Menulis Buku Ajar Berbasis Psikologi Langit di Tengah Pendidikan yang Sakit
Oleh: A. Rusdiana
Menulis di Tengah Luka Sistem Pendidikan; Sejak 2007 saya menulis buku ajar. Dari manajemen pendidikan hingga pembiayaan pendidikan. Ia bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi jejak moral. Tahun 2022–2026 menjadi fase baru: AI hadir sebagai asisten intelektual. Ia membantu menyusun struktur, merapikan footnote, dan menelusuri referensi global. Namun ada satu hal yang tidak bisa digantikan mesin: rasa pedih ketika membaca kabar seorang anak 10 tahun di NTT yang mengakhiri hidup karena biaya sekolah.
Di titik inilah saya memahami kembali peringatan Prof. Imam Suprayogo: pendidikan kita sakit di bagian hati. Kita memiliki kurikulum, standar biaya, dan instrumen evaluasi, tetapi kehilangan empati. Maka menulis buku ajar hari ini bukan sekadar kerja akademik. Ia menjadi terapi batin menyembuhkan kegelisahan sekaligus menyuarakan keadilan. 14 Februari 2026, Wisuda ke-106 UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan tema “Cerdas Spiritual, Tangguh Digital” memberi arah moral: teknologi harus dituntun oleh nilai wahyu. Di sinilah misi “Wahyu Memandu Ilmu” menemukan konteks praksisnya.
Psikologi Langit dan Empati Akademik
Buku ajar berbasis Psikologi Langit tidak berhenti pada transfer konsep. Ia menumbuhkan empati akademik. Mahasiswa manajemen pendidikan tidak hanya belajar menghitung unit cost, tetapi memahami beban psikologis keluarga miskin. Tidak sekadar membaca efektivitas anggaran, tetapi menyadari dampak sosial kebijakan.
Pendekatan ini selaras dengan pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan ilmu harus berpihak pada yang tertindas. Juga sejalan dengan konsep spiritual pedagogy yang dikembangkan Parker Palmer: mengajar adalah kerja hati. Dalam tradisi Islam, ini menemukan dasar kuat: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ilmu yang terhubung dengan iman melahirkan kepekaan sosial. AI mempercepat kerja teknis, tetapi empati lahir dari kontemplasi. Karena itu penulis buku ajar harus hadir sebagai manusia utuh: berpikir, merasa, dan berdoa. Dari semua itu, menginspirasi pada Lima Pembelajaran Menulis Berbasis Psikologi Langit:
Pertama, menulis sebagai ibadah intelektual. Setiap bab adalah amal jariyah. Dalam perspektif Sya’ban bulan menyiram amal menulis adalah proses merawat niat sebelum panen makna di Ramadan.
Kedua, menghadirkan data dengan rasa. Analisis biaya pendidikan tidak boleh kering. Angka harus bertemu wajah manusia.
Ketiga, mengintegrasikan AI secara etik. AI sebagai alat percepatan, bukan pengganti kesadaran. Ini makna “tangguh digital”.
Keempat, menjadikan buku ajar sebagai gerakan sosial. Ia tidak hanya dibaca di kelas, tetapi menjadi rujukan kebijakan yang berkeadilan.
Kelima, menulis sebagai terapi pendidikan. Di tengah beban administrasi dan krisis sistem, menulis merawat kesehatan batin pendidik.
Ketika, PBB, Kompasiana, dan Jalan Konsistensi; Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini beranggotakan 2.459 orang adalah ekosistem harapan. Dampaknya mungkin belum sepenuhnya terukur, tetapi setiap tulisan adalah gelombang kecil perubahan. Di Kompasiana, konsistensi adalah energi. Dari Penjelajah menuju Fanatik bukan soal peringkat, tetapi ketekunan merawat gagasan. Strateginya sederhana namun spiritual: menulis setiap hari, diawali dengan pantun Psikologi Langit. Pantun menjadi jangkar rasa, tulisan menjadi aliran makna. Semester genap 2025/2026 harus disambut sebagai musim produktif musim menyiram amal intelektual.
Sebagai penutup: Wahyu, Ilmu, dan Keberpihakan; Menulis buku ajar di tengah pendidikan yang sakit adalah bentuk perlawanan sunyi. Perlawanan terhadap ketidakadilan, terhadap ilmu yang kering, terhadap teknologi yang kehilangan arah. AI akan terus berkembang. Tetapi masa depan pendidikan ditentukan oleh satu hal yang tidak dimiliki mesin: empati. Buku ajar berbasis Psikologi Langit adalah jembatan antara wahyu dan realitas sosial. Ia menjadikan ilmu berdenyut. Dan mungkin inilah makna terdalam dari pertanyaan itu: masihkah wahyu memandu ilmu?Jawabannya ada pada setiap halaman yang kita tulis dengan hati. Wallahu A’lam.
______________________
*) Tulisan ini didedikasikan untuk memenuhi tawaran [Topik Pilihan Kompasiana] "Pendidikan Gratis Bukan Sekadar Pembebasan Biaya SPP", sekaligus sebagai bahan penyusunan Buku Ajar Manajemen Pembiayaan Pendidikan. Di tengah krisis pendidikan dan kisah pilu NTT, masihkah buku ajar ditulis dengan nurani atau sekadar memenuhi administrasi?”