Apakah Menulis Lebih Ampuh Merawat Akal daripada Scroll?
Oleh: A. Rysdiana
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan merawat akal menjadi kebutuhan paling mendesak. Fenomena digital overwhelm mendorong banyak orang hanya menjadi konsumen cepat menyerap, membagikan, lalu lupa. Namun pengalaman menerima Awarding Koleksi Terbanyak ke-1 di Repositori UIN Bandung tahun 2025 menunjukkan bahwa menulis secara konsisten bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan proses membangun kultur digital yang tertata. Secara teoritis, gagasan ini sejalan dengan pemikiran Neil Postman tentang “building a responsible intellectual environment” dalam lanskap digital, serta Pierre Lévy yang menekankan bahwa masyarakat digital memerlukan intelligence collective yang lahir dari kontribusi, bukan sekadar konsumsi. Teori literasi digital Paul Gilster menegaskan bahwa literasi bukan hanya kompetensi teknis, tapi “a mind-set for evaluating, creating, and structuring knowledge.”
Gap yang muncul hari ini adalah: banyak penghuni ruang digital memiliki akses luas, tetapi tidak memiliki kultur nalar yang memadai untuk mengelola informasi. Budaya membaca dan menulis sering bergeser menjadi budaya “menyimak cepat, berkomentar cepat, lupa cepat,” sehingga ruang digital miskin kedalaman. Maka tulisan ini bertujuan menjelaskan bagaimana menulis menjadi jalan merawat akal dalam ekosistem digital, sekaligus merefleksikan pembelajaran dari perjalanan menulis yang menghasilkan jejak literasi hingga memperoleh penghargaan Repositori UIN Bandung, dalam spirit Hari Guru 2025 dan HUT KORPRI ke-54: “Pahlawanku Teladanku Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan.” Berikut, Lima Pembelajaran Mendalam dari Menulis sebagai Jalan Merawat Akal dalam Ekosistem Digital:
Pertama: Menulis Mengasah Ketelitian Berpikir; Menulis memaksa seseorang berhenti sejenak dari kebiasaan “scroll tanpa henti” dan masuk ke wilayah kontemplasi. Setiap kalimat harus dipertanggungjawabkan, diverifikasi, dan disusun. Ketelitian inilah yang membentuk mental habit dalam literasi digital. Saat ribuan tulisan tersimpan di Repositori UIN Bandung, saya melihat bahwa jejak digital yang baik selalu dimulai dari nalar yang bersih.
Kedua: Menulis Menghidupkan Memori Akademik Kolektif; Repositori bukan sekadar gudang PDF; ia adalah memori institusional. Dengan menjadi kontributor terbanyak, saya belajar bahwa menulis memperkuat kesinambungan pengetahuan antar-generasi. Guru, dosen, ASN, mahasiswa semua mendapatkan rujukan yang hidup. Semangat Hari Guru 2025 menunjukkan bahwa jejak pemikiran adalah warisan terbaik seorang pendidik.
Ketiga: Menulis Membentuk Etika Digital yang Dewasa; Kultur digital yang beradab tidak lahir dari kecepatan, tetapi dari kedalaman. Proses menulis mengutip sumber, menjaga kejujuran akademik, membatasi plagiasi, dan merawat integritas menciptakan ethical digital footprint. HUT KORPRI ke-54 menegaskan kembali pentingnya integritas ASN di era digital, salah satunya melalui keteladanan literasi.
Keempat: Menulis Menjadi Wahana Kolaborasi Pengetahuan; Setiap tulisan yang saya unggah memicu diskusi baru, rujukan baru, dan sinergi keilmuan. Seperti kata Lévy, knowledge grows by circulation. Temu Kompasiana PBB ke-46 menunjukkan bahwa warga digital bukan lagi penikmat pasif, tetapi produsen gagasan. Dari sinilah lahir ekosistem literasi yang sehat, tidak bising namun produktif.
Kelima: Menulis Melatih Kepekaan Sosial dan Spirit Pengabdian; Tulisan tidak pernah berdiri sendiri; ia lahir dari pergulatan sosial. Pengalaman panjang sebagai ASN selama 39 tahun memberi saya ruang membaca realitas, lalu mengolahnya menjadi teks. Setiap tulisan menjadi bentuk amal jariyah intelektual. Ini sejalan dengan semangat “Pahlawanku Teladanku – Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan”, bahwa pengabdian tidak berhenti pada usia atau jabatan, tetapi hidup melalui manfaat ilmu yang ditinggalkan.
Singkatnya, menulis bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi strategi merawat akal dalam ekosistem digital yang semakin kompleks. Penerimaan Awarding Koleksi Terbanyak ke-1 menunjukkan bahwa jejak literasi yang konsisten mampu membangun kultur digital yang tertata, beretika, dan berdampak. Rekomendasi bagi pemangku kepentingan pendidikan: 1) Perguruan tinggi perlu memperkuat budaya menulis dosen dan mahasiswa melalui repositori yang aktif dan terkurasi; 2) Sekolah dan madrasah perlu membangun writing habit sejak dini sebagai bagian dari penguatan karakter literasi; 3) ASN dan pendidik perlu menjadikan menulis sebagai praktik reflektif untuk menjaga integritas dan profesionalisme; 4) Komunitas digital seperti Kompasiana harus terus menggerakkan ruang produksi gagasan, bukan hanya konsumsi konten; 5) Kementerian terkait perlu memberi insentif bagi gerakan literasi digital produktif, bukan sekadar ceremonial.
Pada akhirnya, menulis adalah jalan merawat akal, menata nalar, dan menguatkan etika di tengah banjir informasi. Jejak digital yang baik tidak terbentuk dalam sehari, tetapi melalui komitmen panjang seperti perjalanan menuju penghargaan Repositori UIN Bandung. Di ruang digital yang penuh riuh, menulis membuat kita tetap waras, tetap terarah, dan tetap bermanfaat. Wallahu A'lam.