Kotekatalk-283: Serunya Naik Mobil Maung Kemenhan Bareng Wisata Kreatif Jakarta
Naik Maung itu sesuatu! (dok.Koteka/Pinidad)

Kotekatalk-283: Serunya Naik Mobil Maung Kemenhan Bareng Wisata Kreatif Jakarta

Mulai : Sabtu, 30 Mei 2026 16:00 WIB
Selesai : Sabtu, 30 Mei 2026 16:40 WIB
zoom
0
08
42
25
Hari Jam Menit Detik
0 Peserta Mendaftar

Hi, Koteker dan Kompasianer, apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.

Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V Bonn sudah menyelenggarakan Kotekatalk-282 yang membahas langsung dari lokasi "Thai Food and Culture Festival" yang diadakan diaspora Thailand di Jerman.

Berlokasi di Boeblingen, tak jauh dari Stuttgart, perjalanan narasumber Gana Stegmann dari rumah membutuhkan waktu sekitar satu jam. Hari panas membuat para penonton yang tak hanya orang Thailand tapi penduduk lokal Jerman memenuhi Elbenplatz, alun-alun yang dipilih menjadi tempat penyelenggaraan acara yang digelar dari tanggal 23-24 Mei 2026.

Merasa kikuk selalu diajak berbahasa Thailand, mengingat raut wajah, ukuran dan warna kulit memang 11-12. Meskipun demikian, rasa gembira tampak menghiasi wajah narsum yang memperlihatkan suasana festival dari HP. Dimulai dari gerbang yang nggak ada loket tiket karena gratis itu, tampak bergelantung mangga besar berwarna kuning. Kuning sekali, segar dan menggemaskan. Makanan sudah dijereng di etalase untuk dijual. Makanan yang dijual mayoritas mengandung B2, ayam dan udang. Antrian di tiap stand dari menit ke menit semakin panjang saja. 

Kamera dilayangkan ke panggung. Di depan itulah, sebuah genderang ditabuh penari perempuan dengan gemulainya. Baju khas Thailand menjadi detil yang menarik perhatian karena perempuan pakai sorban, jadi nggak hanya karena kecantikan sang penarinya. Melihatnya, mengingatkan narsum pada tradisi pukul genderang rame-rame di Jepang, yang dilestarikan sejak anak-anak masih SD.

Narsum mengacungkan jus kelengkeng di tangan kanan. Sambil menyeruput karena haus, ia menjelaskan bahwa harga dibandrol 5 euro atau Rp 100.000,00. Untuk jus mangga, stroberi dan semangka, 7 euro atau Rp 140.000,00. Kalau di Indonesia pasti lebih murah, ya. Maklum, di Jerman, buah-buahan seperti mangga dan kelengkeng harus impor, jatuhnya mahal. Kalau di Indonesia yang kaya akan buah-buahan tropis, harganya dibanting. Bahkan ada kasus juga petani yang buang buah atau sayur karena harga jatuh, ya? Sedih dan prihatin.

Sejenak lewat seorang perempuan berpakaian emas. Penari dengan mahkota yang khas Thailand itu sudah membawakan tarian garuda. Sayap emasnya  kecil tapi menggambarkan kebesaran dan kegagahan seekor burung, yang dipuja banyak negara dan dibuat menjadi lambang negara. Kuku-kuku palsu berwarna emasnya, khas Thailand, panjaaaang sekali. Terlalu lentik. 

Dari belakang panggung, tampak menunggu penari berikutnya. Wastra khas Thailand dengan motif gajah tampak memikat. Alas kakinya tetap dipakai, ya, lantai panas. Mereka pakai sepatu kets. MC yang terdiri dari para lelaki tampak komat-kamit dengan bahasa Thailand, sesekali diselingi dengan terjemahan dengan bahasa Jerman.

Narasumber berjalan ke arah berlawanan. Tampak para penonton menikmati makanan dan minuman sambil menikmati jamuan budaya di panggung. Payung-payung putih melindungi mereka dari sinar matahari. Bierbank atau meja panjang dan kursi panjang yang biasa digunakan di Jerman dalam setiap festival, khususnya festival Oktober di mana orang minum bir, tampak tertata rapi di tengah-tengah alun-alun.

Selain stand makanan, ada stand minuman, sayuran, buah-buahan, souvenir, kosmetik, asesori dan pakaian. Tak ketinggalan toilet. Ini penting. Yang paling sulit memang mencari lokasi parkir. Namanya juga kota. Beruntung, narsum dan suami mendapatkan tempat parkir dekat lokasi, mana gratis lagi. 

Yang paling menarik untuk disimak adalah bagaimana penjual rujak Thailand yang dibuat dari bahan pepaya dan buah lainnya "Pok - pok",  menumbuk bahan-bahan di depan pembeli dengan alat penumbuk dari kayu yang memiliki ketinggian seperti ember. Mungkin supaya nggak muncrat ke mana-mana. Kan, pedas banget. Kalau sampai nyiprat mata bisa ambyar pemandangan.

Dari Jerman, kita beralih ke Indonesia. Baru-baru ini, Koteka baru saja menyelesaikan Kotekatrip-4 menelusuri lorong Kemenhan bersama Wisata Kreatif Jakarta. Terima kasih kepada partner Koteka yang setia ini, juga mbak Ira latief. Kerjasama tersebut diharapkan semakin menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangsa, memviralkan kekayaan negara yang tiada tara, menjalin silaturahim dan networking. Pengalaman naik mobil Maung, tentunya menjadi oleh-oleh yang dikenang sepanjang hayat. Bagaimana rasanya bergabung dengan 20 peserta lainnya? Bagaimana gambaran masuk gedung kemenhan? Apa saja aturannya? Apa saja yang diceritakan guide tentang sejarah keindonesiaan di sana? Yang paling heboh, naik mobil Maung rasanya seperti apa? Bagaimana desain interior dan eksterior mobil? 

Untuk tahu jawabannya, simak obrolan bersama admin offline Koteka yang berada di lokasi bersama 7 peserta dari Koteka lainnya dalam Kotekatalk-283 pada:

  • Hari/Tanggal:  Sabtu, 30 Mei 2026
  • Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 11.00 CEST Berlin
  • Link: Di SINI

Mbak Palupi Mustajab akan menceritakan perjalanan Kotekatrip-4 dari awal sampai akhir. Narasumber itu juga akan membagikan dokumentasi foto dan video yang dikumpulkan selama acara. Para peserta trip yang ikut dan akan hadir dalam Kotekatalk itu, pastinya akan menceritakan juga pengalamannya.

"Ke Bogor jangan lupa mampir ke istana. Di Bogor ada bunga Raflesia. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita bangkitkan pariwisata Indonesia" (menparekraf RI Sandiaga Uno dalam Kotekatalk-83, 2 April 2022).

Jumpa Sabtu.

Salam Koteka. (Gana Stegmann)

0 Peserta Mendaftar


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar