Perempuan Sering Menjadi Orang Terakhir yang Memikirkan Dirinya Sendiri

2026-05-27 10:08:25 | Diperbaharui: 2026-05-27 10:08:25
Perempuan Sering Menjadi Orang Terakhir yang Memikirkan Dirinya Sendiri
Visual infografis dibuat dengan bantuan AI. Disusun dan diolah oleh Bubid.

 

“Tidak apa-apa, nanti saja.”

Kalimat itu sangat akrab diucapkan banyak perempuan ketika berbicara tentang dirinya sendiri.

Menunda istirahat. Menunda makan. Menunda membeli kebutuhan pribadi. Menunda memeriksakan kesehatan. Menunda tidur cukup. Menunda menangis. Menunda lelah.

Sementara untuk orang lain, ia selalu berusaha hadir secepat mungkin.

Begitulah banyak perempuan hidup setiap hari.

Mereka terbiasa memastikan semua orang baik-baik saja terlebih dahulu:
anak-anak makan,
suami tenang,
orang tua terurus,
pekerjaan selesai,
rumah berjalan,
target tercapai.

Tetapi sering lupa bertanya:
“Bagaimana dengan dirinya sendiri?”

Ironisnya, pengorbanan seperti itu sering dianggap biasa.

Bahkan kadang dipuji.

Perempuan yang terus kuat dianggap hebat. Yang terus bertahan dianggap luar biasa. Yang mampu memikul semuanya sendirian dianggap dewasa.

Padahal di balik semua itu, banyak perempuan sebenarnya sedang sangat lelah.

Ada yang tetap bekerja meski tubuhnya kurang sehat. Ada yang tetap tersenyum meski pikirannya penuh tekanan. Ada yang menjadi tempat pulang bagi banyak orang, tetapi dirinya sendiri tidak punya tempat untuk benar-benar beristirahat.

Dan semua itu berlangsung terlalu lama sampai akhirnya tubuh mulai memberi tanda.

Mudah lelah. Sulit tidur. Emosi lebih sensitif. Sering cemas. Kepala terasa berat. Tubuh kehilangan energi. Bahkan tidak sedikit yang mengalami kelelahan mental tanpa pernah menyadarinya.

Namun banyak perempuan tetap berkata:
“Aku masih kuat.”

Bukan karena benar-benar baik-baik saja.

Tetapi karena merasa tidak punya pilihan selain terus berjalan.

Kadang perempuan tidak benar-benar lupa menjaga dirinya sendiri. Ia hanya terlalu terbiasa mendahulukan semua orang.

Budaya juga sering membentuk perempuan untuk merasa bersalah ketika mulai memikirkan dirinya sendiri.

Ketika ingin beristirahat, takut dianggap malas.

Ketika ingin meminta bantuan, takut dianggap lemah.

Ketika ingin mengatakan lelah, takut dianggap kurang bersyukur.

Akhirnya banyak perempuan hidup dalam mode bertahan terlalu lama.

Padahal menjaga diri bukan bentuk egoisme.

Beristirahat bukan tanda kegagalan.

Memikirkan kesehatan diri sendiri juga bukan berarti mengabaikan orang lain.

Justru seseorang yang terus-menerus kosong akan semakin sulit memberi energi bagi sekitarnya.

Karena itu, perempuan juga perlu diberi ruang untuk menjadi manusia biasa.

Bukan sosok yang harus selalu kuat setiap waktu.

Kadang yang dibutuhkan bukan nasihat panjang, tetapi kesempatan untuk bernapas tanpa tuntutan.

Mungkin hari ini banyak perempuan hanya ingin didengar tanpa dihakimi. Ingin beristirahat tanpa rasa bersalah. Ingin merasa bahwa dirinya juga penting, bukan hanya perannya bagi orang lain.

Sebab perempuan juga punya tubuh yang bisa lelah.

Punya hati yang bisa rapuh.

Dan punya hak untuk menjaga dirinya sendiri tanpa harus merasa egois.

Karena pada akhirnya, perempuan yang sehat, secara fisik maupun mental, bukan hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga banyak orang di sekitarnya.

Mungkin kita perlu mulai mengubah cara pandang:

Perempuan tidak harus selalu menjadi orang terakhir yang dipedulikan.

Termasuk oleh dirinya sendiri.

Bagaimana menurut Anda?
Apakah perempuan hari ini sudah benar-benar memiliki ruang untuk menjaga dirinya sendiri tanpa rasa bersalah?

Kat@Bubid

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar