Banyak orang masih mengira bahwa ketika seseorang menggunakan narkotika, ia otomatis “jauh dari agama”. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Data menunjukkan sekitar 95% pengguna narkotika menganggap agama sebagai elemen penting dalam hidup mereka. Artinya, iman tidak hilang hanya karena seseorang berhadapan dengan zat adiktif. Yang sering hilang justru rasa aman untuk mendekat ke ruang-ruang keagamaan.
Masalahnya bukan karena mereka tak butuh agama, tetapi karena takut dihakimi. Pengalaman stigma dan diskriminasi masih sering dialami. Namun yang menarik, di tengah pengalaman pahit itu, 43% pengguna narkotika justru berharap pemuka agama mau turun tangan membantu dan mendukung mereka. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menemani. Bukan untuk menasihati dari atas mimbar, tapi untuk mendengar dari dekat.
Fenomena ini sebenarnya sejalan dengan temuan penelitian di kelompok rentan lain, misalnya pada orang dengan HIV. Studi yang dipublikasikan UMJ tentang religiusitas pada homoseksual dengan HIV menunjukkan bahwa banyak dari mereka tetap memelihara relasi personal dengan Tuhan, meski harus berjuang dengan rasa bersalah, konflik batin, dan penolakan sosial. Penelitian lain tentang pengalaman lelaki suka lelaki (LSL) dengan HIV bahkan menemukan bahwa setelah diagnosis, sebagian justru semakin mencari makna hidup, dukungan sebaya, dan pegangan spiritual.
Jadi persoalannya bukan “agama tidak relevan”, melainkan cara agama dihadirkan. Ketika agama datang dalam bentuk stigma, orang menjauh. Tapi ketika agama hadir sebagai ruang aman, penuh empati, dan manusiawi, ia justru bisa menjadi sumber kekuatan yang luar biasa. Di titik inilah peran pemuka agama jadi krusial: bukan sebagai hakim moral, tapi sebagai teman seperjalanan dalam proses pemulihan.