Hi, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.
Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana sudah menggelar Kotekatalk-275, membahas tentang pengalaman berbuka puasa di resto Pakistan di Strömen.
Tepat pada tanggal 21 Februari pukul 17.30 waktu Oslo, waktu berbuka puasa. Kebetulan, rekan bisnis dari Norwegia yang keturunan Pakistan mengajak Gana Stegmann dan suami untuk iftar di resto Pakistan yang menjamu tamu untuk menikmati Manu grill.
Kudapan takjil menjadi makanan pembuka yang dihidangkan resto untuk para tamu yang duduk rapi di antara meja-meja panjang disana. Bisa saja kedatangan mereka karena adanya dua tiket naik umroh gratis dari pemilik resto, atau memang kebiasaan makan di tempat yang satu streaming. Maklum, mayoritas masyarakat Norwegia, bukan muslim.
Apa saja takjilnya?
- Yoghurt
- Kacang-kacangan
- Kurma
- Gorengan
- Samosa
- Kentang goreng
- Buah-buahan
Mungkin agak berbeda dengan Indonesia yang menawarkan kolak, kacang hijau, bubur atau penganan jajan pasar manis lainnya. Perbedaan memang menjadi warna kehidupan.
Lima belas menit kemudian, disajikan makanan utama yang memang sejak lama dipanaskan di panci-panci pemanas makanan yang tertata rapi, baris kayak tentara. Lihatlah jenis makanan khas Pakistan yang dihidangkan:
- Lamb Karahi
- Lamb Shinwari
- Tender Lamb Chop
- Lassi dan masih banyak lainnya.
Roti dan nasi Biryani, tentunya menjadi ciri khas yang berkesan. Sama-sama nasi, tetap beda ya, nasi Biryani sama nasi kuning. Kamu suka yang mana?
Usai melahap santapan lezat ala Pakistan, minuman seperti tes O (teh dengan susu) dan Selasih rasa mawar, menjadi pengusir dahaga dari reaksi bumbu yang kuat.
Hiasan di atas dinding tampak menari-nari. Mulai dari piring dan Paki, kipas Pakistan tampak terpampang rapi pada dinding.
Pengalaman makan bersama orang Pakistan yang merantau di Oslo, menjadi daya tarik tersendiri dan memperkaya khasanah budaya negeri orang.
Dari Stömen, kita menuju Moskow, Rusia.
Admin Koteka, Palupi Musatajab yang juga eks diplomat sedang berada di Moskow. Itulah sebabnya, ia ingin berbagi kesenangan jalan-jalan di sana. Pekerjaannya sebagai wakil negara di luar negeri, membuatnya bisa keliling dunia. Tentunya, saat ini berbeda karena tidak ada beban tugas ketika berada di tempat wisata.
Selain Red Square, obyek mana lagi yang layak untuk dikunjungi dan aman di kantong? Bagaimana perjalanan dari tanah air Indonesia ke Rusia, berkenaan dengan peranh di Timur Tengah? Apa saja yang perlu diperhatikan ketika akan bepergian di masa sulit? Apa kuliner Rusia yang sudah disantap selama ini? Apakah cuaca mendukung perjalanan traveling?
Untuk tahu jawabannya, mari merapat dan simak Kotekatalk-276 pada:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 18 April 2026
- Pukul: 16.00 WIB Jakarta atau 11.00 CEST Berlin
- Link: Di SINI
"Buah durian harum baunya. Buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita keliling dunia."
Sampai jumpa Sabtu sore.
Salam Koteka. (Gana Stegmann)