Menjaga Nyala yang Tak Pernah Padam : Refleksi Perjalanan Kompasianer Brebes sejak 2017

2026-07-18 05:34:31 | Diperbaharui: 2026-07-18 05:34:31
Menjaga Nyala yang Tak Pernah Padam : Refleksi Perjalanan Kompasianer Brebes sejak 2017
KomBes Community, wadah berbagi, berdiskusi dan belajar bersama penulis kompasiana

Oleh: Aziz Aminudin, M.Pd, Ketua Komunitas Kompasianer Brebes

Tidak semua sejarah lahir dari sebuah panggung besar. Ada yang bermula dari obrolan sederhana di grup WhatsApp, dari keberanian beberapa orang mencoba menulis, lalu saling menyemangati agar tidak berhenti berkarya. Begitulah saya mengenang lahirnya Kompasianer Brebes.

Jika ingatan saya tidak keliru, semuanya bermula pada Oktober 2017. Saat itu beberapa Jurnalis Warga CBM News mulai membuat akun Kompasiana. Kami mencoba menulis berbagai peristiwa, gagasan, dan dinamika yang terjadi di Kabupaten Brebes. Tidak semua tulisan diterima. Ada yang diturunkan, ada pula yang harus dihapus karena belum memenuhi kaidah penulisan di Kompasiana. Namun, justru dari situlah kami belajar bahwa menulis bukan sekadar menuangkan kata-kata, melainkan proses panjang untuk terus memperbaiki diri.

Pada masa-masa awal itu, sosok H. Bahrul Ulum (Jilum) menjadi energi yang luar biasa. Beliau tidak hanya mengajak kami membuat akun Kompasiana, tetapi juga menanamkan disiplin menulis. Kalimat yang hingga kini masih terngiang di telinga saya adalah, "Apa yang Anda tulis hari ini di Kompasiana?" Pertanyaan sederhana, tetapi memiliki daya dorong yang sangat besar. Ia mengubah menulis dari sekadar hobi menjadi sebuah kebiasaan.

Dari sanalah lahir sebuah tekad untuk membangun wadah bersama. Kami menyadari bahwa perjalanan seorang penulis akan lebih bermakna ketika ditemani sahabat-sahabat yang memiliki semangat yang sama. Tahun 2018 kami mulai mendiskusikan identitas komunitas, bahkan mengusulkan nama dan logo agar Kompasianer Brebes memiliki jati diri yang kuat sebagai komunitas literasi daerah. Saat itu saya pernah mengusulkan nama Komunitas Kompasianer Brebes (KOMBES Community) sebagai simbol persaudaraan dan kebanggaan bersama.

Perjalanan berikutnya tidak selalu mudah. Kesibukan pekerjaan, keluarga, dan aktivitas sosial membuat ritme komunitas kadang naik turun. Namun, satu hal yang patut disyukuri, semangat itu tidak pernah benar-benar padam.

Sedikit demi sedikit Kompasianer Brebes mulai dikenal. Kami mengadakan kopi darat, berbagi pengalaman kepenulisan, berdiskusi tentang etika menulis, hingga menyelenggarakan pelatihan dengan menghadirkan Kompasianer senior. Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar sekaligus ruang silaturahmi yang mempererat persaudaraan di antara anggota.

Bagi saya, Kompasianer Brebes bukan hanya komunitas penulis. Lebih dari itu, ia adalah rumah. Rumah tempat orang-orang dengan latar belakang berbeda dipersatukan oleh kecintaan terhadap literasi. Di dalamnya ada guru, jurnalis, ASN, mahasiswa, aktivis, pelaku usaha, hingga masyarakat umum. Kami datang dengan pengalaman yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh satu keyakinan bahwa tulisan mampu memberi manfaat bagi banyak orang.

Kini, setelah perjalanan yang telah berlangsung sejak 2017, saya semakin percaya bahwa kekuatan sebuah komunitas bukan diukur dari banyaknya anggota, melainkan dari kemampuannya menjaga kebersamaan. Sebab komunitas yang hebat bukanlah komunitas yang tidak pernah menghadapi tantangan, melainkan komunitas yang tetap bertahan karena anggotanya saling menguatkan.

Saya berharap Kompasianer Brebes tidak hanya dikenal sebagai komunitas yang produktif menulis, tetapi juga menjadi penggerak budaya literasi di Kabupaten Brebes. Kita memiliki begitu banyak cerita yang layak dituliskan: sejarah, budaya, pendidikan, UMKM, pertanian, pariwisata, tokoh-tokoh inspiratif, hingga berbagai praktik baik yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

Mari terus menghidupkan semangat yang telah dirintis sejak 2017. Jangan biarkan grup hanya menjadi tempat membaca pesan tanpa karya. Jadikan setiap pertemuan sebagai ruang belajar, setiap diskusi sebagai sumber inspirasi, dan setiap tulisan sebagai amal intelektual yang manfaatnya terus mengalir.

Saya percaya, kelak orang tidak hanya mengenang siapa yang paling banyak menulis di Kompasiana. Mereka akan mengingat bahwa di Kabupaten Brebes pernah tumbuh sebuah komunitas yang menjadikan literasi sebagai jalan persaudaraan, pengabdian, dan perubahan.

Karena pada akhirnya, tulisan mungkin akan selesai dibaca. Tetapi persahabatan yang dibangun melalui tulisan akan tetap hidup, bahkan ketika waktu terus berjalan.

Salam Literasi. Salam Kompasianer Brebes. Bersama Menulis, Bersama Menginspirasi, Bersama Membangun Brebes.

Tulisan ini sebebagai bentuk mengungkapkan kekangenan dan kerinduan akan kebersamaan bersama ngmpul, semoga menjadi sebuah getaran yang diterima menjadi perwujudan kembali menghadirkan event - event bersama, bukan hanya di ruang digital.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar