MENULIS MENJAGA INGATAN KOLEKTIF: Dari Sya’ban Menuju Warisan Peradaban Pendidikan
Oleh: A. Rusdiana
Bulan Sya’ban selalu menghadirkan suasana berbeda. Ia tidak seramai Ramadan dan tidak seformal Rajab. Sya’ban lebih menyerupai ruang sunyi tempat kita menyiram benih yang telah ditanam. Amal dirawat, niat dibenahi, dan arah hidup ditata ulang. Dalam suasana inilah refleksi pendidikan terasa semakin mendesak. Sebab, seperti pernah diingatkan Imam Suprayogo, pendidikan kita sesungguhnya “sedang sakit di bagian hati”; terlalu sibuk mengukur gejala, namun lupa menyentuh sumber penyembuhan ruhani.
Fenomena ini tampak jelas di masyarakat pendidikan. Laporan menumpuk, program berganti, tetapi nilai sering tercecer. Minat menulis reflektif masih rendah, karena menulis kerap dipandang sebagai kerja tambahan, bukan kebutuhan batin. Padahal, menulis bisa menjadi terapi ruhani cara merawat kesadaran dan menyembuhkan kelelahan moral. Tanpa dokumentasi nilai, pendidikan kehilangan memori dan arah.
Memasuki Semester Genap 2025/2026 dan awal tahun 2026, kesadaran itu semakin kuat dalam perjalanan menulis saya di Kompasiana dari Penjelajah menuju Fanatik makna. Konsistensi menulis bukan semata mengejar peringkat, melainkan ikhtiar menjaga agar gagasan tidak hilang ditelan waktu. Dari sini saya menyadari: menulis adalah kerja ingatan kolektif.
Secara teoretis, gagasan ini sejalan dengan teori memori kolektif yang dikemukakan Maurice Halbwachs. Ia menegaskan bahwa ingatan sosial tidak hidup di kepala individu semata, tetapi dijaga melalui simbol, teks, dan narasi bersama. Tanpa dokumentasi, pengalaman kolektif akan terfragmentasi. Dalam konteks pendidikan, tulisan berfungsi sebagai pengikat nilai lintas generasi menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan.
Kesadaran ini semakin diperteguh ketika membaca Hilyatul Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani. Ribuan biografi ulama dan wali dihimpun dengan ketekunan luar biasa. Itu bukan kerja romantik sejarah, melainkan kerja peradaban. Abu Nu’aim tidak sekadar mencatat nama; ia menjaga memori moral umat. Tanpa dokumentasi itu, keteladanan generasi awal Islam mungkin hanya menjadi kisah lisan yang cepat pudar.
Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya pencatatan. Dalam ayat terpanjang, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (QS. Al-Baqarah: 282). Jika urusan ekonomi saja diperintahkan untuk dicatat, apalagi nilai, ilmu, dan amal kebaikan. Bahkan wahyu pertama dimulai dengan perintah membaca, yang secara implisit mengandaikan budaya literasi dan dokumentasi. Dari refleksi ini, setidaknya terdapat lima pembelajaran operasional tentang menulis sebagai penjaga ingatan kolektif.
Pertama, menulis mengabadikan teladan. Pengalaman baik sering hilang jika tidak dicatat. Tulisan membuat nilai hidup lebih lama daripada pelakunya.
Kedua, menulis menyambung generasi. Gagasan yang terdokumentasi memungkinkan generasi berikutnya belajar tanpa harus mengulang dari nol.
Ketiga, menulis merawat identitas pendidikan. Lembaga yang menulis refleksi dan praktik baiknya memiliki arah nilai yang lebih jelas.
Keempat, menulis melatih tanggung jawab moral. Setiap kata adalah amanah, sehingga penulis terdorong menjaga kejujuran dan etika.
Kelima, menulis menjadi amal jariyah intelektual. Ilmu yang bermanfaat terus bekerja meski penulisnya telah tiada.
Di sinilah makna Sya’ban menemukan relevansinya. Para filsuf Muslim mengingatkan, “Sya’ban adalah masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan menjadi musim panen iman yang matang dan bermakna.” Menulis di bulan ini bukan sekadar produktivitas, melainkan perawatan niat.
Bagi penulis di Kompasiana, strategi menuju konsistensi juga perlu disadari: fokus pada mutu, disiplin sumber, memilih isu berdampak, dan merawat dialog sehat. Dengan cara itu, menulis tidak menjadi proyek sesaat, tetapi laku berkelanjutan.
Akhirnya, menulis menjaga ingatan kolektif bukan hanya tugas intelektual, melainkan panggilan peradaban. Pendidikan yang kehilangan ingatan akan kehilangan arah. Dan di tengah ruang sunyi Sya’ban, menulis menjadi cara sederhana untuk memastikan nilai tetap hidup lintas waktu, lintas generasi. Wallahu A’lam