Oleh: A. Rusdiana
PBB Ke-215 ini didukung oleh 2.665 Anggota
Alhamdulillah, tulisan saya yang berjudul "Hari Anak Nasional 2026: Momentum Membangun Sekolah Ramah Anak Menuju Generasi Emas 2045" telah terbit di Harian Jabar Ekspres. Publikasi tersebut menjadi pengingat bahwa tugas seorang pendidik, dosen, dan penulis tidak berhenti di ruang kelas maupun di halaman surat kabar, tetapi harus terus menghadirkan gagasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan juga bagian dari pengabdian intelektual dan dakwah sosial dalam merespons berbagai persoalan kehidupan.
Pada Kamis, 23 Juli 2026 pukul 20.27 WIB, melalui WhatsApp Komunitas Dewan Guru Besar, Prof. Beni Ahmad Saebani mengirimkan pesan singkat yang sangat menggugah, "Jabar darurat begal, tulis kang." Kalimat sederhana tersebut menjadi inspirasi sekaligus amanah moral agar seorang akademisi tidak hanya mampu menganalisis persoalan, tetapi juga menghadirkan solusi melalui tulisan yang mencerahkan masyarakat. Pesan itu saya maknai sebagai panggilan untuk memperluas kontribusi literasi, sehingga gagasan yang dibangun tidak berhenti pada satu media, tetapi menjangkau khalayak yang lebih luas.
Sebagai bentuk ikhtiar memenuhi harapan tersebut, tema tentang pentingnya membangun keamanan sosial, kepedulian, dan budaya saling menjaga saya aplikasikan melalui lima media, yaitu Harian Jabar Ekspres, Harian Koran Priangan, Media Online Kementerian Agama RI, Rubrik Khasanah Jurnal Soreang, dan Media Online Beritadisdik Jabar. Melalui kelima media tersebut diharapkan pesan tentang pentingnya menghadirkan rasa aman, memperkuat karakter masyarakat, serta membangun kepedulian sosial dapat menjangkau pembaca dari berbagai kalangan.
Fenomena meningkatnya tindak kriminalitas jalanan bukan semata-mata persoalan penegakan hukum, melainkan juga tantangan pendidikan karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab bersama. Karena itu, tulisan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menebarkan manfaat melalui ilmu, keteladanan, pelayanan, dan aksi nyata dalam membangun lingkungan yang aman dan berkeadaban. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."
(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh para ulama).
Hadis tersebut menegaskan bahwa setiap ilmu, tulisan, dan pengabdian akan bernilai ibadah apabila mampu menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Semoga ikhtiar kecil melalui lima media ini menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam membangun Jawa Barat yang lebih aman, lebih peduli, dan semakin berkarakter.
Tujuan Penulisan ini, untuk menguatkan budaya menulis sebagai bentuk pengabdian intelektual dan dakwah sosial untuk membangun masyarakat yang aman, peduli, serta saling menghadirkan manfaat bagi sesama. Untuk itu ada empat pembelajaran untuk dimaknai bersama:
Pertama: Menebarkan Manfaat Melalui Berbagi Ilmu; Ilmu akan bernilai ketika memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat. Menulis, mengajar, menjadi narasumber, maupun membimbing generasi muda merupakan bentuk sedekah intelektual yang manfaatnya terus mengalir. Di tengah meningkatnya berbagai persoalan sosial, literasi menjadi sarana membangun kesadaran kolektif agar masyarakat lebih bijak, kritis, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Semakin banyak orang tercerahkan oleh ilmu, semakin kuat pula daya tahan sosial dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Kedua: Menguatkan Kepedulian Sosial dan Solidaritas; Masyarakat yang saling mengenal, saling peduli, dan saling membantu akan lebih kuat menghadapi ancaman sosial. Kegiatan santunan, bakti sosial, Jumat Berkah, gotong royong, maupun kepedulian terhadap tetangga merupakan bentuk nyata menebarkan manfaat. Kepedulian bukan hanya diwujudkan melalui materi, tetapi juga perhatian, doa, tenaga, serta kehadiran ketika orang lain membutuhkan. Budaya saling membantu akan memperkokoh persaudaraan sekaligus mempersempit ruang tumbuhnya tindakan kriminal.
Ketiga: Mengabdikan Keahlian untuk Kepentingan Masyarakat; Setiap profesi memiliki peluang menghadirkan manfaat. Guru mendidik karakter, dosen mengembangkan ilmu, aparat menjaga keamanan, tokoh agama membina moral, tenaga kesehatan melayani kemanusiaan, sedangkan penulis menyebarkan inspirasi dan solusi. Ketika setiap individu mengabdikan kompetensinya dengan penuh tanggung jawab, maka manfaat akan dirasakan oleh masyarakat luas. Pengabdian profesional merupakan investasi sosial yang memperkuat peradaban.
Keempat: Membangun Budaya Aman sebagai Tanggung Jawab Bersama; Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Kepedulian terhadap lingkungan, menghidupkan kembali ronda malam, membangun komunikasi antarwarga, mengawasi ruang publik, serta menanamkan pendidikan karakter sejak keluarga dan sekolah merupakan langkah strategis menciptakan lingkungan yang aman. Islam mengajarkan bahwa keamanan merupakan nikmat besar yang harus dijaga bersama. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa pada pagi hari merasa aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan baginya." (HR. At-Tirmidzi, No. 2346).
Pada akhirnya, publikasi tulisan di media merupakan amanah untuk terus menghadirkan manfaat yang lebih luas. Pesan singkat "Jabar darurat begal, tulis kang" menjadi pengingat bahwa tulisan tidak boleh berhenti sebagai dokumentasi, tetapi harus menjadi ikhtiar membangun kesadaran publik. Menebarkan manfaat melalui ilmu, aksi sosial, pengabdian profesi, dan kepedulian terhadap keamanan merupakan wujud nyata pengamalan nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin. Ketika masyarakat saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling membantu, maka rasa aman akan tumbuh, persaudaraan semakin kuat, dan peradaban yang berkeadaban dapat diwujudkan bersama. Wallahu A’lam.