Work-Life Balance, Karena Hidup Bukan Hanya Soal Deadline

2026-07-20 15:29:49 | Diperbaharui: 2026-07-20 15:30:13
Work-Life Balance, Karena Hidup Bukan Hanya Soal Deadline
Setelah sidang proposal

Sidang Proposal Selesai. Ternyata yang Perlu Dijaga Bukan Cuma Nilai, Tapi Juga Hidup

"Selamat ya, akhirnya selesai sidang proposal."

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi mahasiswa pascasarjana, apalagi yang sedang menempuh tesis, kalimat tersebut menyimpan cerita panjang. Cerita tentang begadang membaca jurnal, revisi yang rasanya tidak ada habisnya, diskusi dengan pembimbing, hingga rasa cemas menunggu hari sidang.

Saya baru saja melewati salah satu tahap itu: sidang proposal tesis di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Rasanya lega.

Tentu saja, bukan berarti perjuangan selesai. Masih ada revisi, pengumpulan data, analisis, hingga sidang hasil yang sudah menunggu di depan. Tetapi setidaknya, ada satu tanjakan yang berhasil dilewati.

Di sela-sela rasa lega itu, saya justru teringat pada pertanyaan yang belakangan sering muncul di kepala: kapan terakhir kali kita benar-benar memberi waktu untuk diri sendiri?

Ketika Tekanan Dianggap Hal yang Wajar

Belakangan ini, berita tentang konflik dalam hubungan, kekerasan, hingga gangguan kesehatan mental semakin sering muncul. Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan mengaku berada di bawah tekanan hidup atau pekerjaan.

Penting untuk ditegaskan bahwa tekanan pekerjaan tidak pernah dapat menjadi pembenaran atas tindakan kekerasan. Kekerasan adalah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan.

Namun, fenomena ini mengingatkan kita pada hal lain: banyak orang hidup dalam tekanan yang tidak mereka kelola dengan baik. Ada yang memilih diam. Ada yang memendam. Ada yang kehilangan kemampuan mencari bantuan ketika beban terasa terlalu berat.

Kesehatan mental bukan hanya urusan individu. Ia juga dipengaruhi oleh lingkungan kerja, budaya organisasi, relasi sosial, dan cara kita memaknai keberhasilan.

Work-Life Balance Bukan Berarti Malas

Ada anggapan bahwa work-life balance adalah hidup santai, bekerja seperlunya, lalu menikmati liburan.

Padahal bukan itu.

Work-life balance adalah kemampuan menjaga agar pekerjaan tidak mengambil seluruh ruang dalam hidup kita.

Masih bisa makan bersama keluarga tanpa terus mengecek email.

Masih bisa berolahraga tanpa merasa bersalah karena "belum produktif."

Masih bisa tidur cukup tanpa menganggap begadang sebagai simbol kerja keras.

Sebagai orang yang belajar di bidang kesehatan masyarakat, saya semakin yakin bahwa promosi kesehatan tidak cukup hanya berbicara tentang olahraga, gizi, atau berhenti merokok. Kita juga perlu membangun budaya kerja yang lebih manusiawi.

Foto yang Mengingatkan Saya

Setelah sidang selesai, tentu ada sesi yang hampir wajib dilakukan: berfoto.

Di balik senyum dalam foto itu, sebenarnya ada rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Bukan karena perjalanan sudah selesai.

Melainkan karena saya diingatkan bahwa hidup tidak boleh hanya berisi target demi target.

Kita memang perlu berprestasi. Perlu mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Perlu menghasilkan penelitian yang bermanfaat.

Tetapi kita juga perlu menikmati secangkir kopi tanpa membuka laptop.

Perlu bercanda dengan keluarga tanpa memikirkan revisi.

Perlu beristirahat tanpa merasa bersalah.

Karena pada akhirnya, gelar mungkin akan selesai dalam hitungan bulan atau tahun.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa ketika semua itu tercapai, kita masih memiliki kesehatan, hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat, dan kemampuan menikmati hidup.

Sidang proposal kemarin menjadi pengingat kecil bagi saya.

Bahwa yang perlu lulus bukan hanya tesis.

Tetapi juga cara kita menjalani hidup dengan lebih seimbang.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar