Orang Dewasa dan Harapan yang Menyertai Anak
Banyak orang tua datang dengan pertanyaan implisit:
“Anak saya cocoknya ke mana?”
“Kenapa dia tidak seperti yang saya harapkan?”
“Bagaimana cara mengarahkannya tanpa konflik?”
Tes STIFIn kemudian menjadi pintu masuk refleksi. Bukan untuk memberi label, tetapi untuk membantu orang dewasa memahami bahwa setiap individu memiliki kecenderungan cara berpikir, belajar, dan merespons yang berbeda.
Harapan yang terlalu seragam sering kali membuat anak tumbuh dalam tekanan. Padahal, data perkembangan anak menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara gaya pengasuhan dan karakter anak berhubungan dengan:
-
penurunan motivasi belajar,
-
hingga masalah kesehatan mental remaja.
Mengarahkan Anak Dimulai dari Mengenali Diri
Satu hal yang terasa kuat dari sesi ini adalah perubahan sudut pandang peserta. Banyak yang awalnya ingin “membenahi anak”, justru pulang dengan pertanyaan baru:
“Selama ini saya sudah bicara dan mengarahkan dengan cara yang tepat atau belum?”
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengasuhan berbasis kesehatan mental:
anak berkembang optimal ketika orang dewasa di sekitarnya sadar akan pola pikir dan emosinya sendiri.
Tes kepribadian—apa pun metodenya—menjadi bermanfaat bukan ketika dijadikan alat pembatas, tetapi ketika membantu orang dewasa:
-
lebih sabar,
-
lebih realistis dalam memberi harapan,
-
dan lebih bijak dalam membandingkan anak satu dengan yang lain.
Dari Bireuen: Kesadaran yang Tumbuh dari Orang Dewasa
Yang patut diapresiasi, antusiasme peserta dewasa di Bireuen dan Aceh Utara menunjukkan satu hal penting: kesadaran pengasuhan sedang tumbuh. Di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan dampak krisis, orang dewasa tetap ingin hadir lebih baik bagi anak-anak di sekitarnya.
Ini penting, karena penelitian menunjukkan bahwa faktor protektif terkuat bagi kesehatan mental anak bukan fasilitas, melainkan kualitas relasi dengan orang dewasa terdekat.
Ketika orang tua dan wali mau belajar, anak punya peluang lebih besar untuk tumbuh aman dan percaya diri.
Bukan Menentukan Masa Depan, Tapi Membuka Percakapan
Tes STIFIn atau alat sejenis tidak seharusnya digunakan untuk “mengunci” masa depan anak. Ia lebih tepat dipahami sebagai alat membuka dialog:
-
tentang cara belajar,
-
tentang potensi dan batasan,
-
tentang bagaimana mendukung tanpa memaksa.
Anak bukan proyek ambisi, tetapi individu yang sedang bertumbuh.
Penutup: Anak Bertumbuh, Orang Dewasa Juga Perlu Bertumbuh
Sesi tes STIFIn di Bireuen hari ini mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendasar:
anak tidak tumbuh sendirian—mereka tumbuh bersama orang dewasa di sekitarnya.
Mungkin inilah langkah awal yang sering terlewat:
bukan hanya menyiapkan anak untuk masa depan, tetapi menyiapkan diri kita sendiri untuk mendampingi mereka.