![]()
Menulis Buku Ajar Bukan Hanya Menumpukkan Teori: Saat Narsi Harus Punya Nurani
Oleh: A. Rusdiana
Sejak 2007 saya menulis buku ajar. Dari manajemen pendidikan, kepemimpinan, hingga pembiayaan pendidikan. Aktivitas itu semula terasa sebagai kewajiban akademik. Namun dalam perjalanan waktu, ia berubah menjadi terapi batin cara berdialog dengan realitas, sekaligus cara mempertanggungjawabkan ilmu di hadapan nurani.
Memasuki fase 2022–2026, proses menulis mengalami transformasi. Artificial Intelligence hadir sebagai asisten teknis: membantu menyusun struktur, merapikan sistematika, mempercepat pencarian referensi. Tetapi arah tulisan tetap ditentukan oleh kegelisahan manusia. AI bekerja pada wilayah mekanis, sedangkan makna lahir dari ruang batin. Di tengah pendidikan yang “sedang sakit”, menulis buku ajar Pembiayaan Pendidikan menjadi ikhtiar merawat harapan.
Kabar pilu tentang anak usia 10 tahun di NTT yang mengakhiri hidup karena biaya sekolah adalah alarm sistemik. Mahkamah Konstitusi telah menegaskan bahwa pendidikan dasar adalah tanggung jawab negara. Namun realitas “biaya sunyi” masih ada. Di sinilah analisis Imam Suprayogo menemukan relevansinya: pendidikan kita sakit di bagian hati. Maka buku ajar tidak boleh berhenti pada data dan teori. Ia harus memuat nurani.
Dalam perspektif teori pendidikan kontemporer, Paulo Freire menyebut pendidikan sebagai praksis pembebasan, bukan sekadar transfer pengetahuan. Sementara Martha Nussbaum menekankan pentingnya pendidikan yang membangun kepekaan moral. Keduanya menegaskan bahwa ilmu tanpa empati akan kehilangan makna sosialnya.
Bagi kampus dengan misi Wahyu Memandu Ilmu, buku ajar berbasis Psikologi Langit bukan pilihan metodologis, tetapi panggilan peradaban. Sebagaimana ungkapan para ulama, Sya’ban adalah masa menyiram amal agar Ramadan menjadi musim panen iman. Analogi ini sangat relevan dengan proses menulis buku ajar menjelang semester genap 2025/2026. Dari itu semua paling tidak tardapat Lima Pembelajaran: Menyiram Amal di Bulan Sya’ban:
Pertama: Ilmu Harus Menghidupkan Kesadaran Amanah; Dalam teori public value Mark Moore, kebijakan publik harus menghasilkan nilai bagi masyarakat. Dalam perspektif Al-Qur’an, amanah adalah tanggung jawab moral (QS. An-Nisa: 58). Maka setiap pembahasan tentang BOS, desentralisasi fiskal, atau cost-effectiveness harus dibaca sebagai nasib manusia.
Kedua: Menulis sebagai Terapi Pendidikan; James Pennebaker dalam riset expressive writing menunjukkan bahwa menulis mampu menyembuhkan beban psikologis. Dalam konteks pendidikan yang sakit, menulis buku ajar menjadi ruang merawat harapan.
Ketiga: Data Harus Bertemu Empati; Amartya Sen melalui capability approach menegaskan bahwa pembangunan harus memperluas kebebasan manusia. Maka analisis pembiayaan pendidikan tidak cukup mengukur efisiensi, tetapi harus melihat apakah ia membebaskan peserta didik dari ketidakadilan.
Keempat: Wahyu sebagai Orientasi Epistemologis; “Wahyu Memandu Ilmu” bukan slogan. Ia adalah paradigma bahwa ilmu harus berorientasi pada kemaslahatan. Hadis tentang setiap pemimpin sebagai penanggung jawab mengingatkan bahwa dana publik memiliki dimensi akhirat.
Kelima: Konsistensi Menulis sebagai Jalan Peradaban; Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini berjumlah 2.456 anggota adalah ladang amal intelektual. Dampaknya mungkin tidak selalu terukur secara statistik, tetapi setiap tulisan adalah sedekah ilmu. Hal ini menginspirasi bagi Strategi Menjaga Energi Menulis: Dari Penjelajah Menuju Fanatik. Di Kompasiana, konsistensi adalah kunci. Status Penjelajah bukan tujuan akhir. Jalan menuju Fanatik adalah disiplin harian: menulis setiap hari, membuka dengan pantun Psikologi Langit, dan menjadikan tulisan sebagai ruang refleksi. Ini bukan sekadar strategi digital, tetapi strategi spiritual. Menulis setiap hari adalah bentuk muhasabah intelektual.
Penutup: Buku Ajar sebagai Amal Jariyah; Buku ajar yang hanya berisi teori akan menjadi dingin. Tetapi buku ajar yang memuat nurani akan menjadi cahaya. Ia bukan hanya dibaca mahasiswa, tetapi menjadi saksi di hadapan Allah. Di tengah pendidikan yang sedang sakit, menulis adalah cara menyiram harapan. Sebagaimana Sya’ban merawat amal menuju Ramadan, buku ajar berbasis Psikologi Langit adalah ikhtiar merawat ilmu agar tetap hidup. Karena pada akhirnya, ilmu yang dipandu wahyu tidak hanya mencerdaskan akal tetapi juga menghidupkan hati. Wallahu A’lam.