MENULIS MENJAGA KESINAMBUNGAN ILMU LINTAS GENERASI
Dari Sya’ban yang Menyiram Amal Menuju Jejak Pengetahuan yang Bertahan
Sumber: Ilustrasi digital (AI-generated) tentang Menulis Menjaga Kesinambungan Lintas Generasi, diolah penulis dengan berbantuan AI, tanggal 3 Februari 2026.
Oleh: A. Rusdiana
Ilmu tidak pernah lahir sendirian. Ia tumbuh dari perjumpaan: guru dan murid, teks dan tafsir, pengalaman dan refleksi. Namun ilmu juga tidak bertahan dengan sendirinya. Ia bisa hilang jika tidak dicatat, tidak diwariskan, atau tidak dirawat. Di sinilah menulis menemukan makna peradabannya: sebagai jembatan lintas generasi.
Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan ikhtiar menjaga kesinambungan pengetahuan. Apa yang kita pahami hari ini akan menjadi pijakan bagi mereka yang datang esok. Tanpa tulisan, gagasan mudah menguap; tanpa dokumentasi, pengalaman mudah dilupakan. Tulisanlah yang mengikat memori kolektif umat.
Pengalaman hampir tiga tahun membimbing penulisan disertasi sejak SK pertama 31 Maret 2022 hingga Januari 2026 menguatkan kesadaran ini. Ilmu tidak berpindah secara instan. Ia diturunkan melalui dialog panjang, koreksi sabar, catatan bertahap, dan revisi berulang. Setiap paragraf adalah hasil percakapan. Setiap bab adalah buah kesabaran. Menulis menjadi medium transmisi, bukan sekadar laporan hasil.
Secara teoretis, ilmu sosial mengenal konsep cultural transmission: nilai dan pengetahuan hanya bertahan jika diwariskan secara sistematis melalui simbol dan teks. Tradisi literasi adalah mesin utamanya. Tanpa teks, peradaban terputus. Selain itu, pendekatan knowledge preservation dalam kajian pendidikan modern menegaskan bahwa dokumentasi tertulis menjaga kesinambungan pengetahuan institusional. Apa yang dicatat hari ini akan menjadi referensi generasi berikutnya.
Dalam tradisi Islam, spirit ini telah hidup sejak awal. Wahyu pertama memerintahkan membaca dan menulis. Al-Qur’an mengabadikan perintah pencatatan utang-piutang (QS. Al-Baqarah: 282) sebagai bukti pentingnya dokumentasi. Nabi Muhammad ï·º bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Pesan ini sederhana namun mendasar: ilmu yang tidak ditulis mudah lepas, ilmu yang ditulis menjadi warisan.
Momentum Sya’ban menghadirkan renungan khusus. Para filsuf Muslim menggambarkannya sebagai masa menyiram amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan menjadi musim panen iman. Pada malam Nisfu Sya’ban, ketika doa dan evaluasi diri dipanjangkan, proses khatam membaca serta menulis resensi hikmah Hilyatul Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ Jilid 26 terasa seperti merawat jejak keilmuan para pendahulu. Menuliskannya kembali berarti menghidupkan suara masa lalu agar tetap berbicara pada masa kini.
Di Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) Episode ke-91 dengan 2.443 anggota, makna kesinambungan itu nyata. Setiap tulisan anggota menjadi arsip pengalaman kolektif. Setiap opini adalah jembatan generasi. Apa yang ditulis hari ini mungkin akan dibaca mahasiswa, guru, atau penulis muda di masa depan. Literasi menjadi estafet, bukan perlombaan. Dari refleksi ini, setidaknya ada lima pembelajaran operasional:
Pertama, menulis mengabadikan pengalaman; Apa yang dialami hari ini menjadi pelajaran berharga ketika dicatat dengan jujur. Pengalaman yang tidak ditulis mudah memudar, tetapi yang direkam akan hidup sebagai memori kolektif. Pada malam Nisfu Sya’ban, saya menutup rangkaian khatam Jilid 26 dan menuliskan resensinya pelan-pelan, seperti menata kembali jejak batin para salihin. Setiap kisah zuhud, sabar, dan ketekunan terasa dekat karena dituangkan ke dalam kalimat. Menulis membuat pengalaman rohani tidak berhenti sebagai kesan, melainkan berubah menjadi pelajaran yang bisa dibaca ulang, direnungi, dan diwariskan. Dari catatan itulah perjalanan spiritual memperoleh makna yang lebih abadi.
