MENULIS MEMPERKUAT SINERGI UMAT DAN BANGSA
Dari Sya’ban yang Menyiram Amal, Menuju Jejak Ilmu yang Menyatukan Peradaban
Oleh: A. Rusdiana
Di zaman ketika percakapan publik mudah berubah menjadi perdebatan keras, kita sering lupa bahwa kata-kata bisa menjadi jembatan, bukan jurang. Media sosial menghadirkan dua kemungkinan sekaligus: mempererat atau memecah. Di titik inilah menulis menemukan makna terdalamnya bukan sekadar mengekspresikan pendapat, tetapi merawat kebersamaan. Menulis yang lahir dari adab dan niat pengabdian dapat memperkuat sinergi umat dan bangsa.
Bagi keluarga besar Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-93 dengan 2.445 anggota, menulis bukan hanya keterampilan literasi. Ia adalah gerakan kebudayaan. Setiap esai, refleksi, dan resensi adalah ikhtiar merawat nilai bersama agar ruang publik tetap sehat. Tulisan yang berangkat dari isu berdampak, dirawat melalui dialog, dan disajikan dengan bahasa santun akan menjadi simpul pengikat kebhinekaan.
Momentum Sya’ban memberi kita metafora indah. Para filusuf muslim menyebut bulan ini sebagai masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan menjadi musim panen iman. Menulis pun serupa. Ia bukan aksi sesaat, melainkan proses pemupukan harian. Kata demi kata adalah air yang menguatkan akar peradaban.
Secara ilmiah, gagasan ini ditegaskan oleh teori cultural transmission dari Pierre Bourdieu. Nilai dan kebijaksanaan tidak akan bertahan jika tidak diwariskan. Tradisi lisan mudah pudar, tetapi tulisan mampu menyeberangi generasi. Sementara konsep social capital dari Robert Putnam menunjukkan bahwa kepercayaan dan kerja sama sosial tumbuh melalui komunikasi yang sehat. Tulisan yang dialogis membangun kepercayaan; tulisan yang provokatif meruntuhkannya.
Pengalaman mengkhatamkan 26 jilid kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya’ lalu menulis resensinya pada malam Nisfu Sya’ban terasa seperti ibadah intelektual. Membaca menghadirkan hikmah, tetapi menulis menyebarkannya. Dari biografi para wali dan ulama, kita belajar bahwa ilmu bukan untuk disimpan, melainkan dibagikan. Menulis resensi menjadi bentuk amal jariyah pengetahuan yang terus mengalir manfaatnya.
Al-Qur’an bahkan memuliakan pena: “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis” (QS. Al-Qalam: 1). Rasulullah ï·º juga bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Maka tulisan yang menguatkan persaudaraan jelas termasuk amal kebajikan. Dari perjalanan literasi ini, ada lima pembelajaran penting:
Pertama, menulis sebagai perekat kebhinekaan; Tulisan yang adil dan berimbang membuka ruang dialog lintas pandangan. Ia mengajak memahami, bukan menghakimi. Di sinilah sinergi umat tumbuh.
Kedua, menulis melatih adab berpikir; Setiap kalimat menuntut kehati-hatian. Kita belajar memeriksa fakta, menghindari prasangka, dan menjaga etika. Ini fondasi ketahanan moral bangsa;
Ketiga, menulis mewariskan nilai lintas generasi; Resensi kitab, catatan refleksi, dan opini kebangsaan menjadi arsip pengetahuan. Generasi mendatang bisa belajar tanpa harus mengulang kesalahan yang sama.
Keempat, menulis membangun konsistensi amal; Sejalan hadis, amal kecil tapi rutin lebih dicintai Allah. Menulis berkala meski singkat lebih berdampak daripada sesekali namun heboh.
Kelima, menulis memperluas dampak pengabdian; Jika dakwah lisan terbatas ruang, tulisan melampaui batas geografis dan waktu. Ia bisa dibaca siapa saja, kapan saja.
Dalam konteks platform seperti Kompasiana, semangat ini relevan untuk mempertahankan posisi Penjelajah menuju Fanatik. Kuncinya bukan sensasi, melainkan konsistensi tema, orisinalitas gagasan, rujukan ilmiah, serta gaya reflektif yang khas. Hindari kemiripan berlebihan, tulis dengan suara sendiri, dan rawat integritas intelektual. Kualitas akan membangun reputasi lebih tahan lama daripada viralitas.
Akhirnya, menulis adalah jalan sunyi yang menyatukan. Ia menyiram amal di bulan Sya’ban, menumbuhkan akar ilmu, lalu berbuah pada Ramadan dan seterusnya. Ketika pena digerakkan dengan niat lurus, ia bukan sekadar alat ekspresi, tetapi perekat sosial menyatukan umat, menguatkan bangsa, dan meninggalkan jejak ilmu yang bertahan jauh setelah kita tiada. Wallahu A’lam.