JAS Merah Putih: Hari ini, pukul 08.00 tepat. Di saat Matahari pagi di Pekanbaru sudah ramah menyapa, menyinari trotoar yang mulai ramai oleh langkah-langkah bersemangat. Mereka datang dari berbagai instansi, dengan sepatu yang nyaman dan senyum yang lepas. Ini bukan rapat dinas, bukan juga pelatihan formal. Ini adalah JAS Merah Putih (Jalan Sehat) yang rutin menyatukan para ASN dalam ritme langkah yang sama.
Di grup WhatsApp, obrolan sudah ramai sejak subuh. Dimulailah percakapan sederhana:
“Mengapa kalau aku gak ada, tapi dayang-dayangnya banyak”
tulis Pak Angga, disusul canda rekan-rekan lain yang menyahut.
“Bukan karena Angga tak ada, karena pawangnya Bang Eka ikut jalan,”
balas Deni Up, disambut tawa emoji di layar.
Percakapan itu mungkin terlihat biasa, tetapi disitulah esensinya: kebersamaan. JAS Merah Putih bukan hanya tentang berjalan, tetapi juga tentang merajut ikatan yang lebih manusiawi di luar rutinitas kantor.
Pukul 08.08, Pak Angga mengingatkan:
“Oki, kloter dua jam 8.45 ya. Abang OTW.”
Lalu, satu per satu datang (dari yang muda), yang lebih senior, yang biasa diam di rapat, hingga yang selalu riang bercerita. Mereka semua punya satu tujuan pagi itu: melangkah bersama.
Saya sendiri membuka aplikasi pelacak aktivitas di ponsel. Target hari ini: 6.000 langkah. Tidak muluk-muluk, tapi cukup untuk mengawali hari dengan energi positif. Dan hari ini, saya memutuskan untuk bergabung dengan “kloter” pagi JAS Merah Putih.
Langkah pertama terasa berat (otot masih kaku), pikiran masih penuh dengan daftar kerja. Tapi setelah sepuluh menit, sesuatu berubah. Napas mulai teratur, pandangan menjadi lebih jelas, dan tawa-tawa kecil dari rekan di samping mulai menular.
Kami berjalan pelan, menyusuri rute yang sudah familiar. Ada yang bercerita tentang proyek baru, ada yang berbagi resep sehat, ada pula yang sekadar mendengarkan sambil menikmati udara pagi. Tidak ada tekanan, tidak ada hierarki. Hanya manusia, langkah, dan cerita.
Di tengah jalan, saya menengok lagi aplikasi saya:
4.151 langkah.
Waktu aktif: 41 menit.
Kalori aktivitas: 159 kkal.
Angka-angka itu tidak sekadar statistik, melainkan bukti bahwa setiap langkah punya arti.
Dan ketika perjalanan berakhir, layar ponsel saya menampilkan pencapaian hari itu:
Total kalori terbakar: 701 kkal.
Jarak tempuh aktif: 3,08 km.
Tapi lebih dari angka-angka itu, yang terasa adalah kepuasan batin. Kepala terasa lebih ringan, hati lebih lapang, dan semangat kerja kembali menyala. Ini bukan hanya tentang membakar kalori, tetapi juga tentang membakar stres, kecemasan, dan jarak yang kadang muncul di antara kita sebagai rekan kerja.
JAS Merah Putih mengajarkan satu hal sederhana: kesehatan tidak harus rumit. Ia bisa dimulai dari hal kecil (dari memutuskan) untuk bangun lebih pagi, memakai sepatu, dan melangkah keluar rumah. Seperti kata Bang Deni dalam candanya:
“Iko calon kena kick? Coliok lah!”
Ya, mari kita “coliok” mari kita bergerak, sebelum tubuh dan pikiran kita yang “di kick” oleh burnout.
Mungkin kita sering berpikir bahwa untuk sehat butuh waktu khusus, biaya mahal, atau motivasi tinggi. Padahal, sehat bisa dimulai dari kebersamaan kecil seperti ini. Dari sekelompok orang yang sepakat untuk melangkah bersama, sambil bercanda, berbagi, dan saling menyemangati.
JAS Merah Putih bukan hanya komunitas jalan sehat. Ia adalah ruang di mana ASN bisa kembali menjadi manusia utuh (yang butuh bergerak), butuh tertawa, dan butuh merasa berarti.
Jadi, bagaimana dengan Anda?
Sudah berapa langkah hari ini?
Apakah di instansi Anda ada kegiatan serupa?
Atau mungkin Anda ingin memulai gerakan jalan sehat sendiri?
Mari berbagi cerita, pengalaman, atau sekadar motivasi di kolom komentar. Siapa tahu, dari obrolan ringan ini, akan lahir lebih banyak lagi “JAS Merah Putih” di kota-kota lain.
Sehat itu dimulai dari satu langkah. Dan langkah itu lebih bermakna ketika dilakukan bersama.