Menulis sebagai Strategi Keberlanjutan Peradaban: Dari Sya’ban yang Merawat Amal, Menuju Jejak Ilmu yang Bertahan
Sumber: Ilustrasi digital (AI-generated) tentang tradisi menulis sebagai keberlanjutan peradaban, diolah penulis, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), tanggal 30 Januari 2026.
Oleh: A. Rusdiana
Peradaban besar tidak lahir dari hiruk-pikuk sesaat, melainkan dari ketekunan panjang yang sering kali sunyi. Salah satu penopangnya adalah tradisi menulis. Dalam sejarah umat manusia, tulisan menjadi sarana utama menjaga pengetahuan, nilai, dan arah masa depan. Karena itu, menulis tidak cukup dipahami sebagai aktivitas personal, melainkan strategi keberlanjutan peradaban.
Refleksi ini menemukan momentumnya di bulan Sya’ban bulan yang oleh para filsuf dan ulama Muslim dimaknai sebagai masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan benar-benar menjadi musim panen iman yang matang dan bermakna. Dalam konteks literasi, menulis di Sya’ban adalah kerja merawat: menata niat, menjaga konsistensi, dan menyiapkan keberlanjutan.
Menulis dan Keberlanjutan: Perspektif Teori Kontemporer
Teori cultural transmission dalam ilmu sosial menegaskan bahwa nilai dan pengetahuan hanya bertahan jika diwariskan secara sistematis. Menulis adalah medium utama transmisi tersebut. Sementara itu, teori long-termism yang berkembang dalam kajian kebijakan publik menekankan pentingnya keputusan hari ini bagi generasi mendatang. Menulis yang konsisten dan berniat lurus adalah bentuk kontribusi jangka panjang investasi peradaban yang melampaui musim popularitas.
Dalam pendidikan tinggi, konsep scholarship of engagement menempatkan karya tulis sebagai jembatan antara ilmu, masyarakat, dan tanggung jawab moral. Tulisan bukan sekadar produk intelektual, tetapi ruang dialog yang hidup. Lima Pembelajaran Utama: Menulis untuk Keberlanjutan
Pertama, menulis menanamkan orientasi jangka panjang; Konsistensi menulis sebagaimana perjalanan setahun mempertahankan status Penjelajah—melatih kesadaran bahwa nilai tidak diukur dari viralitas, melainkan dari keberlanjutan makna. Al-Qur’an mengingatkan, “Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah akan kekal” (QS. An-Nahl: 96).
Kedua, menulis melatih keikhlasan dan ketahanan moral; Dalam dunia digital yang serba cepat, menulis dengan niat pengabdian menjadi latihan melawan godaan sensasi. Rasulullah ï·º bersabda bahwa amal bergantung pada niatnya (HR. Bukhari dan Muslim). Tulisan yang lahir dari niat lurus akan menemukan jalannya sendiri.
Ketiga, menulis menjaga kesinambungan ilmu lintas generasi; Pengalaman hampir tiga tahun membimbing penulisan disertasi—sejak SK pertama 31 Maret 2022 hingga Januari 2026 menunjukkan bahwa ilmu tidak berpindah secara instan. Ia diturunkan melalui teks, dialog, koreksi, dan kesabaran. Menulis adalah pengikat proses itu.
Keempat, menulis merawat etika dan kualitas peradaban literasi; Menjelang Semester Genap 2025/2026, tantangan literasi bukan kekurangan tulisan, melainkan kualitas dan integritasnya. Menjaga sumber, etika kutipan, dan kejujuran intelektual adalah bentuk tanggung jawab peradaban, bukan sekadar kepatuhan teknis.
Kelima, menulis memperkuat sinergi umat dan bangsa; Tulisan yang berangkat dari isu berdampak, dirawat melalui dialog, dan disajikan dengan adab akan menjadi simpul pengikat kebhinekaan. Di sinilah menulis berperan sebagai perekat sosial, bukan pemecah ruang publik.
Strategi Menjaga Konsistensi: Dari Penjelajah Menuju Fanatik
Menjelang fase lanjutan perjalanan menulis, strategi mempertahankan dan meningkatkan kualitas dapat dirumuskan secara sederhana namun mendasar: menetapkan niat pengabdian, menjaga disiplin sumber dan etika, memilih isu yang berdampak, merawat dialog sehat, serta konsisten pada mutu, bukan kuantitas semata. Prinsip-prinsip ini menjadikan menulis sebagai laku berkelanjutan, bukan proyek sesaat.
Singkatnya, menulis adalah jejak yang ditinggalkan zaman kepada masa depan. Di bulan Sya’ban, ketika amal dirawat dalam kesunyian, menulis menemukan makna terdalamnya: menjaga ingatan kolektif, merawat ilmu, dan menyiapkan panen peradaban. Dengan demikian, menulis tidak hanya menguatkan kapasitas personal, tetapi juga menjadi strategi nyata keberlanjutan umat dan bangsa. Wallahu A'lam