Sumber: Ilustrasi digital (AI-generated) tentang Menulis Melatih Keikhlasan dan Ketahanan Moral, diolah penulis dengan berbantuan AI, tanggal 2 Februari 2026.
Menulis Melatih Keikhlasan dan Ketahanan Moral:
Menjaga Niat, Merawat Amal, dan Menyemai Integritas di Bulan Sya’ban
Di tengah derasnya arus digital, menulis kerap tergoda menjadi sekadar panggung sensasi. Ukuran keberhasilan digeser pada klik, tayangan, dan popularitas. Padahal, bagi penulis yang memandang aktivitas literasi sebagai pengabdian, menulis adalah jalan sunyi: latihan ikhlas sekaligus penguat ketahanan moral. Di ruang inilah pena menjadi cermin batin apakah ia mengejar tepuk tangan atau rida Tuhan.
Rasulullah ï·º mengingatkan, “Innamal a‘malu binniyat” segala amal bergantung pada niatnya (HR. Bukhari-Muslim). Prinsip ini menempatkan menulis bukan sekadar kerja intelektual, melainkan ibadah. Tulisan yang lahir dari niat lurus tidak perlu berteriak; ia menemukan jalannya sendiri, menembus waktu, dan memberi manfaat yang lebih lama daripada sensasi sesaat.
Dalam perspektif psikologi kontemporer, praktik ini sejalan dengan teori grit dari Angela Duckworth yang menekankan ketekunan jangka panjang. Ketahanan moral seorang penulis lahir dari konsistensi, bukan ledakan semangat. Sementara itu, gagasan meaningful work dari Viktor Frankl menegaskan bahwa makna adalah sumber daya jiwa. Ketika menulis dimaknai sebagai pengabdian, lelah berubah menjadi ibadah.
Bulan Sya’ban memberi simbol yang indah: masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan menjadi musim panen iman. Menulis pun demikian. Ia bukan panen instan, melainkan proses menyiram gagasan, memupuk niat, dan menyiangi ego.
Bagi keluarga besar Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) kini memasuki episode ke-90 dengan 2.441 anggota menulis adalah sekolah karakter. Ia membentuk disiplin berpikir, kejernihan bahasa, dan kematangan nurani. Dalam perjalanan pribadi membimbing penulisan disertasi Erwin Muslim sejak 31 Maret 2022 hingga hampir tiga tahun, saya merasakan betul: membimbing tulisan orang lain adalah latihan sabar, tawadhu, dan istiqamah. Menulis bukan sekadar melahirkan teks, tetapi menumbuhkan manusia. Dari pengalaman itu, ada lima pembelajaran penting.
Pertama, niat sebagai fondasi. Al-Qur’an mengingatkan, “Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas” (QS. Al-Bayyinah: 5). Niat yang lurus menahan kita dari plagiarisme, manipulasi data, atau godaan viralitas. Integritas lebih utama daripada popularitas.
Kedua, konsistensi melahirkan ketahanan. Hadis menyebutkan, “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” Menulis rutin—meski satu halaman—lebih kuat dampaknya daripada ambisi besar tanpa disiplin. Inilah fondasi mempertahankan produktivitas, termasuk di Kompasiana.
Ketiga, refleksi menajamkan moral. Menulis esai reflektif membuat kita jujur pada diri sendiri. Dalam teori self-regulation, refleksi membantu mengoreksi niat dan perilaku. Pena menjadi alat muhasabah.
Keempat, makna menguatkan daya juang. Ketika tulisan diniatkan untuk mendidik, menginspirasi, atau melayani umat, kita tak mudah goyah oleh kritik. Seperti kata Frankl, manusia sanggup menanggung “bagaimana pun” jika tahu “mengapa”-nya.
Kelima, komunitas menjaga istiqamah. Berada di PBB, saling mengulas karya, dan berbagi inspirasi menciptakan collective resilience. Ketika satu lemah, yang lain menguatkan. Menulis menjadi gerakan bersama, bukan perjuangan sunyi.
Menjelang Semester Genap 2025/2026, semangat ini relevan bagi pendidik dan mahasiswa. Menulis jurnal belajar, catatan refleksi, atau opini publik membantu merapikan pikiran dan memperkuat karakter akademik. Bagi penulis di Kompasiana yang ingin mempertahankan posisi Penjelajah menuju Fanatik, strateginya sederhana: disiplin publikasi, orisinalitas gagasan (hindari kemiripan lebih dari 20%), rujukan ilmiah yang kuat, serta konsistensi tema. Bangun reputasi bukan lewat sensasi, melainkan kualitas.
Akhirnya, menulis adalah perjalanan ruhani. Ia mengajarkan sabar ketika sepi pembaca, ikhlas ketika tak dipuji, dan tegar ketika dikritik. Sya’ban mengingatkan kita untuk menyiram amal secara diam-diam. Sebab yang sunyi justru paling berakar.
Jika pena dijaga oleh niat, maka tulisan akan menjaga kita dari kehilangan arah. Dan dari lembar-lembar sederhana itulah, ketahanan moral tumbuh pelan, tapi pasti. Wallahu A'lam.