"Pak, nanti kalau saya sudah besar, saya ingin jadi orang yang bermanfaat."
Kalimat sederhana itu muncul dari seorang peserta kajian remaja. Tidak diucapkan di atas panggung, bukan pula saat sesi tanya jawab. Ia muncul ketika para peserta diminta menuliskan harapan dan kekhawatiran mereka.
Kajian hari itu sebenarnya belum sempat membahas seluruh materi yang telah disiapkan. Waktu yang tersedia hanya cukup untuk sesi pembukaan dan brainstorming bersama. Namun justru dari aktivitas sederhana tersebut, terlihat betapa remaja memiliki begitu banyak mimpi sekaligus kegelisahan yang sering kali tidak mendapatkan ruang untuk disampaikan.
Peserta kajian berasal dari rentang usia sekitar 10 hingga 21 tahun. Rentang yang cukup lebar, tetapi memiliki satu kesamaan: mereka sedang berada pada fase pencarian jati diri.
Di Balik Senyum Remaja, Ada Banyak Pertanyaan
Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang menyenangkan. Padahal, bagi sebagian anak muda, fase ini justru dipenuhi pertanyaan.
"Apakah saya cukup baik?"
"Bagaimana kalau gagal?"
"Mengapa teman-teman terlihat lebih hebat?"
"Apakah Allah masih sayang kepada saya?"
Di era media sosial, tekanan itu semakin besar. Remaja tidak hanya membandingkan dirinya dengan teman di sekolah, tetapi juga dengan ribuan orang yang mereka lihat setiap hari melalui layar gawai.
Tidak mengherankan jika berbagai persoalan seperti overthinking, kecanduan gawai, FOMO (fear of missing out), rasa minder, hingga putus asa semakin sering dijumpai. Bahkan masalah klasik seperti malas beribadah dan pergaulan yang tidak sehat tetap menjadi tantangan yang nyata.
Pendidikan Karakter Tidak Cukup Hanya di Sekolah
Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk pengetahuan. Namun karakter tidak hanya dibangun melalui mata pelajaran.
Karakter lahir dari keteladanan, kebiasaan, dialog, dan komunitas yang sehat.
Karena itu, remaja membutuhkan ruang-ruang belajar yang membuat mereka merasa aman untuk bertanya, berdiskusi, bahkan mengakui kelemahannya tanpa takut dihakimi.
Kajian remaja menjadi salah satu ruang tersebut.
Di sana mereka tidak sekadar mendengarkan ceramah, tetapi belajar memahami bahwa Islam hadir sebagai pedoman menghadapi persoalan sehari-hari.
Mendengar Adalah Bentuk Kepedulian
Sering kali orang dewasa terlalu cepat memberi nasihat.
Padahal yang dibutuhkan remaja pertama kali bukanlah ceramah panjang, melainkan seseorang yang bersedia mendengar.
Ketika mereka diberi kesempatan menyampaikan harapan dan kekhawatirannya, terlihat bahwa sebagian besar sebenarnya memiliki cita-cita yang baik. Mereka ingin membanggakan orang tua, sukses dalam pendidikan, memiliki pekerjaan yang bermanfaat, dan menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah.
Yang mereka perlukan adalah lingkungan yang mendukung perjalanan itu.
Investasi Terbaik Adalah Menyiapkan Generasi
Membangun masjid memang penting.
Membangun gedung sekolah juga penting.
Namun membangun karakter generasi muda adalah investasi yang dampaknya akan terus mengalir jauh melampaui usia kita.
Setiap remaja yang hari ini belajar menjaga salat, menghormati orang tua, mengendalikan diri, dan peduli kepada sesama berpotensi menjadi pemimpin, pendidik, tenaga kesehatan, pengusaha, atau siapa pun yang membawa manfaat bagi masyarakat di masa depan.
Karena itu, kegiatan pembinaan remaja tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan sampingan. Ia merupakan bagian dari investasi sosial dan spiritual yang hasilnya mungkin baru akan kita lihat bertahun-tahun kemudian.
Mari Menjadi Bagian dari Perjalanan Mereka
Kajian Remaja Syiar Islam akan terus berupaya menghadirkan ruang belajar yang hangat, menyenangkan, dan relevan bagi generasi muda. Kami berharap semakin banyak remaja yang memiliki tempat untuk bertumbuh, bertanya, dan menguatkan iman di tengah tantangan zaman.
Agar kegiatan ini dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak peserta, kami mengajak para pembaca untuk ikut mengambil bagian.
Dukungan tidak selalu harus berupa tenaga. Doa, berbagi informasi, maupun donasi untuk mendukung operasional kajian, pengadaan materi pembelajaran, konsumsi peserta, dan kegiatan pembinaan remaja merupakan bentuk amal jariyah yang insya Allah akan terus mengalir manfaatnya.
Karena membangun generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia bukan hanya tugas ustaz atau pengurus masjid. Itu adalah tanggung jawab kita bersama.
Mari bersama membersamai langkah mereka hari ini, agar kelak mereka menjadi generasi yang menguatkan umat dan memberi manfaat bagi bangsa.