MENULIS MERAWAT ETIKA DAN KUALITAS PERADABAN LITERASI
Dari Sya’ban yang Menyiram Amal Menuju Jejak Ilmu yang Bermartabat
Oleh: A. Rusdiana
Hari ini kita tidak kekurangan tulisan. Setiap menit lahir ribuan opini, unggahan, dan artikel di ruang digital. Namun yang justru langka adalah kualitas dan integritasnya. Bukan soal seberapa banyak kata diproduksi, melainkan seberapa jujur, bertanggung jawab, dan beradab ia ditulis. Di titik inilah menulis berubah makna: dari aktivitas teknis menjadi tanggung jawab peradaban.
Menjelang Semester Genap 2025/2026, tantangan literasi bukan lagi kuantitas, tetapi etika. Plagiarisme, kutipan tanpa sumber, sensasionalisme judul, dan opini tanpa rujukan pelan-pelan menggerus kepercayaan publik. Jika dibiarkan, budaya literasi akan rapuh. Sebaliknya, ketika penulis menjaga kejujuran intelektual, literasi tumbuh bermartabat. Menulis bukan sekadar menyampaikan gagasan, melainkan merawat nilai.
Dalam perspektif teori kontemporer, gagasan ini sejalan dengan cultural transmission: pengetahuan hanya bertahan jika diwariskan secara sistematis dan kredibel. Tanpa integritas, transmisi ilmu akan terputus karena generasi berikutnya tak lagi percaya. Pendekatan long-termism juga mengingatkan bahwa dampak keputusan hari ini terasa jauh di masa depan. Setiap tulisan yang ceroboh mungkin viral sesaat, tetapi merusak fondasi literasi jangka panjang. Sebaliknya, tulisan yang jujur menjadi investasi peradaban.
Tradisi Islam sejak awal menempatkan etika ilmu sebagai fondasi. Al-Qur’an memerintahkan tabayyun verifikasi informasi (QS. Al-Hujurat: 6). Rasulullah ï·º bersabda, “Cukuplah seseorang disebut pendusta ketika ia menceritakan semua yang didengarnya.” Pesan ini sangat relevan di era digital: tidak semua informasi layak dibagikan tanpa klarifikasi. Menulis harus melewati saringan adab.
Momentum Sya’ban memberi kedalaman makna. Para filsuf Muslim menyebutnya masa menyiram dan merawat amal sebelum panen Ramadan. Pada malam Nisfu Sya’ban, ketika doa dan muhasabah dipanjangkan, saya menutup rangkaian khatam dan menulis resensi hikmah Hilyatul Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ Jilid 26. Proses itu terasa seperti latihan etika: membaca dengan teliti, mengutip dengan jujur, menafsirkan dengan hati-hati. Tidak boleh tergesa. Tidak boleh sembarang klaim. Karena menulis hikmah para pendahulu berarti menjaga amanah sejarah.
Di Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) Episode ke-92 dengan 2.444 anggota, kesadaran ini semakin penting. Komunitas literasi bukan hanya tempat berbagi karya, tetapi ruang membangun standar moral. Produktivitas perlu disertai akuntabilitas. Dari sinilah budaya literasi sehat tumbuh. Dari refleksi tersebut, setidaknya terdapat lima pembelajaran operasional:
Pertama, menulis menuntut kejujuran sumber; Setiap kutipan adalah amanah. Menyebut rujukan berarti menghormati kerja intelektual orang lain sekaligus menjaga martabat diri sendiri. Ketika menuntaskan resensi 26 jilid, saya merasakan betapa pentingnya ketelitian mencatat asal hikmah, nama tokoh, dan konteks kisah. Tidak semua kalimat boleh diparafrasekan sembarangan. Ada tanggung jawab moral agar makna tidak melenceng. Proses itu mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menjaga kejujuran sejarah. Dengan menyebut sumber secara terang, penulis sedang membangun kepercayaan pembaca, sekaligus merawat rantai sanad keilmuan agar tidak terputus oleh kelalaian.
