Kotekatalk-268: Romantisme Kota Tua Fenghuang, China
Ke Fenghuan, pas Valentine, yuk! (dok. Shita)

Kotekatalk-268: Romantisme Kota Tua Fenghuang, China

Mulai : Sabtu, 14 Februari 2026 16:00 WIB
Selesai : Sabtu, 14 Februari 2026 16:40 WIB
zoom
0
08
29
03
Hari Jam Menit Detik
0 Peserta Mendaftar

Hi, Koteker dan Kompasianer, apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.

Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana, Pesanggrahan Indonesia dan Perempuan Berkebaya Indonesia - Eropa sudah mengundang Mbak Christiana Dessynta Siswijana Streiff. Ketua PBI-Eropa itu sudah menceritakan banyak hal tentang acara di Treviso, Italia.

Peraih anugerah Kebaya Award 2021 tersebut mengungkap kegiatan yang sudah direncanakan sejak setahun yang lalu itu. Pemilik restoran di sana, yang masuk dalam kategori restoran Michelin itu adalah perempuan dari Indonesia, mbak Sri. Kebetulan di lantai atas restoran, ada ruangan yang bisa digunakan untuk menyelenggarakan kebaya show.

Undangan tak hanya disebar ke Perempuan Berkebaya Indonesia di Eropa, tetapi juga KBRI di Italia, mereka yang bergerak di bidang brand fashion seperti Masmara, Mountclair, Milano, restoran di sekita Treviso, diaspora Indonesia di Italia, Konsul kehormatan untuk Indonesia dan tentunya warga lokal. 

Senang sekali bahwa kuliner yang disajikan selama acara adalah masakan nusantara seperti nasi goreng, Balado dan ikan asin. Sementara dari KBRI, ada jajan seperti risoles dan pastel yang turut menampilkan kenikmatan lidah Indonesia. 

Namanya juga ke luar negeri. Dari Swiss ke Italia, tentunya ada tempat yang sempat dikunjungi bersama kawan-kawan PBI. Di Treviso, ia merekomendasikan tempat seperti  Basilika, kanal dan pusat kota. Selain itu ada Padora yang satu jam dari Treviso, Verona yang merupakan kota legenda Romeo dan Juliet dan Venice, yang hanya berjarak 30 menit saja. 

Ketika ditanya pak Suharyadi, niyaga dari Bandung tentang kebaya asli Indonesia. Mbak Christ menceritakan bahwa ia membaca-baca dan menemukan memang kebaya itu aslinya dari Jawa. Waktu Sultan Hamengkubuwono I, sudah ada kebaya Kartini. Jadi kebaya yang tadinya kemben kemudian kedua pundak ditutup dengan selendang, lalu akhirnya dijahit menjadi satu di tengah-tengah.

Koteka berharap bahwa obrolan singkat tentang pagelaran kebaya di Italia itu akan menginspirasi kita semua bahwa budaya bangsa akan dibawa dan dipromosikan di mana saja. Ini tak hanya penting bagi pemilik budaya tersebut tapi juga memviralkan kekayaan budaya itu yang sudah menjadi identitas negara, tak hanya sebagai penutup badan saja. 

Dari Swiss, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V mengajak kalian ke China. Kali ini Shita Rahmawati Rahutomo akan mengisahkan perjalanannya di Fenghuang. 

Kota yang dikenal sebagai kota Phoenix itu ada di propinsi Hunan. Usia kota yang lebih dari 1300 tahun itu tampak klasik, tua, tenang, nyaman dan romantis di malam hari. Bangunan kunonya memiliki gaya arsitektur zaman Ming dan Qing. Kota terkenal banget dengan bangunan Diaojiaolou. Gedung tampak bersinar di malam hari dari cahaya lampu, menyisakan suasana romantis seperti di negeri dongeng. Wah, bikin ngiler saja untuk angkat koper dan pergi ke sana.

Bagaimana perjalanan dari Jakarta menuju Fenghuang? Berapa budget yang harus dipersiapkan untuk jalan ke sana? Apa saja tempat wisata yang bisa dikunjungi selama di sana? Untuk internet, apakah ada wifii? Bagaimana dengan budaya di sana? Masih tradisional? Apakah sulit menemukan makanan halal di kota itu? Ada tips bagi kita yang ingin ke sana?

Untuk tahu jawabannya, simak obrolannya bersama Kompasianer, traveler dan manager itu pada:

  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Februari 2026.
  • Pukul: 16.00 WIB Jakarta atau 10.00 CET Berlin.
  • Link: DI SINI

Berlibur ke luar negeri, ternyata tidak hanya sekedar jalan-jalan dan menghamburkan uang tabungan saja. Banyak sisi China yang menjadi inspirasi dan akan bermanfaat dalam kehidupan kita. Budaya yang berbeda, hawa yang ekstrim dingin dibanding Indonesia, tentunya secara tak sengaja juga membuat kita sadar "oh, Indonesia juga kaya akan keindahan alam tapi masih kurang pengelolaannya. Sehingga pariwisatanya masih belum semaksimal yang sebenarnya bisa diraih Indonesia."

"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita jalan-jalan keliling dunia." Kali ini kita ke Fenghuang, China. Belum pernah ke sana? Jangan ketinggalan. Sudah pernah ke sana? Ini jadi nostalgia.

Sampai jumpa Sabtu sore.

Salam Koteka. (Gana Stegmann)

 

0 Peserta Mendaftar


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar