidak semestinya berakhir ketika proses belajar di ruang kuliah selesai. Ada guru yang ilmunya terus hidup melalui murid-muridnya. Ada pula guru yang melalui kepercayaan sederhana mampu mengubah arah perjalanan seorang murid. Prof. Sanusi Uwes adalah sosok seperti itu bagi saya.
Pertama: Pengantar Buku yang Membuka Jalan Mengajar; Salah satu pengalaman yang tidak pernah saya lupakan adalah kesediaan Prof. Sanusi Uwes memberikan pengantar untuk buku saya, Pengembangan Organisasi Lembaga Pendidikan, yang terbit pada 2013.
Bagi orang lain, pengantar sebuah buku mungkin dipandang sebagai beberapa halaman pembuka. Bagi saya, maknanya jauh lebih besar. Dukungan tersebut sekaligus menjadi bentuk kepercayaan akademik yang mengantarkan saya memperoleh kesempatan mengajar pada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung sejak 2013.
Ketika itu beliau merupakan Ketua Program Studi S2 MPI. Saya untuk pertama kalinya memperoleh pengalaman mengajar di jenjang Pascasarjana. Kesempatan tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan akademik saya.
Dari beliau saya belajar bahwa seorang guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan. Guru yang sesungguhnya mampu melihat potensi, memberikan kepercayaan, dan membuka jalan agar muridnya berkembang. Kadang-kadang satu bentuk kepercayaan dari seorang guru menentukan perjalanan panjang seorang murid.
Kedua: Menulis Buku Bersama sebagai Bentuk Kepercayaan; Kenangan kedua hadir pada 2017. Sebagai bentuk penghormatan sekaligus proses belajar, saya memperoleh kesempatan menulis bersama Prof. Sanusi Uwes dalam buku Sistem Pemikiran Manajemen Pendidikan: Alternatif Memecahkan Masalah Pendidikan.
Beliau menjadi penulis pertama, sedangkan saya menjadi penulis kedua. Bagi saya, kesempatan tersebut bukan sekadar kolaborasi menghasilkan buku. Menulis bersama seorang guru merupakan ruang belajar yang berbeda: saya dapat menyaksikan bagaimana gagasan dibangun, ilmu dipertanggungjawabkan, dan pengalaman akademik diwariskan melalui tulisan. Buku tersebut kemudian memiliki arti khusus dalam perjalanan karier saya karena sekaligus memperkuat rekomendasi penetapan home base pada Program Studi S2 MPI.
Dua buku, dua momentum, tetapi memiliki satu benang merah: kepercayaan seorang guru kepada muridnya. Kepercayaan itulah yang secara perlahan ikut membangun keberanian saya untuk terus mengajar, menulis, meneliti, dan mengabdi.
Ketiga: Guru Hadir dalam Pencapaian Muridnya; Kini, ketika perjalanan akademik telah membawa saya sampai pada puncak karier sebagai guru besar, saya semakin memahami bahwa sebuah pencapaian tidak pernah sepenuhnya dibangun seorang diri. Di belakangnya selalu ada doa orang tua, keluarga, sahabat, kolega, dan terutama guru-guru yang pernah menanamkan ilmu serta memberikan kesempatan.
Karena itu, mengenang Prof. Sanusi Uwes pada saat beliau berpulang menjadi momentum untuk melakukan muhasabah. Gelar akademik boleh bertambah, jabatan dapat berubah, dan karya dapat terus bertumbuh. Namun, seorang murid tidak pernah menjadi terlalu tinggi untuk kembali menundukkan kepala di hadapan jasa gurunya.
Justru semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin besar kewajibannya mengingat orang-orang yang pernah menunjukkan jalan. Penghormatan terbaik kepada guru bukan hanya melalui ucapan belasungkawa, melainkan meneruskan nilai, ilmu, dan keteladanan yang diwariskannya.
Keempat: Menulis agar Jasa Guru Tidak Hilang; Inilah salah satu alasan saya terus menulis. Tulisan dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan. Apa yang pernah dilakukan seorang guru mungkin tampak sederhana ketika peristiwa itu berlangsung, tetapi puluhan tahun kemudian kita baru memahami betapa besar pengaruhnya.
Prof. Sanusi Uwes telah memberikan pelajaran tentang kepercayaan, kemurahan hati akademik, dan keberanian memberikan ruang kepada generasi berikutnya. Tahun 2013 beliau memberi kepercayaan melalui pengantar buku ”Pengembambangan Organisasi Lembaga Pendidikan” dan kesempatan mengajar. Tahun 2017, kepercayaan itu kembali hadir melalui kolaborasi menulis buku. “Sistem Pemikiran Manajemen Pendidikan”
Kini, pada Agustus 2026, rangkaian pengalaman tersebut saya baca kembali sebagai sebuah pesan: ilmu akan bernilai ketika diwariskan dan kesempatan akan bermakna ketika diberikan kepada orang lain.
Tugas saya berikutnya bukan hanya mengenang, tetapi berusaha meneruskan tradisi tersebut kepada mahasiswa dan generasi yang datang sesudah saya. Sebagaimana dahulu seorang guru membuka jalan bagi muridnya, seorang murid yang telah memperoleh kesempatan pada waktunya harus pula membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Kepergian Prof. Dr. H. Sanusi Uwes, M.Pd. meninggalkan duka, tetapi juga warisan keteladanan. Dari dua pengalaman yang tidak terlupakan pengantar buku tahun 2013 yang membuka jalan mengajar di Pascasarjana dan kebersamaan menulis buku tahun 2017 yang memperkuat perjalanan akademik saya belajar bahwa peran guru sering kali melampaui ruang kelas.
Guru tidak hanya mengajarkan ilmu. Guru menumbuhkan keberanian, memberikan kepercayaan, membuka pintu, dan ikut menentukan masa depan muridnya. Di puncak perjalanan karier, mengenang guru membuat saya semakin sadar bahwa keberhasilan seorang murid sesungguhnya menyimpan jejak tangan banyak guru.
Selamat jalan, Prof. Sanusi Uwes. Terima kasih atas ilmu, kepercayaan, kesempatan, dan jalan yang pernah dibukakan. Semoga setiap ilmu yang diwariskan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. InnÄ lillÄhi wa innÄ ilaihi rÄji‘Å«n.
Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafan beliau, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. ÄmÄ«n yÄ Rabbal ‘ÄlamÄ«n.