Kedua, menulis melatih verifikasi fakta; Tabayyun menjadi kebiasaan, sehingga opini tidak dibangun di atas rumor. Saat membaca puluhan kisah dalam 26 jilid, saya tak bisa langsung percaya pada ingatan semata. Setiap detail perlu dicek ulang: tahun, peristiwa, dan penafsiran. Saya membandingkan edisi, membuka catatan kaki, bahkan menelusuri referensi tambahan. Kebiasaan ini melatih kesabaran intelektual. Menulis pun berubah menjadi kerja klarifikasi, bukan sekadar ekspresi. Dari proses itu lahir sikap hati-hati: jangan tergesa menyimpulkan. Verifikasi membuat tulisan kokoh, sehingga pembaca menerima bukan sekadar cerita, tetapi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, menulis membangun disiplin kualitas; Revisi, penyuntingan, dan perapian argumen menjaga standar akademik. Tidak ada naskah yang langsung sempurna, termasuk resensi panjang 26 jilid. Draf pertama sering terasa berantakan: kalimat terlalu panjang, ide tumpang tindih, atau makna kurang tajam. Maka saya belajar memotong, menyederhanakan, dan menyusun ulang. Setiap perbaikan kecil membuat tulisan lebih jernih. Disiplin kualitas ini seperti mengasah pisau: perlahan namun pasti. Dari situlah terbentuk kebiasaan profesional tidak puas dengan cukup, tetapi terus memperbaiki. Menulis menjadi latihan ketekunan, bukan sekadar pelampiasan inspirasi sesaat.
Keempat, menulis menumbuhkan adab dialog; Kritik disampaikan santun, perbedaan dihadapi dewasa, bukan emosional. Ketika meresensi kisah para ulama dan sufi, saya menyadari bahwa setiap pembaca memiliki tafsir berbeda. Tulisan pun harus membuka ruang dialog, bukan merasa paling benar. Saya belajar menyusun argumen dengan bahasa lembut, menghargai pendapat lain, serta siap menerima koreksi. Adab ini penting agar literasi tidak berubah menjadi ajang debat panas. Menulis menjadi jembatan, bukan tembok. Dari sikap dialogis itu, pengetahuan berkembang bersama, dan komunitas literasi tumbuh saling menguatkan.
Kelima, menulis membentuk reputasi jangka panjang; Integritas yang konsisten lebih bernilai daripada popularitas sesaat. Resensi 26 jilid bukan proyek instan; ia lahir dari ketekunan berbulan-bulan. Dari situ saya belajar bahwa reputasi penulis dibangun pelan, melalui kerja sunyi yang berulang. Pembaca mungkin lupa satu artikel viral, tetapi akan mengingat konsistensi kualitas dan kejujuran. Reputasi tumbuh dari kepercayaan. Ketika tulisan selalu dapat dipertanggungjawabkan, nama penulis ikut terjaga. Pada akhirnya, yang bertahan bukan sensasi, melainkan karakter. Menulis pun menjadi warisan moral—jejak yang tetap dihargai jauh setelah waktu berlalu.
Bagi seorang Penjelajah di Kompasiana yang perlahan menapaki jenjang Fanatik, etika menjadi kompas utama. Bukan sekadar banyaknya tulisan, tetapi kualitasnya. Bukan sekadar hadir setiap hari, tetapi memberi manfaat. Seperti proses panjang membimbing disertasi sejak 2022 hingga 2026, saya belajar bahwa ilmu bertahan bukan karena cepat, melainkan karena benar.
Pada akhirnya, menulis adalah cermin karakter. Ia memperlihatkan siapa kita sebenarnya: tergesa atau teliti, sensasional atau bertanggung jawab. Dari Sya’ban yang menyiram amal, mari rawat literasi dengan etika. Sebab hanya tulisan yang bermartabatlah yang mampu menjaga keberlanjutan peradaban. Wallahu A’lam