MENULIS BUKU AJAR DI TENGAH PENDIDIKAN YANG “SAKIT”: MASIHKAH WAHYU MEMANDU ILMU?
Oleh: A. Rusdiana
Sejak 2007 saya konsisten menulis buku ajar. Dari manajemen pendidikan, kepemimpinan, hingga pembiayaan pendidikan. Bagi saya, buku ajar bukan sekadar kewajiban dosen. Ia adalah jejak intelektual, sekaligus pertanggungjawaban moral. Tahun 2022–2026 menjadi fase berbeda. Saya mulai dibantu AI. Banyak yang bertanya: apakah AI menggantikan penulis? Tidak. AI mempercepat teknis, tetapi arah tetap ditentukan nurani. Ia membantu struktur, referensi, sistematika. Namun makna, pengalaman, dan kegelisahan tetap lahir dari batin penulis. Dan justru di tengah krisis pendidikan yang “sedang sakit”, saya menulis buku ajar Pembiayaan Pendidikan.
Kita membaca kabar pilu: seorang anak usia 10 tahun di NTT mengakhiri hidup karena orang tuanya tak sanggup membiayai sekolah. Ini bukan sekadar tragedi keluarga. Ini alarm sistemik. Padahal Mahkamah Konstitusi telah menegaskan pendidikan dasar wajib dan pembiayaan menjadi tanggung jawab negara. Namun di lapangan, “biaya sunyi” masih menghantui: seragam, transportasi, buku, iuran tak resmi.
Di titik inilah analisis tajam Imam Suprayogo terasa relevan. Ia pernah mengingatkan bahwa pendidikan kita sakit bukan hanya pada struktur, tetapi pada hati. Tes psikologi mungkin membaca gejala, tetapi yang dibutuhkan adalah Psikologi Langit pendekatan yang menyentuh ruh, bukan hanya angka.
Lalu pertanyaannya: bagaimana menulis buku ajar berbasis Psikologi Langit, jika misi UIN Bandung adalah “Wahyu Memandu Ilmu”?:
Pertama, buku ajar tidak boleh berhenti pada data dan teori. Ia harus memuat nurani. Dalam pembiayaan pendidikan, misalnya, kita bisa mengulas teori cost-effectiveness, desentralisasi fiskal, BOS, dan transfer daerah. Tetapi tanpa kesadaran bahwa setiap angka adalah nasib manusia, buku itu menjadi dingin. Psikologi Langit mengingatkan bahwa setiap kebijakan pendidikan memiliki dimensi akhirat. Dana publik adalah amanah. Ketimpangan bukan hanya kesalahan teknis, tetapi potensi kezaliman.
Kedua, integrasi wahyu dan ilmu harus operasional, bukan simbolik. “Wahyu Memandu Ilmu” bukan berarti menambahkan ayat di awal bab. Ia berarti menjadikan nilai wahyu sebagai kompas analisis. Misalnya, ketika membahas alokasi anggaran, kita bertanya: apakah distribusinya adil? Ketika membahas subsidi silang, kita bertanya: apakah ia melindungi yang lemah? Ketika membahas CSR, kita bertanya: apakah maslahatnya lebih besar dari citra?
Ketiga, buku ajar berbasis Psikologi Langit harus menumbuhkan empati akademik. Mahasiswa manajemen pendidikan tidak hanya diajak menghitung unit cost, tetapi memahami beban psikologis keluarga miskin. Tidak hanya menganalisis efektivitas, tetapi menyadari dampak sosial kebijakan.
AI dapat membantu menyusun struktur bab, merapikan footnote, bahkan mengusulkan referensi global. Tetapi AI tidak memiliki rasa sakit ketika membaca kisah anak di NTT. Di sinilah penulis harus hadir sebagai manusia utuh.
Konsistensi menulis sejak 2007 mengajarkan satu hal: buku ajar adalah amal jariyah intelektual. Tahun 2022–2026 mengajarkan hal lain: teknologi dapat menjadi mitra, bukan ancaman. Namun 2026 memberi pelajaran paling berat: pendidikan sedang sakit, dan buku ajar tidak boleh netral terhadap penderitaan.
Menulis bahan ajar berbasis Psikologi Langit berarti menggabungkan ketelitian akademik, ketegasan analitis, dan kepekaan ruhani. Wahyu membimbing arah; ilmu memberi metode; pengalaman memberi kedalaman; dan AI membantu teknis.
Mungkin inilah makna terdalam “Wahyu Memandu Ilmu”: bukan sekadar integrasi kurikulum, tetapi integrasi nurani dalam setiap halaman. Pertanyaan terakhirnya bukan lagi: bisakah kita menulis dengan AI? Tetapi: beranikah kita menulis dengan hati? Wallahu A’lam.
_______________
*) Tulisan ini didedikasikan untuk memenuhi tawaran [Topik Pilihan Kompasiana] "Pendidikan Gratis Bukan Sekadar Pembebasan Biaya SPP", sekaligus sebagai bahan penyusunan Buku Ajar Manajemen Pembiayaan Pendidikan.