Belajar Memahami Diri di Dayah MBS Bireun

2026-01-31 17:53:18 | Diperbaharui: 2026-01-31 17:53:18
Belajar Memahami Diri di Dayah MBS Bireun
MDMC DKI bersama Ustadz Fajar dan Santri MBS

Sekitar 200 santri SMP dan SMA memenuhi aula Dayah MBS Muhammadiyah Bireuen. Suasana tertib khas pesantren berpadu dengan antusiasme remaja yang sedang berada pada fase paling dinamis dalam hidupnya: masa perubahan.

Sesi ini membahas perubahan pada remaja—topik yang sering dianggap sensitif, tetapi justru menentukan kualitas kesehatan fisik, mental, dan sosial generasi muda.


Ikhwan yang Lebih Diam, Akhwat yang Lebih Ekspresif

Sejak awal sesi, dinamika peserta terasa jelas. Santri putri (akhwat) lebih ekspresif, aktif bertanya, dan responsif terhadap diskusi. Sementara santri putra (ikhwan) tampak lebih pemalu, banyak memilih diam dan mendengarkan.

Fenomena ini bukan soal keberanian atau ketertarikan, melainkan bagian dari perbedaan pola sosialisasi remaja. Penelitian perkembangan remaja menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih cepat matang secara verbal dan emosional, sementara laki-laki sering diajarkan untuk menahan ekspresi perasaan.

Diamnya ikhwan bukan berarti abai. Justru di ruang aman seperti pesantren, penting untuk memastikan bahwa remaja laki-laki juga diberi ruang memahami dirinya tanpa stigma.


Ibu Wirda dan Santri akhwat

Perubahan Remaja Itu Normal, Bukan Aib

Dalam sesi edukasi, santri diajak memahami bahwa perubahan fisik dan emosi yang mereka alami adalah proses biologis dan psikososial yang normal. Ketika perubahan ini tidak dipahami, remaja berisiko mengalami kebingungan, kecemasan, hingga perilaku berisiko.

Data kesehatan remaja menunjukkan bahwa kurangnya literasi kesehatan reproduksi dan mental masih menjadi tantangan besar. Banyak remaja mendapatkan informasi dari sumber yang tidak terverifikasi, sehingga sekolah dan pesantren memegang peran strategis sebagai sumber pengetahuan yang aman dan terpercaya.


Bunda Inung 

Kehadiran Aisyiyah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Bunda Inung Nur Sa’adah, pengurus Aisyiyah sekaligus Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh. Kehadirannya memperkuat pesan bahwa isu kesehatan dan tumbuh kembang remaja adalah agenda bersama lintas amal usaha Muhammadiyah—pendidikan, perguruan tinggi, dan gerakan perempuan.

Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat: mendampingi remaja bukan hanya soal pengajaran, tetapi juga keteladanan dan keberpihakan pada kesehatan generasi.


Pesantren sebagai Ruang Aman Tumbuh Kembang

Dayah dan pesantren memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua institusi pendidikan: kedekatan emosional dan nilai spiritual. Jika ruang ini dimanfaatkan untuk edukasi kesehatan remaja, dampaknya bisa sangat besar.

Pesantren dapat menjadi:

Di sinilah kesehatan dan keislaman bertemu secara nyata.


Santri Juara: Sehat, Berakhlak, dan Berdaya

Konsep Santri Juara yang digaungkan dalam sesi ini menegaskan bahwa keunggulan santri tidak hanya diukur dari hafalan dan prestasi akademik, tetapi juga dari:

  • kemampuan mengenali diri,

  • kecakapan mengelola emosi,

  • dan kesadaran menjaga kesehatan.

Santri juara adalah mereka yang mampu melalui masa remaja dengan pengetahuan, adab, dan kesiapan menghadapi tantangan hidup.


Penutup: Dari Bireuen untuk Masa Depan

Ketika pesantren, Aisyiyah, dan perguruan tinggi bergerak bersama, kita tidak hanya mendidik santri yang saleh, tetapi juga menyiapkan generasi yang sehat, percaya diri, dan berdaya.

Dan di sanalah makna Santri Juara benar-benar hidup.


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar