Hi, Koteker dan Kompasianer. Masih sehat dan bahagia, bukan?
Minggu lalu Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia sudah mengundang narasumber dari Salatiga, Aldi Lasso. Mas Aldi baru saja datang dari Hongaria, menghadiri kegiatan yang ada hubungannya dengan pariwisata. Lain kali akan dibagi pengalaman di sana dalam edisi Kotekatalk mendatang.
Dekan Jurusan Pariwisata UKSW Salatiga itu baru saja merilis album "The Journey" pada Mei 2025 yang lalu. Kisah kehidupannya sebagai traveler yang hanya sementara, dengan beberapa chapter dan semua terjadi karena kehendak-Nya. Lagu kesukaan mas Aldi dalam album itu adalah "Lihatlah", di mana ia menceritakan bagaimana ia tobat kepada Tuhan. Ia ingat sekali pengalaman tak terlupakan saat di taman Woody di Depok. Umurnya waktu itu masih dua tahun. Saat main ayunan, besi mengenai kepala dan cidera dalam. Akibatnya, mata kanannya buta. Merasa sebagai orang cacat, ia rendah diri. Tamat SMA, ia nganggur sampai dibukakan matanya untuk membuka masa depan hingga berhasil menempuh pendidikan S3. Proses dari nol sampai mencapai titik tinggi itu, semua karena-Nya.
Lagu "Kau sangat berarti", merupakan lagu di mana sang dosen duet bersama sang istri, Sally. Selain Sally, ada Stephanie dan Lia yang bergabung dalam album, mengiringi suara dan lagu rohani yang ia suarakan. Selain kedua lagu tersebut, ada lagu lain seperti "Kembali padamu", "Turn into light", "Janjimu", "Tenang bersamamu" dan "Setiamu." Proses produksi dilakukan di Salatiga. Melalui pengalaman terdahulu saat rekaman di Jakarta, ia merasa nggak canggung lagi untuk membuat album itu.
Nama Lasso, adalah nama keluarga dari Toraja, Sulawesi Selatan. Jadi ketika ditanya para peserta, apakah mas Aldi ada hubungannya dengan Ari Lasso, salah satu mantan anggota Dewa 19 itu, mas Aldi mengiyakan. Memang mereka masih saudara. Papa Ari Lasso anak nomor satu, sedangkan papa mas Aldi Lasso anak ketiga. Pohon tetangga, buahnya tak jauh jatuhnya dari rumah kita.
Bukan hal yang kebetulan kalau Aldi Lasso bisa menyanyi karena masih ada hubungan darah dengan Ari Lasso. Katanya, saat ikut lomba menyanyi di SMP dan kalah, merupakan bibit hobinya menyanyi dan menulis lirik lagu. Kesedihan akan tetap indah saat dirangkai dalam untaian kata dalam sebuah lagu. Apalagi saat membawakannya disertai perasaan hati yang mendalam.
Mas Aldi mengaku, kadang sulit mengatur waktu antara rutinitas di kampus dan hobi menyanyi. Dulu sekali, ia sering menyanyi di cafe dan tempat hajatan. Sekarang paling banter akhir pekan untuk latihan menyanyi atau rekaman.
Dari Salatiga, kita ke Swiss. Mbak Christiana Dessynta Siswijana Streiff akan mengupas kegiatan Perempuan Berkebaya Indonesia Eropa, yang baru saja mengadakan fashion show kebaya di Treviso, Italia. Didukung KBRI di Roma. Ketua PBI Eropa itu akan menceritakan kepada kita tentang ide awal fashion show kebaya di sana dan persiapannya. Bagaimana gambaran acara waktu itu? Siapa saja yang terlibat dalam acara? Bagaimana tanggapan masyarakat dan media tentang kegiatan? Bagaimana mengatur bea acara? Apa saja kuliner yang dicicipi di resto di mana acara diselenggarakan. Selama di Treviso, tempat wisata mana saja yang dikunjungi? Ada tips dan rekomendasi tempat wisata terbaik tapi murah di kantong?
Untuk tahu jawabannya, mari simak Kotekatalk-267 pada:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Januari 2026
- Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 10.00 CET Berlin
- Link: DI SINI
Kebaya merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang harus lestari. Peran setiap wanita Indonesia di manapun ia berada, menjadi faktor penentu keberhasilan pelestariannya. Entah itu kebayak encim, kebayak janggan, kebayak Kartini, kebayak Jawa, kebayak Sunda atau kebayak kutu baru, semua merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Bhinneka tunggal ika. Kebayak yang sudah dicatatkan ke UNESCO sebagai warisan bangsa Indonesia itu merupakan kebanggaan kita semua. Di luar negeri, sensasinya luar biasa saat mengenakannya. Begitu juga di Treviso ini, bukan?
Jumpa Sabtu sore.
Salam Koteka. (Gana Stegmann)