![]()
Menulis Merawat Amal Ilmu dan Menjaga Jejak Peradaban
Oleh: A. Rusdiana
Setiap peradaban besar bertahan bukan karena kemegahan bangunan atau hiruk-pikuk popularitasnya, melainkan karena kemampuannya menyimpan pengetahuan dan mewariskannya lintas generasi. Sejarah membuktikan, gagasan yang tidak ditulis mudah hilang ditelan waktu. Sebaliknya, tulisan yang dirawat dengan kesungguhan mampu melintasi zaman. Di sinilah menulis menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar aktivitas literasi, tetapi strategi keberlanjutan peradaban.
Dalam perspektif ilmu sosial, teori cultural transmission menegaskan bahwa nilai, tradisi, dan pengetahuan hanya dapat bertahan bila diwariskan secara sistematis. Menulis menjadi medium transmisi paling kokoh. Melalui teks, ilmu tidak hanya diingat, tetapi ditata, diuji, dan disempurnakan. Sementara itu, gagasan long-termism dalam kajian kebijakan publik mengingatkan bahwa keputusan hari ini memiliki konsekuensi jangka panjang bagi generasi mendatang. Dengan demikian, menulis yang konsisten, jujur, dan berniat lurus adalah bentuk investasi peradaban—melampaui musim popularitas dan sensasi sesaat.
Di ranah pendidikan tinggi, konsep scholarship of engagement yang dipopulerkan Ernest Boyer memandang karya ilmiah sebagai jembatan antara kampus dan masyarakat. Tulisan bukan sekadar produk akademik, melainkan ruang dialog sosial. Ilmu menemukan maknanya ketika hadir untuk menjawab persoalan nyata. Karena itu, menulis sejatinya adalah laku pengabdian.
Momentum ini terasa semakin relevan di bulan Sya’ban. Para filsuf Muslim mengibaratkan Rajab sebagai masa menanam, Sya’ban sebagai masa menyiram dan merawat, serta Ramadan sebagai masa panen. Dalam konteks literasi, menulis di Sya’ban adalah proses merawat: menjaga ritme, menguatkan niat, dan memastikan amal intelektual tumbuh berkelanjutan. Ia mungkin sunyi, tetapi justru di situlah kekuatannya. Dari refleksi tersebut, setidaknya ada lima pembelajaran utama:
Pertama, menulis menanamkan orientasi jangka panjang; Konsistensi menulis seperti perjalanan setahun mempertahankan status Penjelajah mendidik kesabaran berpikir. Kita belajar bahwa nilai tulisan tidak diukur dari viralitas, melainkan dari daya tahan maknanya. Al-Qur’an mengingatkan, “Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah akan kekal” (QS. An-Nahl: 96). Tulisan yang diniatkan sebagai ibadah akan lebih abadi daripada sorotan sesaat.
Kedua, menulis melatih disiplin intelektual; Teori deliberate practice dari Anders Ericsson menegaskan bahwa keunggulan lahir dari latihan terarah dan konsisten. Menulis rutin, walau sedikit, menguatkan struktur berpikir, ketelitian rujukan, serta ketajaman analisis. Disiplin kecil setiap hari lebih berdampak daripada kerja besar yang jarang.
Ketiga, menulis menjaga integritas ilmiah; Di tengah arus informasi cepat, godaan plagiarisme dan manipulasi data semakin nyata. Padahal, Rasulullah ï·º menegaskan pentingnya amanah. Integritas dalam tulisan—jujur pada sumber, adil pada fakta—adalah fondasi keberkahan ilmu.
Keempat, menulis menguatkan kesinambungan generasi; Pengalaman membimbing penulisan disertasi hampir tiga tahun menunjukkan bahwa ilmu tidak berpindah secara instan. Ia tumbuh melalui dialog, koreksi, dan dokumentasi tertulis. Tulisan menjadi jembatan antara guru dan murid, antara pengalaman dan masa depan. Tanpa itu, estafet pengetahuan mudah terputus.
Kelima, menulis memperluas dampak sosial; Tulisan yang mengangkat isu pendidikan, kebangsaan, dan kemanusiaan memperkuat sinergi umat. Ia menenangkan ruang publik, membuka ruang diskusi, serta menumbuhkan empati kolektif. Di sinilah menulis berfungsi sebagai amal jariyah intelektual.
Menjelang Semester Genap 2025/2026, semangat keberlanjutan ini semakin penting. Strategi mempertahankan langkah dari Penjelajah menuju Fanatik dapat dimulai dari hal sederhana: meluruskan niat pengabdian, menjaga etika sumber, memilih isu berdampak, merawat dialog, dan konsisten pada kualitas. Lima prinsip ini menjadikan menulis bukan sekadar aktivitas personal, tetapi gerakan peradaban.
Akhirnya, menulis adalah cara kita berbicara kepada masa depan. Ia menyimpan gagasan hari ini untuk dibaca esok. Di bulan Sya’ban, ketika amal dirawat dengan tekun, menulis menjadi ikhtiar sunyi yang menumbuhkan jejak panjang. Sebab peradaban yang bertahan selalu lahir dari tangan-tangan yang setia menulis pelan, jujur, dan bermakna. Wallahu A’lam