Sehat itu Hak, Bukan Kemewahan

2026-06-11 12:58:19 | Diperbaharui: 2026-06-11 13:00:08
Sehat itu Hak, Bukan Kemewahan
Dokpri Bubid/AI

Bagi sebagian orang, hidup sehat mungkin terasa sederhana.

Bisa memilih makanan bergizi. Tidur cukup. Olahraga rutin. Memeriksakan kesehatan secara berkala. Tinggal datang ke rumah sakit ketika membutuhkan pelayanan.

Tetapi bagi sebagian orang lainnya, sehat bukan sesuatu yang mudah dijangkau.

Ada keluarga yang harus memilih antara membeli obat atau membeli beras.

Ada ibu hamil yang menunda pemeriksaan karena biaya transportasi terasa terlalu mahal.

Ada pekerja yang tetap bekerja meski sakit karena takut kehilangan penghasilan harian.

Ada lansia yang memilih diam menahan nyeri karena merasa tidak ingin merepotkan keluarganya.

Di situlah kita mulai sadar bahwa sehat tidak selalu hadir secara adil bagi semua orang.

Padahal kesehatan adalah hak dasar manusia.

Bukan hadiah bagi mereka yang mampu.

Bukan kemewahan yang hanya bisa dinikmati kelompok tertentu.

Namun kenyataannya, akses hidup sehat masih sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, lingkungan, pendidikan, dan tempat seseorang dilahirkan.

Orang yang hidup di lingkungan baik biasanya lebih mudah mendapatkan:
air bersih,
makanan sehat,
udara yang layak,
fasilitas kesehatan,
hingga waktu untuk beristirahat.

Sementara sebagian lainnya hidup di lingkungan yang justru membuat tubuh lebih mudah sakit:
sanitasi buruk,
tekanan ekonomi tinggi,
akses layanan kesehatan terbatas,
jam kerja panjang,
dan pola hidup yang terbentuk karena keadaan.

Akibatnya, banyak orang sebenarnya ingin hidup sehat, tetapi hidup tidak selalu memberi mereka kesempatan yang cukup untuk menjaganya.

“Kadang seseorang tidak hidup tidak sehat karena tidak peduli, tetapi karena hidup terlalu berat untuk memberinya ruang menjaga dirinya sendiri.”

Masalah kesehatan akhirnya bukan hanya soal penyakit.

Ia juga soal keadilan sosial.

Dalam isu kesehatan ibu misalnya, ketimpangan itu masih sangat nyata.

Masih ada ibu hamil yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Ada yang mengalami anemia bertahun-tahun karena kurang gizi. Ada yang terlambat mendapatkan pertolongan karena sistem rujukan lambat atau akses transportasi sulit.

Padahal setiap ibu memiliki hak yang sama untuk selamat saat melahirkan.

Begitu pula anak-anak.

Tidak semua anak tumbuh dengan makanan bergizi, lingkungan sehat, dan akses layanan kesehatan yang baik. Akibatnya, risiko stunting, infeksi, dan gangguan tumbuh kembang menjadi lebih besar.

Karena itu, kesehatan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu.

Negara memiliki tanggung jawab besar menghadirkan sistem yang lebih adil:
layanan kesehatan yang mudah diakses,
tenaga kesehatan yang merata,
edukasi kesehatan yang sederhana,
serta perlindungan bagi kelompok masyarakat paling rentan.

Kesehatan juga tidak cukup dipandang sebagai urusan rumah sakit semata.

Ia berkaitan dengan:
pendidikan,
lingkungan,
pekerjaan,
air bersih,
gizi,
transportasi,
dan kebijakan publik.

Sayangnya, masyarakat masih sering memandang sehat sebagai tanggung jawab pribadi sepenuhnya.

“Kurang menjaga diri.”

“Kurang disiplin.”

“Kurang olahraga.”

Padahal realitas hidup manusia tidak selalu sesederhana itu.

Ada orang yang terlalu sibuk bertahan hidup sampai tidak punya cukup tenaga untuk menjaga tubuhnya sendiri.

Karena itu, empati menjadi penting.

Kita mungkin belum mampu mengubah seluruh sistem. Tetapi setidaknya kita bisa mulai memahami bahwa tidak semua orang memiliki garis start kehidupan yang sama.

Sebab sehat seharusnya tidak menjadi hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar lebih mahal.

Sehat adalah hak setiap manusia untuk hidup dengan layak.

Dan bangsa yang benar-benar maju bukan hanya bangsa dengan gedung rumah sakit yang megah, tetapi bangsa yang membuat rakyat kecilnya juga memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat.

Bagaimana menurut Anda?
Apakah layanan kesehatan hari ini sudah benar-benar menjadi hak yang bisa dijangkau semua orang?

Kat@Bubid

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar
Layanan Halo BCA 24 jam dapat diakses melalui nomor 1500888 atau WhatsApp +62 817-9141-800 (pastikan centang hijau). Nasabah juga bisa menggunakan aplikasi haloBCA via telepon gratis melalui internet. Layanan ini melayani informasi, keluhan, dan blokir kartu/akun 24/7.
2026-06-11 18:55:32