Hi, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.
Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia, e.V Bonn sudah mengundang narasumber Kompasianer Shita Rahmawati Rahutomo. Traveler yang baru saja pulan dari China itu sudah banyak mengisahkan perjalanan bersama tur ke Fenghuang. Tur muslim itu ia ikuti bersama Kompasianer Asita DK. Dengan membayar Rp 12,5 juta untuk trip, Rp 900 ribu untuk visa dan Rp 9 jutaan untuk bayar show, ia menikmati 9 hari sudah termasuk makan pagi, hotel dan transportasi lokal.
Itu pertama kalinya manager berhijab itu menikmati salju. Musim dingin memang memungkinkan turis untuk melihat salju turun di China. Ia sarankan bagi siapa saja yang datang pas musim dingin untuk nggak usah bawa baju winter dari Indonesia karena banyak dijual di sana dengan harga aman dan desain menarik, warna-warni.
Mengitari jalanan Fenghuang dengan tiga lajur, terlihat rapi dan bersih. Memang nggak terlihat polisi, tapi semua orang tertib. Semoga ini menjadi inspirasi turis Indonesia yang datang untuk semakin belajar bagaimana menggunakan jalan bersama orang lain dengan baik dan benar.
Hal lain yang bisa ditiru dari perjalanan ke China yakni bagaimana para pekerja bekerja dengan hati; nggak main HP terus, nggak ngopi, menjaga ketertiban, ramah nggak jutek, menjaga kebersihan dan memperhatikan penumpang supaya tertib di tempat khusus seperti lift. Nah, di Indonesia atau tempat lain yang pernah mbak Shita kunjungi, beda banget.
Ditanya soal internet, ia menyarankan untuk mengambil paket dari Indonesia saja. Misalnya untuk harga Rp 300 ribu sudah dapat 80 GB, sedangkan di China, mbak Shita beli hanya dapat 10 GB. Menurutnya, wifii ada di hotel-hotel atau tempat umum tapi lemotnya minta ampun. Mending nggak, daripada stress nggak bisa nikmati perjalanan.
Sedangkan wisata yang ia rekomendasikan adalah:
- Geopark atau cagar alam.
- Tianmen mountain
- Jembatan kaca
- Terbang dengan balon udara
- Pintu surga
- Foto dengan kostum China (dengan 100 Yuan sudah memakai baju adatnya plus make up dan photographer).
Nah, kalian yang ingin ramai-ramai wisata ke sana, disiapin dan ingat apa yang sudah dishare mbak Shita, ya?
Dari Fenghuang, China, kita ke Oslo, Norwegia. Admin Koteka sedang dalam perjalanan ke sana. Bagaimana perjalanan dari Jerman ke Norwegia? Berapa bea tiketnya? Bagaimana kualitas hotel tempat menginap? Apakah dekat dengan pusat kota? Apa saja yang bisa dilihat di sekitarnya? Apa kuliner Oslo yang terkenal? Bagaimana temperatur udara di sana dibanding Jerman? Ke sana pakai visa apa? Apakah cukup hanya dengan ID card atau residence permit dari Jerman? Apa yang bisa ditiru dari Oslo untuk wisata Indonesia?
Untuk tahu jawabannya, simak perjalanan secara langsung dari Oslo pada:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 21 Februari
- Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 10.00 CET Oslo
- Link: Di SINI
Oslo adalah kota di Norwegia yang hanya memiliki penduduk 724.290 orang. Luas wilayahnya hanya 454 km persegi. Kota yang termasuk kota termahal di dunia seperti Zuerich, Swiss atau New York, AS. Mata uang yang dipakai adalah Kroener, sehingga bagai negara yang menggunakan Euro seperti Jerman, Belanda, Austria, Perancis dan lainnya, harganya masih termasuk aman.
Soal keamanan, pernah pada tahun 2011 dan 2022 serangan bom teroris yang menewaskan banyak orang dan menghancurkan lokasi. Narasumber pernah ke sana untuk menemui duta besar RI di Oslo, sampai akhirnya di kemudian hari, bapak dubes berkenan untuk mengisi Kotekatalk bersama para mahasiswa dan Kompasianer yang hadir.
"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia, kita keliling dunia."
Sampai jumpa Sabtu sore.
Salam Koteka. (Gana Stegmann)