Kedua, menulis mempermudah pewarisan ilmu; Gagasan yang tertulis lebih mudah dipelajari, dikembangkan, dan disempurnakan generasi berikutnya. Ilmu tidak cukup disampaikan lisan; ia perlu teks agar tidak berubah oleh waktu. Ketika merampungkan resensi Jilid 26 pada Nisfu Sya’ban, saya merasakan seolah sedang menyerahkan estafet pengetahuan dari para ulama terdahulu kepada pembaca hari ini. Hikmah yang dahulu hidup di majelis kini hadir di halaman tulisan. Dengan begitu, generasi muda tidak perlu memulai dari nol; mereka melanjutkan. Menulis menjadi jembatan pewarisan, menjaga agar nilai, teladan, dan kebijaksanaan tetap mengalir lintas zaman.
Ketiga, menulis membangun budaya dialog; Teks mengundang respons, kritik, dan kolaborasi lintas waktu. Setiap tulisan sebenarnya adalah percakapan terbuka dengan pembaca yang mungkin belum kita kenal. Resensi atas Jilid 26 yang ditulis pada malam Nisfu Sya’ban bukan sekadar rangkuman, melainkan undangan berdiskusi: bagaimana keteladanan para wali diterapkan hari ini? Dari sana muncul tanggapan, koreksi, bahkan ide baru. Budaya dialog pun tumbuh. Menulis menghubungkan penulis, pembaca, dan generasi selanjutnya dalam percakapan panjang tentang makna hidup dan ilmu. Ia menjadikan literasi bukan monolog, tetapi ruang bertukar hikmah secara berkelanjutan.
Keempat, menulis menumbuhkan tanggung jawab sejarah; Penulis sadar bahwa setiap kalimat akan dibaca orang lain, sehingga ia berhati-hati dan berintegritas. Ketika menuliskan kembali hikmah para tokoh dalam Jilid 26, saya merasa sedang memegang amanah sejarah. Tidak boleh tergesa, tidak boleh sembarang tafsir. Setiap rujukan harus tepat, setiap makna dijaga kesahihannya. Malam Nisfu Sya’ban menjadi waktu muhasabah: apakah tulisan ini adil bagi para pendahulu dan bermanfaat bagi pembaca? Kesadaran itulah yang menumbuhkan tanggung jawab moral. Menulis bukan sekadar ekspresi diri, tetapi pertanggungjawaban intelektual di hadapan generasi yang akan datang.
Kelima, menulis menciptakan amal jariyah intelektual; Ilmu yang bermanfaat terus mengalir pahalanya meski penulis telah tiada. Tulisan ibarat benih yang ditanam hari ini dan tumbuh di ladang masa depan. Ketika hikmah Jilid 26 dihimpun dan disebarkan kembali melalui resensi, saya membayangkan ia dibaca di ruang kelas, di majelis kecil, atau di waktu sunyi seseorang. Dari sana mungkin lahir perubahan sikap, keputusan bijak, atau inspirasi kebaikan. Itulah makna amal jariyah intelektual. Menulis menjadikan hidup tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi terus memberi manfaat, seperti doa panjang yang tak pernah putus.
Bagi seorang Penjelajah di Kompasiana yang perlahan menapaki jalan menuju Fanatik, menulis rutin bukan sekadar target produktivitas. Ia adalah komitmen keberlanjutan. Setiap artikel menjadi batu kecil dalam bangunan besar peradaban literasi.
Pada akhirnya, menulis adalah cara kita berbicara kepada masa depan. Dari Sya’ban yang menyiram amal, dari malam-malam sunyi Nisfu Sya’ban yang dipenuhi refleksi, hingga halaman demi halaman resensi dan riset, kita belajar bahwa ilmu harus dirawat agar tidak terputus. Dan merawatnya berarti menuliskannya. Wallhu A'lam.